Mengapa Ada Radikalisasi BMI Perempuan?

By

Semua orang terkejut ketika mengetahui bahwa Dian Yulia Novi calon pelaku peledakan bom panci di Istana Negara yang tertangkap pada Desember 2016 silam sebelum beraksi adalah seorang mantan TKW atau yang lebih keren disebut Buruh Migran Indonesia. Tak terkecuali saya.

Tapi keterkejutan saya tak sedahsyat masyarakat umum. Karena saya tahu keterlibatan para perempuan BMI dalam lingkaran kelompok pendukung ‘jihad yang tidak pada tempatnya’ sudah cukup lama terjadi. Bahkan sejak jauh sebelum era ISIS. Setahu saya sejak tahun 2010 sudah mulai terjadi.

Setelah terungkapnya kasus Dian Yulia Novi itu semua orang tiba-tiba menjadi lebih perhatian kepada para perempuan BMI yang jumlahnya mencapai berjuta-juta dan tersebar di berbagai negara. Tiba-tiba semua jadi khawatir. Terutama negara-negara dengan tingkat perputaran ekonomi yang cukup tinggi dan memiliki banyak BMI perempuan. Indonesia sebagai negara asal BMI juga ikut khawatir.

Negara Indonesia tentu tidak mau kepercayaan negara-negara tetangga pengimpor TKW asal Indonesia menjadi berkurang. Negara tidak ingin para pahlawan devisa mereka berkurang drastis karena berubahnya kebijakan negara tempat para pahlawan devisa itu bekerja gara-gara terpaparnya sebagian BMI oleh paham ekstremisme.

Para pakar keamanan dan terorisme juga khawatir. Mungkin mereka membayangkan bagaimana jika para perempuan BMI itu melakukan amaliyah di negeri orang, terutama di negeri dengan penduduk mayoritas beragama selain Islam? Target tentu sangat mudah didapat. Kewaspadaan akan potensi serangan dari mereka juga pasti sangat rendah.

Faktor pemicu juga sangat mudah ditemui. Di antaranya; depresi karena hidupnya tertekan di negeri orang, majikan yang kejam, masalah keluarga di kampung halaman, dan berbagai persoalan lain. Saya pun membayangkan bila ada seorang BMI perempuan yang mendapat perlakuan kejam dari majikannya akan relatif lebih mudah dibujuk untuk (misalnya) membunuh majikannya atau mencuri harta majikannya yang ‘kafir’ menggunakan dalil agama yang dipaksakan.

Dulu permasalahan BMI di luar negeri paling hanya seputar pelanggaran keimigrasian, konflik dengan majikan, atau terlibat aksi kriminal. Tapi kini tiba-tiba banyak BMI perempuan yang terlibat kegiatan terorisme. Mulai dari penyedia dana sampai calon pelaku bom bunuh diri.

Apa yang kira-kira penyebabnya?

Secara sederhana bisa saya simpulkan bahwa hal itu bisa terjadi karena adanya titik temu antara yang dibutuhkan para pelaku kegiatan ‘jihad yang tidak pada tempatnya’ (jihadis radikal) dengan kebutuhan para BMI perempuan di luar negeri.

Ketika mereka bertemu di media sosial, masing-masing mereka saling terpesona. ‘Jihadis radikal’ dan para pendukungnya terpesona oleh semangat para BMI perempuan yang ingin belajar agama, dan para BMI perempuan terpesona oleh ajaran-ajaran Islam yang disebarkan oleh para ‘jihadis radikal’ dan para pendukungnya.

Pertanyaannya : Apakah bertemunya mereka di media sosial itu merupakan sebuah kebetulan? Nantikan jawabannya pada tulisan berikutnya.

foto Dok. Ruangobrol

Diskusi Film “Pengantin” di Singapura beberapa waktu lalu yang diikuti oleh para Buruh Migran Indonesia (BMI).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

2 + eighteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like