Harapan adalah Penguat Kesabaran

Mereka menganggap proses melalui pendidikan dan lain-lain itu terlalu lama. Dan pada saat yang sama mereka menerima narasi alternatif bahwa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan adalah dengan menumbangkan sistem yang sedang berjalan dengan jalan memeranginya. Memerangi penguasa dan para pendukungnya yang melanggengkan sistem tersebut.

By

Semua orang pasti pernah mengalami kondisi menunggu sesuatu yang diinginkan atau dibutuhkan. Siapa sih yang tidak pernah menunggu? Pada dasarnya semua manusia itu hidupnya adalah menunggu.

Masih di kandungan menunggu dilahirkan. Sudah lahir menunggu mati. Sudah mati menunggu hari kebangkitan. Sudah dibangkitkan menunggu pengadilan Tuhan. Sudah diadili masih menunggu lagi antri masuk surga yang tak jarang harus mampir neraka dulu karena masih ada dosa – dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini-.

Semua pasti menunggu karena segala sesuatu itu ada prosesnya. Bahkan sulap atau sihir yang biasa ditonton di pertunjukan-pertunjukan yang menurut kita bisa terjadi sekejap saja tetap butuh proses. Membalikkan telapak tangan yang biasa jadi ungkapan “tak semudah membalik telapak tangan” saja butuh proses, butuh energi.

Bedanya antara proses satu dengan yang lain adalah waktu tempuhnya. Ada yang lama, ada yang agak lama, ada yang sebentar dan ada yang sekejap saja.

Semakin lama proses menunggu semakin banyak energi yang dibutuhkan. Karena ada usaha yang dilakukan dalam proses menunggu itu. Kaya, sukses, jodoh, dan lain-lain adalah sesuatu yang ditunggu. Tetapi semua juga tahu bahwa ‘menunggu’ itu berarti harus ada usaha yang dilakukan. Ada proses yang harus dijalani.

Persoalan baru muncul ketika mulai muncul banyak penghalang dalam proses menunggu itu. Selalu ada hal-hal lain yang bisa mengalihkan atau membuat seseorang tidak sabar menjalani proses yang sedang dijalani.

Sebuah contoh ilustrasi : Seseorang yang menunggu kedatangan seorang pimpinan perusahaan untuk bertemu dalam sebuah urusan bisnis yang akan dikerjakan bersama. Dari sekretarisnya diketahui bahwa sang pimpinan sedang ada meeting dengan pejabat yang tidak diketahui kapan selesainya.

Karena punya harapan urusan akan bisa selesai hari itu jika bisa bertemu dengan sang pimpinan kantor, maka orang tersebut akan mau menunggu. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Ada rekan bisnis yang ingin bertemu secepatnya untuk membicarakan bisnis baru.

Pada saat itu pikirannya mulai goyah. Antara meneruskan rencana bisnis dengan pimpinan perusahaan yang sedang ditunggu, atau memilih rekan bisnis baru yang kelihatannya juga menjanjikan.

Pada saat itu mulailah orang itu berfikir keras untuk membuat pilihan. Ia kemudian mempertimbangkan beberapa faktor yang telah ia ketahui dari kedua belah pihak. Misalnya yang sedang ia tunggu memiliki reputasi perusahaan yang cukup mumpuni tetapi menjanjikan keuntungan yang kecil namun lebih terjamin kelanggengan kerjasamanya. Sedangkan yang menawarkan bisnis baru itu menjanjikan keuntungan yang jauh besar namun tidak ia ketahui reputasi perusahaannya. Sementara pilihan harus dibuat secepatnya.

Pada saat seperti itu, setiap orang berpotensi untuk salah membuat pilihan. Jika ia mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa memperhitungkan reputasi partner bisnisnya, maka kemungkinan ia gagal juga besar. Dan jika ia memilih dapat keuntungan sedikit tapi lebih terjamin, maka konsekwensinya ia butuh waktu lebih lama untuk mencapai tujuannya.

***

Demikian pula sebenarnya yang terjadi pada para pelaku violence extrimisme. Mereka punya harapan dapat memberi solusi bagi permasalahan yang dihadapi umat. Banyak jalan yang sebenarnya bisa ditempuh. Semisal melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, memperbaiki hubungan sosial kemasyarakatan, dan seterusnya.

Tetapi mereka kemudian menganggap jalan-jalan itu terlalu panjang. Terlalu lama. Dan anggapan ini lahir dari kebodohan. Mereka ingin jalan pintas agar bisa disebut pahlawan. Agar terlihat keren. Atau mungkin hanya sekedar agar terlihat beda.

Pemikiran itu lantas bertemu dengan narasi propaganda kelompok pelaku violence extrimisme di ranah online dan offline. Maka jadilah mereka termakan oleh propaganda itu sampai bersedia melakukan tindakan radikal.

Mereka menganggap proses melalui pendidikan dan lain-lain itu terlalu lama. Dan pada saat yang sama mereka menerima narasi alternatif bahwa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan adalah dengan menumbangkan sistem yang sedang berjalan dengan jalan memeranginya. Memerangi penguasa dan para pendukungnya yang melanggengkan sistem tersebut.

Mereka tidak sabar menjalani proses yang lebih panjang. Apalagi ditambah kesulitan hidup yang mereka hadapi. Mereka sulit bersabar karena harapan mereka lemah. Harapan yang lemah karena gelapnya kebodohan sehingga tidak mampu melihat secercah sinar diujung lorong yang panjang.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

twenty − thirteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like