Pengalaman Returnees Kena Doktrinisasi Kelompok Ekstrimis

By

Lagi lagi dan lagi. Sebuah bom bunuh diri terjadi lagi di kantor polisi. Seorang pelaku masih terbilang muda bersembunyi dibalik kostum driver ojol, yang mana tidak ada orang yang menaruh curiga atasnya. Stealth mode mereka berhasil.

Inilah memang strategi mereka. Ketika mereka akan beraksi tidak mungkin mereka memakai atribut pakaian biasa mereka. Jadi, biar nyaru dengan masyarakat umum. So, kita gak pernah bisa menilai seseorang hanya dari pakaiannya. Sebagaimana yang dilakukan pelaku bom thamrin 3 tahun lalu. Pelaku bercelana jeans dan kaus.

Peran media sosial pun tak absen dari kejadian ini. Menurut pemberitaan dari polisi atau densus 88, si pelaku ternyata teradikalisasi dari istrinya dan ia cukup aktif di media sosial. Tak heran karena media sosial salah satu dari “ladang amal” mereka. Saat ini, gak perlu bertemu empat mata untuk merencanakan sebuah teror.

Pemerintah dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya memang mulai gencar untuk melawan ideologi ektrimisme dan terorisme di media sosial. Tapi kita masih sedikit kalah cepat dari propaganda mereka. Dapat kita lihat, aksi mereka cukup terbilang cepat dan gesit.

Radikalisasi di media sosial yang dilakukan kelompok ini memang bikin geleng-geleng kepala. Starategi doktrinisasi mereka ke pada pemuda pemudi pada khususnya perlu kita tiru. Pesan-pesan dan ajakan mereka dipoles dengan ayat ayat suci dan bujukan untuk membuat mereka berfikir merenung bahwa selama ini kaum muslimin “ditindas” pun berhasil. Mereka berhasil menjawab segala kerisihan, kegalauan, pertanyaan-pertanyaan di hati anak-anak muda.

Metode Doktrinisasi

Malam lalu, tanggal 14November kemarin. Saya melihat sebuah cuitan dari seorang netizen perihal acara rosi dengan hashtag #TargetTeroris.

#TargetTeroris apa iya hanya ideologi orang bisa bom bunuh diri? Apa iya meski orang cenderung bunuh diri kemudian tanpa ada sebab yg mendorong, lalu bunuh diri?” cuit @AndiSastrawi

Ini sangat menarik untuk dijawab. Berdasarkan apa yang pernah saya perhatikan dari cara mereka merekrut orang untuk hijrah ke Suriah. Ada beberapa metode yang mereka lakukan. Ada metode cepat dan tidak terlalu cepat. Biasanya kalau yang cepat, mereka akan menggunakan narasi tauhid, togut, syirik berjihad melawan atau meneror pemerintah bahwa ini merupakan amalan yang paling tinggi dan langsung ke surga. Sebagaimana Ali Imron pernah sampaikan di Video rosi pada dua tahun lalu, bahwa dia bisa merekrut dalam waktu 2 jam. Gila siih.

Jadi teringat diri saya dulu. Bagaimana ketika saya punya pikiran untuk tinggal di wilayah yang sejahtera penuh keadilan dan keberkahan. Mereka memberikan jawaban kuat untuk saya dengan penguatan dari dalil-dalil suci yang mana tak mungkin bagi manusia untuk membantahnya dan sulit untuk berprasangka buruk. “Mereka kan pake Quran-Hadis. Gak mungkin lah bohong”. Belum lagi, bukti-bukti berupa gambar,video, sampai testimoni orang orang yang sudah bergabung.

Narasi narasi mereka memang sangat kuat dan yang paling gak abis pikir itu, juga sangat cepat. Bayangkan seseorang yang dulunya berandal, sedang mencari jalan taubat, dan bertemu orang orang ini. Maka, voila. Kena lah mereka.

Lambat laun, mereka akan bergeser pada pembahasan bagaimana perjuangan nabi dan sahabat dalam menegakan islam, atau kisah kisah tentang kaum muslim ditindas. Pokoknya mereka mencari celah, bagaimana mereka bisa masuk ke hati para pemuda pemudi ini. Kemudian, mereka akan menceritakan bagaimana zalimnya orang “kafir”,zalimnya penguasa indonesia, ketidakadilan pemerintah dan lain sebagainya.

Setelah itu, masuk ke narasi muslim itu harus menguasai bumi, tidak ditindas tapi berada di atas dan mereka akan memberi gambaran gambaran kehidupan di bawah naungan khilafah bak zaman nabi dengan segala kesejahteraannya dan keadilannya, “kita adalah penguasa bumi”. Ketika semua itu sudah masuk, lambat laun mereka akan mengajarkan ilmu ilmu tauhid,syirik,togut versi mereka. Fyi, untuk hal ini bisa juga mereka lakukan diawal. Bahwa, selama ini kita belum manjadi muslim/bertakwa dan telah musyrik karena menggunakan pancasila dan demokrasi. Baru, masuk ke hal hal “jihad” memerangi kesyirikan.

Berhijrah ke Suriah dan berjihad dalam artian perang merupakan jalan terbaik bagi mereka untuk menebus dosa. Sehingga dapat dengan mudah mereka terima. Dalil dalil yang biasanya mereka gunakan adalah surat Al-Baqoroh ayat 207. Orang yang mengorbankan diri untuk mencari keridhoan Allah

Kelompok ekstrimis ini akan menambahkan narasi mereka dengan kisah kisah jihad atau mati syahid para sahabat nabi dan pendahulu mereka. Belum lagi, propaganda video video kelompok ini ketika ada orang yang mati di peperangan, terlihat seperti orang tidur dan tersenyum. (padahal banyak kok, orang yang husnul khotimah, harum dan gak pake perang). Narasi “surga” yang dibangun kelompok ini memang sangat kuat. Dan, selain Surat Al-Baqoroh yang mereka korupsi, mereka juga mengambil cerita dari sahabat Barra’ Bin Malik yang ketika perang, dia berani menerjunkan diri ke benteng musuh, dan membukakan gerbang benteng agar kaum muslimin dapat masuk.

Oh ya satu lagi. Narasi mengenai sami’na wa aato’na juga mereka bangun. Selain taat kepada Allah dan juga Rosul,ada ketaatan pada ulul amri. Tapi, perlu kita ketahui, bahwasannya tidak ada ketaatan dalam bermaksiat dan melakukan kejahatan atau keburukan. Padahal Tuhan sendiri menjelaskan bahwa Dia tidak pernah menyuruh berbuat keji (Al-A’rof ayat 28).

Mereka benar benar telah membajak arti dari islam itu. Banyak sekali arti yang telah dikorupsi. Mereka dengan mudahnya mengatakan pancasila dan demokrasi syirik. Kalau katanya hukum manusia adalah syirik, lah mereka juga banyak kok buat buat aturan sesuka hati mereka, seperti di negri “khilafah” mereka.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

6 + 20 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like