Refleksi Pasca 2 Tahun lebih Bebas dari Penjara (3-End)

By

Saya kemudian mengajukan sebuah proposal kegiatan untuk melakukan riset ke beberapa napiter dan eks napiter guna mengumpulkan kisah hidup mereka untuk menyusun sebuah buku tentang proses perjuangan seorang napiter/eks napiter. Di mana diharapkan dari kisah-kisah mereka itu didapatkan beberapa formula yang tepat dalam menangani napiter/eks napiter.

Proposal itu langsung disetujui oleh Doktor Noor Huda Ismail. Beliau sangat yakin pasti akan ada multiple effect dari kegiatan yang akan saya lakukan itu.

Beberapa bulan terakhir sejak Maret 2019 saya mengunjungi beberapa kawan, baik yang masih dipenjara maupun yang sudah bebas untuk silaturahmi. Dari cerita kawan yang masih dipenjara dan yang sudah bebas itu, selain dapat life history bagaimana mereka bisa terlibat, saya juga mendapatkan keluhan-keluhan atau kendala yang mereka hadapi.

Beberapa permasalahan yang mereka hadapi itu rata-rata sama meskipun berbeda-beda bentuknya. Masalah untuk yang masih dipenjara selalunya hanya seputar konflik pemikiran dengan kawan yang berbeda pendapat, persoalan tentang keluarga yang mereka tinggalkan, dan kegalauan akan stigma masyarakat ketika mereka bebas nanti.

Sedangkan masalah yang dihadapi teman-teman yang sudah bebas rata-rata adalah masalah stigma masyarakat, kesulitan mendapatkan pekerjaan, dan masalah rumah tangga.

Dari life hitory dan permasalahan yang mereka hadapi itu saya mendapatkan banyak tambahan pengetahuan untuk saya sampaikan kepada masyarakat dan pihak-pihak yang membutuhkan. Selain itu juga mendapatkan beberapa pemikiran untuk membantu mengurangi permasalahan yang mereka hadapi itu. Yang mana sebenarnya itu adalah permasalahan dalam penanganan radikalisme/terorisme di negara ini.

Salah satu ide besar yang kemudian saya sampaikan kemana-mana adalah pentingnya peran masyarakat dalam penanganan, penanggulangan, dan pencegahan radikalisme/terorisme. Untuk itu masyarakat harus diedukasi.

Dan ide ini alhamdulillah disambut sangat antusias oleh berbagai pihak. Mulai dari pemkab daerah saya, komunitas-komunitas, sampai aparat keamanan. Jadinya ide inilah yang coba saya jual kemana-mana. Selain melibatkan saya, dalam program edukasi masyarakat ini saya ingin melibatkan kawan-kawan eks napiter yang saya kenal dan layak untuk itu.

Nah, inilah yang membuat saya senang dan bangga. Saya menjadi lebih berharga bagi orang lain, lebih banyak pihak yang memperloleh manfaat dari apa yang saya lakukan, dan yang paling penting: saya happy menjalaninya.

Bisa jalan-jalan ketemu banyak orang dan ada yang bayarin karena ide dan pengetahuan yang dianugerahkan Allah SWT kepada saya. Di samping itu ini adalah kesempatan saya menjalin relasi yang seluas-luasnya sebagai bagian dari infrastruktur kemakmuran yang harus saya bangun untuk masa depan. Dan infrastruktur kemakmuran yang paling penting di era industri 4.0 adalah kemampuan kolaborasi.

Berbekal ide dan pengetahuan yang khas saya mencoba mengasah kemampuan kolaborasi saya sebelum nantinya akan memulai sebuah bisnis yang bisa menopang operasional saya dalam berkhidmat untuk kemaslahatan umat.

Saya juga sama sekali tidak kecewa buku saya tidak jadi terbit di tahun 2019. Karena Allah SWT memberikan yang lebih baik. Yaitu bertambahnya relasi dan kemanfaatan yang bisa saya berikan kepada orang lain.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

18 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like