Pengalaman Menghirup Lem Aibon

By

Lem aibon (aica-aibon) sedang naik daun. Lem yang populer di kalangan ‘jalanan’ ini makin populer ketika terjadi polemik soal rencana APBD DKI Jakarta harus merogoh kocek Rp82,8miliar untuk membelinya.

Tulisan ini bukan mau mengaudit duit miliaran itu, biarlah jadi urusan mereka. Apakah itu salah ketik atau apalah, yang jelas lem ini sukses mencuri promo lewat kontroversi anggarannya.

Bagi saya, lem aibon bukan hal baru. Lem yang bisa dibeli dengan kemasan kaleng kecil sampai besar (ukuran per kilogram) ini sempat membuat ‘mabok’ hampir semalaman. Warna lem ini, sama seperti kalengnya, kekuning-kuningan. Mirip warna selai nanas.

Ceritanya begini, menjelang tahun 2010, saat itu saya masih kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Undip di Semarang, saya bekerja sampingan jadi penjaga studio musik di Kawasan Banyumanik Semarang. Namanya Studio 26, sekarang sudah tutup.

Kalau pagi kuliah, sorenya kerja studio. Kebetulan saat itu studio sedang mau renovasi. Akhirnya dipilihlah 2 hari, yakni Sabtu dan Minggu untuk renovasi.

Salah satu yang direnovasi adalah peredam studio. Peredam musti dipertebal supaya suara keras dari amplifier dan speaker anak-anak yang sedang ngeband tidak tembus ke luar.

Akhirnya weekend itu kami isi dengan memasang karpet baru sebagai peredam. Kami di sini adalah saya, bos saya, 2 karyawan lain termasuk anak-anak yang suka nongkrong di studio.

Seingat saya, dibutuhkan lebih dari 5 kaleng lem aibon ukuran 1kg untuk menempelkan karpet peredam satu studio. Ketika kaleng dibuka, bau semerbak lem itu langsung menyengat. Segerrrr!

Butuh waktu lama untuk menempelkan karpet baru itu sebagai peredam satu studio. Maklum, ruangan studio cukup besar. Cukuplah untuk masuk 20 orang. Kami gotong royong dari pagi sampai malam untuk menempelnya.

Lem itu memang sangat kuat. Cocok untuk menempelkan apa saja yang harus ditempel. Karena ruangannya besar, alhasil dari pagi sampai petang, kami ini full berada di dalam studio. Sepanjang hari aroma aibon menemani kami.

Sudut-sudut besar sudah tertempel karpet baru. Sampailah pada sudut-sudut kecil yang membutuhkan ketelitian lebih. Mengukur presisi lengkungan karpet disesuaikan dengan lengkungan ruangan di sudut-sudut yang kecil.

Di sinilah ‘keanehan’ terjadi. Saat menggunakan penggaris untuk mengukurnya, angka-angka di penggaris itu tampak blur. Ternyata tak hanya saya, kawan lain juga mengalaminya. Selain mendadak blur, kepala kami juga pusing bukan main.

Salah satu kawan tertawa keras sekali. “Wah mabok lem iku! (wah itu mabok lem),” katanya.

Sontak kami ikut tertawa tak kalah keras. Hahahaha! Memang betul, aroma lem itu kalau terus-terusan dihisap bisa bikin mabok juga.

Wong anak-anak jalanan yang suka ‘ngelem’ itu saja tak butuh waktu lama untuk menghirup aibon dan merasakan sensasinya. Biasanya mereka membeli kaleng kecil, patungan, dan dibagi. Kemudian disembunyikan di dalam kaus, lalu untuk menghirupnya hidung mereka dimasukkan kerah kaus. Ssssttt segerrrr!

Untuk waktu yang singkat saja, sudah lumayan sensasi menghirupnya. Lha ini, kami, dari pagi sampai petang, di ruangan kedap suara, rame-rame menghirup aroma aibon. Alhasil, hampir semalaman puyeng kepala ini.

Saat karpet peredam akhirnya terpasang semua, kami melepas lelah dengan menikmati puyeng kepala sekaligus tertawa bersama. Sirahku ngelu, Kas! (kepalaku sakit, Bro!).

 

sumber foto: Google Image

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

20 − two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like