Paradoks

Paradoks Negeri Kaum Religi

By

Suatu sore, saya pernah berjalan menyusuri kawasan masjid di wilayah Jawa Timur. Selain kontruksi bangunan masjid yang megah nan indah, juga lokasinya yang berada persis di depan alun-alun kota. Masjid ini bahkan menjadi simbol religiusitas. Pasalnya, tak jauh dari situ terdapat makam seorang wali. Masjid yang tadinya difungsikan sebagai tempat ibadah, berubah peran menjadi tempat wisata. Tak heran jika masjid tersebut tak pernah sepi pengunjung.

Setelah capek berkeliling menyusuri tiap sudut jalanan, saya memutuskan untuk ngasoh di emperan masjid sambil memesan es siwalan. Selagi menunggu minuman datang, saya salah fokus dengan sekumpulan remaja tanggung bersarung lengkap dengan peci. Mereka asyik menggoda gadis yang melintas di depan mereka.

Hai, cewek. Sombongnya nggak mau lihat, sini dong sama kakak,” kata mereka. Padahal mereka ini baru saja keluar dari makam untuk nyekar sambil ngalap barokah.

Saya jadi teringat kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis dan calon pendeta di Palembang. Masyarakat mengecam perilaku bejat pelaku dan menuntut agar dihukum setimpal atas perbuatannya. Yang lebih menyesakkan lagi, para pelaku tersebut mengenal baik bahwa korban merupakan aktivis gereja dan akan dinobatkan sebagai calon pendeta. Pendek kata, korban tidak saja sebagai mutiara bagi keluarga, namun juga jalan penerang bagi umatnya.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di negeri pemuja simbol religi ini seolah menjadi paradoks. Ini tak sehilir dengan pesan-pesan surgawi yang senantiasa bergaung di atas mimbar-mimbar peribadatan.

Lantas jika demikian, apa sebetulnya fungsi agama jika hal tersebut tak memberikan jaminan keamanan bagi pemeluknya? Hakikatnya, agama adalah sesuatu luhur dan suci. Sebab ia menjadi jalan penunjuk bagi umatnya menuju keseimbangan hidup dengan akhlak yang suci. Yang menjadi rusak adalah ketika agama hanya dimaknai sebatas simbol, bukan sebagai jalan hidup yang menjunjung moralitas dan budi pekerti yang tinggi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like