Bingung Jelang Bebas Penjara

By

Salah satu mantan terpidana terorisme, pernah bercerita kepada saya. Orang-orang yang di dalam penjara, pada konteks menjalani hukuman pidana, khususnya kasus terorisme, itu kerap bingung ketika akan bebas.

Loh bebas kok bingung? Bukannya malah seneng ya? Ya tentu saja seneng akan bebas, tapi persoalan selanjutnya yang dipikirkan mereka adalah: apakah akan diterima oleh keluarga? Oleh masyarakat umum? Oleh lingkungan?

Selanjutnya, bagaimana nanti cara menopang ekonomi keluarga? Barangkali, hal terakhir itu yang paling bikin pusing kepala. Eks terpidana terorisme itu bisa bercerita begitu, karena dia juga pernah mengalaminya.

“Mereka yang akan bebas juga sebenarnya rawan, kalau tidak diterima sana-sini, bisa-bisa didekati lagi oleh kelompoknya (yang masih radikal), bisa kembali lagi ke jaringan kalau tidak punya pilihan,” kata sumber itu kepada saya.

Memang masuk akal, jangankan terpidana terorisme, terpidana kasus lain juga terbilang mengalaminya. Sebut saja kasus peredaran gelap narkotika atau bahkan copet pun bisa mengalami demikian. Persoalannya sama: bingung bagaimana menjalani kehidupan pascabebas.

Salah satu kakek yang pernah saya liput di Polsek Semarang Tengah, berkali-kali masuk penjara karena nyopet. Kakek itu sebatang kara. Pada sebuah wawancara di kantor kepolisian, si Kakek menyebut: lebih enak masuk penjara, sebab ada tempat untuk tidur dan makan gratis. Nah!

Kembali ke cerita mantan terpidana terorisme itu. Sebab dia pernah merasakan hal yang sama, kegalauan, akhirnya kini dia sering berkunjung ke penjara-penjara, menemui orang-orang yang khususnya akan bebas.

“Mending saya duluan yang masuk, daripada didekati lagi oleh jaringan? Saya ingin mereka tidak mengulangi lagi perbuatannya,” sambung sumber itu.

Barangkali, ini adalah pekerjaan rumah bagi kita bersama. Mengandalkan pemerintah saja tentu tidak akan bisa. Perlu peran masyarakat luas. Setidaknya, menerima mereka kembali di tengah lingkungan, syukur-syukur yang berkelebihan rezeki bisa mempekerjakannya agar dia punya pendapatan untuk kemudian perlahan menata hidup barunya.

 

Foto Ruangobrol.id/Eka Setiawan

Gerbang pemeriksaan untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

14 − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like