Teroris

Tak Jadi Murid Teroris Karena Rokok

By

Suatu pagi, melalui laman media sosial, Facebook, seorang ustad menggunggah foto dirinya sedang menikmati pagi di beranda rumah, kamar hotel tepatnya. Bagi banyak orang, perilaku selfie mungkin hal yang biasa, bahkan hampir semua orang pernah melakukannya. Namun, pagi itu mungkin sedang apes bagi sang ustad. Ia lupa, ada penampakan ganjal dan tak biasa yang juga ikut tertangkap oleh kamera. Sebungkus rokok merek LA tergeletak jelas di atas meja.

Barangkali sang ustad lupa, namun sudah terlanjur terpasang di wall media. Akibatnya, ia menjadi bulan-bulanan kelompoknya. “LA ne lali gak ditutupi,” ujar salah satu dari mereka secara sarkastik.

Persoalan rokok memang tidak ada ujungnya. Bahkan sampai hari ini, MUI pun masih belum bisa memutuskan status hukumnya meski Muhammadiyah tegas mengharamkan rokok bagi para pengikutnya.

Namun, agaknya perilaku merokok tak hanya menjadi persoalan bagi MUI saja. Di kalangan teroris pun aktivitas ngudud ini masih seringkali menjadi dilemma, sebab tidak sedikit dari mereka masih gemar menghisapnya. Terlebih ketika hidup dalam penjara.

Bahkan seorang mantan penjahat pun sampai merasa ogah belajar sama teroris karena perilaku tersebut yang sama sekali tidak mencerminkan kepribadiannya.

Memang teroris ada yang merokok? Namanya juga manusia, apa pun sebutannya pasti ada titik lemahnya. Menjadi seorang teroris bukan berarti membuat mereka manusia suci tanpa noda.

Sebut saja Abu Salah, seorang mantan narapidana kasus terorisme yang pernah menghuni Lapas Tanjung Gusta Medan, Sumatera Utara. Kepada tim Ruangobrol.id, ia menceritakan bagaimana dinamika yang terjadi di dalam penjara.

Meski dirinya sebagai tahanan kasus terorisme, pribadinya yang terbuka dan mudah bergaul membuat Abu Salah cepat diterima di kalangan sesama narapidana lain. Kesempatan ini, lantas dimanfaatkannya untuk mengajak mereka belajar ngaji bersama-sama. Murid binaan, begitu sebutan mereka.

Namun, di kemudian hari Abu Salah bersama kelompoknya harus menelan rasa kecewa. Pasalnya, para napi kasus criminal umum ini yang tadinya aktif belajar ngaji bersama mereka, secara mendadak pindah ke pangkuan kelompok lain tanpa ada kata pamit sebelumnya.

Merasa tidak terima, ia meminta klarifikasi kepada salah satu dari mereka. Namun jawaban dari salah satu napi criminal umum tersebut, barangkali cukup menjadi pembelajaran bagi Abu Salah dan kelompoknya.

Mana ada ustad selengek’an, suka ngerokok, isbal (Red: menggunakan celana panjang hingga menutupi mata kaki) lagi. Islam apa itu?” ujar Abu Salah.

Kehidupan narapidana kasus terorisme di dalam penjara memang penuh warna. Meski delik kasusnya sama, namun umumnya mereka memiliki latar idelogi yang berbeda. Ada yang cenderung lunak dan terbuka, namun ada pula yang kaku dan teguh pada keyakinannya.

Mereka yang berpikiran lunak dan terbuka inilah yang umumnya gemar merokok dan jauh dari kesan religious. Secara penampilan, para narapidana ini tak ubahnya napi criminal umum, hanya saja secara kebetulan mereka terjebak pada perkara terorisme.

Sebaliknya, mereka yang berpikiran kaku ini mampu menampilkan diri sebagai pribadi yang agamis dan taat.

Umumnya, pribadi-pribadi yang dikenal taat dalam beragama dan sangat religious tersebut merupakan kelompok ISIS. Tak ayal, pesona mereka sebagai pribadi yang taat ini justru mampu menyihir narapidana criminal umum yang hendak bertobat pada akhirnya memutuskan berguru bersama mereka. Dan factor ini pula yang menjadi alasan utama kenapa persebaran ideologi ISIS cenderung subur meski hidup dalam pekatnya penjara.

Sebab melalui penjara pula, kelompok ISIS ini dengan mudahnya menentukan segmen pasar yang sesuai dengan selera mereka. Dan hal semacam ini, tidak saja terjadi di Lapas Tanjung Gusta Medan semata, namun agaknya menjadi hal jamak di setiap lapas atau rutan yang dihuni napi teroris di seluruh nusantara.

Akibatnya, kelompok ISIS yang menghuni lapas-lapas di Indonesia memiliki pengaruh kuat sebab mereka dengan mudah masuk di setiap elemen penjara, baik pada tingkat pidana rendah hingga berat sekalipun.

Tentu, peristiwa ini bukan bermaksud untuk memberikan justifikasi pada kelompok tertentu. Namun hanya berupaya untuk menjelaskan tentang kehidupan lain yang terjadi di balik penjara yang jarang terekspose oleh media. Tentang bagaimana satu kelompok bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan masif untuk menjaring massa, dan ini semua terjadi dari bilik penjara.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

1 + 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like