Euforia

Belajar Tidak Terbawa Euforia Berlebihan

By

Apa yang salah dengan Euforia? Tentu tidak salah selama itu tidak berlebihan. Kita bisa mencontoh salah satu pelatih Rusia, Stanislav Cherchesov. Para warga Rusia kala itu sedang mengalami sebuah euforia setelah tim rusia berhasil mengalahkan Spanyol. Menurut pelatih, mereka harus konsentrasi untuk pertandingan selanjutnya melawan Kroasia. Euforia itu bisa sangat berbahaya.

Euforia menurut KBBI berarti suatu perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Euforia itu sudah cukup berlebihan, jadi jangan ditambah berlebih lagi apalagi membuat “lupa diri”.

Ketika masih di Suriah tahun 2015, saya merasakan dampak Euforia berlebihan. Saat itu ISIS dapat mengambil alih Kota Palmyra. Kota Palmyra adalah sebuah kota di provinsi Homs, Suriah, yang dicetuskan sebagai situs arkeolog atau warisan budaya UNESCO. Ada peninggalan sejarah yang tertanam disana.

Kalau tidak salah selepas maghrib, mulai terdengar bunyi rentetan tembakan. Tembakan atau bom memang sudah menjadi makanan sehari hari. Tapi kali ini beda banget. Bunyi tembakan senapan, terus terusan berbunyi.

Kami sekeluarga mulai panik dan ketakutan. Apa yang ada dalam pikiran kami adalah musuh telah masuk ke kota. Kami harus segera mengungsi ke rumah tetangga kami, warga sipil yang sudah sangat dekat dengan kami. Kami langsung membereskan segala tas dan peralatan lainnya. Ketika kami semua sudah bersiap dan berkumpul di ruang tamu, dua orang diantara kami mencoba memeriksa keluar rumah dan nertanya ke tetangga. Ternyata, itu adalah tembakan pesta kemenangan.

Nampaknya banyak warga yang belum paham tentang ini. Sehingga ada yang ikut ikutan memuntahkan peluru senapan mereka dari balkon rumah mereka dan di jalanan. Emang harus banget kemenangan dilakukan dengan seperti itu? Masyarakat jadi takut. Yang paling ngeri, bisa menarik perhatian pesawat tempur musuh mereka. Bukankah itu suatu tindakan mubazir? Tidak kah cukup dengan bertakbir dan mengucapkan syukur, atau dengan memperbaiki diri mereka?

Nyatanya, Palmyra tidak lama berada di tangan isis. Pada Maret 2016, Palmyra kembali direbut oleh Rusia dan sekutunya. Salah satu kota berharga di Suriah itu memang menjadi rebutan banyak pihak.

ISIS tak kalah diam. Desember 2016, ISIS kembali merebutnya. Mereka kembali mengadakan selebrasi kemenangan. Benar saja, hal yang kami khawatirkan terjadi. Beberapa jam setelah pesta kemenangan itu, kota kami dibombardir oleh pesawat tempur. Mancing terus. Masyarakat jadi korban lagi. Dan ternyata, 3 bulan setelahnya yaitu bulan Maret 2017 Palmyra direbut kembali oleh Rusia dan sekutunya.

Kalau mau lihat sejarah nabi Muhammad, sebagaimana yang dikutip Tirto, dalam euforia kemenangan Perang Badar yang tak terduga ini, Nabi bersungguh-sungguh melihat ke depan untuk rekonsiliasi akhir. “Seusai perang, Rasulullah justru memperlakukan kaum musyrik dengan baik untuk memulihkan harga diri mereka yang hancur disebabkan kekalahan Perang Badar,” tulis Muhammad Fethulleh Gulen dalam Cahaya Abadi Muhammad (2012).

Kemenangan kaum muslimin pada akhirnya berdampak luar biasa terhadap umat Islam. Kemenangan ini meningkatkan kepercayaan diri dan keimanan mereka mengalahkan musuh. Selain itu, umat Islam juga dipandang sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Kemenangan ini pun memperkuat otoritas Muhammad sebagai pemimpin dari pelbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

five × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like