Kala Layangan Putus Jatuh di Atap Rumah Ustazku

By

Layangan putus tak sekadar layang-layang yang putus benangnya. Ini adalah kisah curahan hati seorang wanita yang terpaksa melepas bahtera rumah tangganya saat mengetahui sang nakhoda memadu cintanya pada hati yang lain.

Kisah ini pun ramai menjadi perbincangan kalangan masyarakat melalui laman dunia maya. Pasalnya, sang nakhoda diketahui sebagai tokoh muda, hebat, dikagumi, dan kaya raya. Tak sedikit pula para wanita mengidamkan memiliki dambaan hati seperti dirinya.

Tampilannya yang santun, religius, dan gemar mengumbar ayat-ayat surga, adalah setumpuk kisah yang melekat erat padanya seolah suci tanpa noda.

Kisah layangan putus seolah mengingatkan saya pada satu cerita yang sama di mana hal ini pernah terjadi di sebuah desa pesisir utara Jawa.

Sang nakhoda dalam kisah layangan putus membawa narasi yang sama, yakni sebagai sosok yang aktif mengemban misi dakwah. Hanya saja, kisah ini muncul dari seorang bergelar ustaz di suatu lembaga pendidikan agama.

Dalam cerita, sang ustaz telah berkeluarga dan memiliki beberapa anak sebagai hasil dari perkawinan mereka.

Sebagaimana umumnya, keluarga sederhana ini berjalan normal. Nyaris tanpa beban, meski mereka hidup dalam kondisi berkekurangan, ditambah beban anak-anak yang juga membutuhkan banyak perhatian. Semua dilalui bersama tanpa saling mengeluh satu sama lain.

Keduanya, suami-istri ini berprofesi sebagai seorang pengajar. Uang bulanan dari hasil mengajar dan subsidi dari lembaga tempat di mana mereka mengabdikan diri untuk mencerdaskan para santri, menjadi tulang punggung kehidupan.

Himpitan ekonomi dengan penghasilan yang pas-pasan, lantas tidak membuat keluarga kecil ini mudah mengeluh. Semuanya dilalui bersama-sama, dalam kondisi suka maupun duka.

Hingga suatu ketika, ujian yang sesungguhnya itu datang. Dan ini menjadi awal mula petaka dalam keluarganya.

Sang istri merasa dikhianati. Kesetiaan dan ketulusan cintanya seolah direndahkan hingga mencium bumi. Ikrar sehidup semati dalan kondisi susah maupun senang, tak lagi berharga dan menguap menjadi gumpalan asap penuh omong kosong.

Betapa tak tergoncang hatinya, kala sang suami yang selama ini dicintai dan ditaatinya sepenuh hati, masuk ke dalam bilik rumah dengan menggandeng tangan seorang perempuan yang tidak pernah ia tahu siapa dan dari mana asalnya.

Bak tersambar petir di siang bolong. Sang suami, tanpa merasa bersalah dan dengan penuh percaya diri memperkenalkan sang perempuan sebagai istrinya yang kedua.

Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia meyakinkan diri dengan menyebut nama Tuhan kuat-kuat. Berharap ini hanya sebatas mimpi buruk belaka. Namun sekuat apapun dirinya berusaha untuk mengelak, kenyataannya sang suami masih tetap berdiri di ruang tamu dengan menggandeng tangan seorang perempuan.

Matanya nanar. Ingin rasanya ia mengumpat dan menyumpahi suaminya, namun jelas agama melarang.

Ia masuk ke dalam bilik kamar, merangkul anak-anaknya yang masih usia belia dan sedang terlelap dalam tidur siangnya. Sang istri menangis sejadi-jadinya. Tak terbayang betapa ia begitu mencintai suaminya, bahkan ketika mereka harus hidup susah sekalipun. Sang istri tak pernah sekalipun mengalihkan cintanya pada lelaki lain yang lebih mapan dan cakap dalam finansial. Sebab cintanya adalah cinta tulus yang tak ternilai harga dan tanpa memandang rupa.

Namun hari itu, bahtera cinta suci yang telah lama dibina lebih dari 10 tahun lamanya, meleleh menjadi butiran-butiran air mata oleh hadirnya perempuan ketiga.

Tak henti-hentinya ia mengutuki dirinya sendiri, hingga sampai hati suaminya menelikung cintanya tanpa pernah sedetik pun ia tahu bahwa lelaki yang dicintainya telah memadu kasih pada cinta yang lain.

Perjalanan cinta yang suami dengan istri kedua mulai diketahui setelah berjalan sekian lamanya tanpa seorang pun mengetahui, bahkan termasuk orangtuanya.

Sang istri sadar betul, cerai bukanlah solusi sebab ia kadung terlanjur menggantungkan nasibnya pada suami. Tangis nestapa tak akan menyelesaikan masalah, sebab nasib telah terlanjur mencatatkan kisahnya.

Pada akhirnya, sang istri akhirnya memilih untuk mengalah. Bukan mengalah pada ego suami dan istri mudanya, namun mengalah demi nasib anak-anaknya. Tak tega hati melihat anak-anaknya nanti harus menanggung beban sosial ibunya sebagai seorang janda.

Dipandanginya lagi wajah mungil anak-anaknya, mereka suci tanpa noda. Sebab merekalah satu-satunya hiburan untuk sejenak melupakan penatnya dunia, melupakan kata-kata manis yang sejatinya omong kosong penuh sampah.

 

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

2 × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like