Mantan Teroris

Kepercayaan Diri Mantan Teroris

By

Mereka yang pernah terjerat hukum apalagi teroris gak akan lenyap dari stigma buruk di masyarakat.Bahkan setelah mereka keluar atau menyelesaikan proses hukum, masyarakat buru-buru bikin pengamanan pribadi. Akhirnya, proses reintegrasi mantan narapidana menjadi sangat sulit.

Para mantan narapidana ini pun sudah insecure menjelang keluar jeruji. “Duuh, nanti kalau pulang ke rumah gimana yaaa”, “haduh pasti nanti dijauhi orang orang” dan seabrek pikiran pikiran aneh. Padahal mereka justru orang berani, percaya diri, penuh keyakinan, bahkan menjadi influencer ketika berada di kelompok radikal. Namun kembalinya ke masyarakat justru membuatnya sepi.

Peter Lauster dalam bukunya Tes Kepribadian mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan sikap atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya. Lauster menggambarkan orang dengan kepercayaan diri tinggi tidak mementingkan diri sendiri (toleransi), optimis, dan gembira.

Penolakan, omongan jelek dari masyarakat, dilecehkan, direndahkan membuat mereka yang sudah keluar kelompok kekerasan justru tak sepede yang dulu. Orang pengen berubah jadi susah. Namun di tengah jalan bertemu pihak pihak yang merendahkan dirinya dengan mengusik masa lalu.

Dalam benak mereka, “akan menjadi apa aku nanti, dengan label mantan teroris ini? “. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertindak? Ini bisa dimulai dari sendiri dan orang orang terdekatnya, yaitu keluarga dan juga rekan sahabatnya.

Keluarga, sebagi orang orang yang mengetahui keadaan mereka dari orok sampai saat ini, mengetahui sifat sifatnya serta kelebihan atau kelemahannya. Keluarga itu menjadi patron utama yang mendukung mereka dalam berbagai kondisi.

Proses rehabilitasi bisa dimulai dengan mengembalikan kepercayaan diri mereka lewat ngobrol dan keterbukaan. Ini tidak hanya berdampak positif bagi para mantan, tapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa melawan terorisme bukan dengan kebencian atau balas dengan kejahatan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

fourteen + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like