Fokus Hal-Hal Baik agar Tidak Galau

By

Saya tidak paham kenapa ada orang-orang yang berisik sekali bilang Indonesia ini bisa jadi radikal, intoleransi, dan lain sebagainya. Apa sih maksudnya? Apakah orang-orang ini tidak melihat realitasnya? Padahal sebenarnya negeri kita ini sesungguhnya sangat toleran dan moderat. Mari kita lihat beberapa buktinya:

1. Tidak ada yang mengharamkan foto, musik, film dan sebagainya.

Ada memang yang berpendapat begitu, tapi mayoritas tidak. Fokuslah ke yang tidak. Kalau cuma fokus ke yang melarang, bahkan di Amerika, Eropa, Australia ada yang mengharamkan novel Harry Potter.

2. Toko-toko ramai, siapapun pemiliknya.

Saya tidak pernah menemukan pembeli yang bertanya dulu, ‘kamu dari ras mana? Oh China, oh Jawa, oh Padang’ kepada pemilik toko saat mau belanja. Sepanjang harga bagus, kualitas terjamin, layanan oke, siapapun bisa berdagang, dan berbisnis di negeri ini. Secara nasional, tidak ada peraturan yang mengutamakan ras tertentu. Di negara-negara lain, banyak yang punya UU khusus, ‘mengutamakan’ pribumi. Di negeri ini tidak. Bahkan di negeri ini, penguasaan aset raksasa bisa dikuasai oleh siapapun.

3. Siapapun bisa mengeluarkan pendapat.

Siapapun bisa melakukan demontrasi, dan lain-lain, sepanjang sesuai peraturan yang ada. Sedikit sekali negara di dunia ini yang bisa begitu. Tetangga sebelah, yang konon makmur dan modernnya luar biasa, jangan coba-coba kritik pemerintahnya lewat blog dll, bisa masuk penjara.

4. Pekerjaan kreatif sangat terbuka.

Film misalnya, saya nggak habis pikir jika ada yang bilang Indonesia itu tidak toleran. Semua orang bebas-bebas saja membuat film apapun. Tidak ada yang akan bertanya tentang apa agama, ras, dll saat menonton, tetap laku kalau penontonnya suka. Penonton film di Indonesia (terutama remaja), sangat toleran dan moderat. Lagi-lagi jangan fokus ke kelompok kecil yang menolaknya.

5. Saat azan tiba, tidak ada kewajiban menutup atau menghentikan aktivitas.

Saat Ramadhn datang, pun tidak ada yang meminta tutup total toko-toko, hanya menyesuaikan sedikit. Berpuluh tahun berlalu, semua berjalan baik-baik saja. Kita saling menghormati, saling menenggang rasa. Istilah anak mudanya, ‘tahu sama tahu’. Sekali lagi, jangan fokus ke kelompok kecil yang memaksakan pendapatnya.

6. Teroris mengatasnamakan Islam ?

Duh, jika pelaku teroris hanya 500-1000 orang, bandingkan dengan 200 juta lebih penduduk muslim di Indonesia, itu hanya nol koma sekian persen saja. Lagipula, saya rasa semua agama, semua ras, semua suku, juga punya teroris. Naif sekali jika ada yang bilang, di agama saya tidak ada terorisnya.

7. Perbedaan menjadi anugerah.

Saya rasa, tidak ada yang ngotot sekali di negeri ini karena perbedaan. Ada memang yang lebay sekali, sampai tega memakai kekerasan, tapi mayoritas tidak. Pun sama, jika terjadi kasus-kasus spesifik, memang ada yang over sekali, tapi lagi-lagi mayoritas tidak begitu.

8. Kebebasan beribadah.

Ini juga menarik kalau kita semua mau terus terang, buka semua fakta. Secara keseluruhan, di negeri ini orang-orang bebas beribadah. Itu fakta. Tapi, kalau mau fokus ke kasus per kasus, memang ada masalahnya. Indonesia itu sangat luas dan beragam.

Di Jawa, Islam mayoritas. Di Papua, NTT, Kristen mayoritas. Di Bali, beda lagi. Makanya, ini menarik kalau mau jujur dan membuka matanya. Jangan fokus ke masing-masing yang merasa paling dirugikan. Sekali lagi, secara keseluruhan di negeri ini orang-orang bebas beribadah.

Maka dari poin-poin di atas, dapat disimpulkan bahwa negeri kita ini sudah sangat moderat dan toleran. Berpuluh tahun kita semua merawat hal tersebut. Berhentilah men-judge, memberikan stereotype, atau mem-bully sana-sini, seolah penduduk tertentu, kelompok tertentu itu tidak toleran.

Saya bisa katakan, dari 180 lebih negara di dunia, salah-satu yang moderat dan toleran adalah negeri ini. Mari kita rawat bersama. Semua hal-hal baik bisa langgeng jika kita belajar lagi saling menghormati.

Jangan malah dikit-dikit bilang, “kamu tahu Suriah dulu kayak apa”. Atau jangan dikit-dikit bilang, “Indonesia ini bisa kayak Afganistan, dll”. Aduhai, jangan-jangan orang itu yang sebenarnya berharap Indonesia jadi kayak Suriah? Karena mayoritas penduduk di negeri ini, lebih suka hidup damai, bertetangga dengan baik. Jangan-jangan orang itu yang bahkan tetangga sebelah rumah kagak kenal, tapi di medsos belagak paling toleran.

Menurut saya orang yang berisik sekali mengaku paling toleran, boleh jadi dialah yang sebenarnya tidak toleran. Orang yang sibuk sekali menuduh orang lain radikal dan sebagainya, justru bisa jadi dialah yang sebenarnya sedang radikal.

Note : Tulisan ini disadur dari sebuah tulisan di Fans Page Penulis Tere Liye dengan beberapa penyesuaian.

 

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

nine − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like