Nekat yang Berakal Sehat

By

Tuhan bersama orang-orang yang nekat. Kata-kata itu kerap saya temui di media sosial, termasuk tulisan teman saya yang sesaat sebelum mudik bersepeda motor Jakarta-Mojokerto. Menempuh jarak lebih dari 700km motoran! Nekat nggak tuh?

Melibas pantura dengan modal nekat pun pernah saya lakukan bersama 1 orang kawan. Ketika itu sekira tahun 2000, berdua menyetop truk di pantura Kota Tegal demi menumpang gratisan sampai Semarang. Mau nonton konser Slank.

Hanya berdua menghadang truk di jalan raya bukanlah pekerjaan mudah. Terbukti, kenekatan kami di jalan disambut laju truk yang makin cepat. Awalnya gagah berani, nyali ini jadi ciut melihat truk makin ngebut.

Alhasil, beberapa usaha menyetop truk gagal. Namun, sekali lagi, bermodal nekat, akhirnya berhasil pula menyetop truk. Sebenarnya tak nekat-nekat amat sih, hanya saja menyetopnya di dekat lampu merah, jadi kesempatan dapat tumpangan gratis makin bertambah.

Nekat ditambah sedikit perhitungan dan strategi, akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa gratisan menumpang truk bak terbuka sampai Semarang. Meski gosong, wajah penuh debu, toh itu adalah kebanggaan tersendiri ketika itu. Aku nekat maka aku gosong dan berdebu.

Cerita orang-orang nekat ini juga terjadi di Surabaya, hingga puncaknya 10 November 1945 lalu. Ketika dengan persenjataan seadanya melawan Tentara Sekutu dibonceng NICA. Arek Suroboyo menang! Kenekatan mereka bukan tanpa perhitungan dan strategi. Semangat mereka berlipat setelah ada Resolusi Jihad. Perang Suci. Perang menyabung nyawa mempertahankan kemerdekaan, jika gugur akan mendapat pahala jihad luar biasa.

Perjuangan arek Suroboyo ini jadi contoh bagaimana jihad dilakukan dengan betul. Menyasar musuh yang benar-benar mengusik ketentraman, membawa kerusakan, ingin merebut kemerdekaan yang sudah diproklamirkan.

Kenekatan kami menyetop truk tentu tidak ada apa-apanya dengan apa yang dilakukan arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan itu. Bahkan, dipikir-pikir sekarang, yang kami lakukan saat itu lebih cenderung ke arah bodoh bukan heroik. Hehehe. Tapi demi idola, apapun dilakukan bukan? Hehehe.

Kalau di beberapa berita kriminal, kata nekat ini sering dipakai untuk judul tentang sebuah peristiwa bunuh diri. Misalnya; “Ditolak Balikan Mantan Pemuda Ini Nekat Gantung Diri” atau “Sakit Menahun Kakek Nekat Gantung Diri”.

Nekat-nekat model begini tentu berbalik 180 derajat dengan Arek Suroboyo yang menyabung nyawa demi negaranya. Pun dengan serangkaian pengeboman di Surabaya pada Mei 2018 lalu. Ada ayah ibu nekat mengajak anaknya melakukan bom bunuh diri. Walah doktrin macam apa yang menghina akal sehat hingga mau mati konyol seperti itu?

Aksi-aksi nekat seperti itu tentu bukan contoh yang bagus, tak pantas ditiru. Membawa kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Nekatlah demi tujuan mulia. Masih ada kok nekat-nekat yang lebih waras. Misalnya; meski gaji kecil nekat bersedekah rutin, nekat menempa fisik berjam-jam tiap hari demi cita-cita jadi atlet atau nekat-nekat lainnya. Nekat seperti ini tentu jauh lebih baik daripada mati konyol membawa kerusakan bagi umat manusia.

 

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

ten − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like