Budaya ‘Musik’ di Kalangan Aktivis Jihadi (1)

By

Sifat manusia yang menyukai pola termasuk pola yang dihasilkan oleh suara membuat manusia kemudian menyukai pola suara tertentu. Ada yang suka irama bacaan Alquran sampai terhanyut ketika mendengarnya di dalam salat ataupun di luar salat. Ada yang suka irama sebuah senandung syair. Ada yang suka suara alam yang menghasilkan sebuah irama unik. Dan ada pula yang suka suara yang dihasilkan aneka alat musik.

Manusia juga akan mudah terpengaruh oleh sesuatu yang biasa didengarnya. Barangkali kita sudah sering mendengar atau membaca di internet ada seorang balita bisa hafal bacaan Alquran yang biasa didengarnya dari orangtua dan kakak-kakaknya. Atau di belahan bumi yang lain ada balita yang bisa hafal puluhan lirik lagu. Anda bisa menemukan berita fenomena seperti ini di internet. Semua itu hanya karena sering mendengar.

Jika yang sering didengar adalah musik –baik dengan menggunakan alat musik atau tanpa alat musik- maka lama kelamaan seseorang bisa bersenandung tanpa sadar. Demikian pula jika yang didengar adalah bacaan Alquran. Beberapa peneliti mencoba menjelaskan mengapa bisa demikian. Saya kutipkan hasil penelitian para Peneliti dari Dartmouth University sebagaimana yang dimuat di detikhealth.com (https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1412993/kenapa-tanpa-sadar-orang-sering-bersenandung )

Kenapa sebuah lagu bisa terekam di kepala dan dinyanyikan tanpa disadari?

Para ahli menuturkan kondisi ini disebut dengan earworms (atau ohrwurms dalam bahasa Jerman). Kondisi ini bukan berarti ada parasit yang masuk ke dalam telinga. Tapi karena lagu tersebut telah terjebak di kepala seseorang sehingga menyebabkan ‘cognitive itch’ atau ‘brain itch’, yaitu suatu kebutuhan untuk mengisi celah di dalam otak oleh irama lagu.

Dikutip dari Howstuffworks, Selasa (3/8/2010) ketika seseorang mendengarkan lagu, maka akan memicu bagian dari otak yang disebut dengan auditory cortex (korteks pendengaran).

Peneliti dari Dartmouth University menemukan bahwa ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, maka secara otomatis korteks pendengaran akan terisi dengan lagu tersebut. Dengan kata lain otak akan terus menyanyi hingga lagu tersebut berakhir.

Semakin sering lagu tersebut di dengar, maka lagu ini akan berulang-ulang di putar di dalam pikiran seseorang. Nantinya lagu ini akan terjebak di dalam kepala seseorang, sehingga tanpa disadari seseorang akan menyanyikan lagu tersebut.

Nah, karena para aktivis Islam juga perlu mengisi celah di dalam otak dengan irama lagu, mereka lantas mencoba menciptakan sebuah karya musik jenis baru yang tidak melanggar tuntunan syari’at. Maka terciptalah apa yang kemudain lebih dikenal dengan nasyid.

Mengutip dari Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Nasyid ) arti dari kata nasyid itu sebenarnya adalah senandung, tetapi kemudian mengalami penyempitan makna menjadi dari senandung secara umum, menjadi senandung yang bernafaskan Islam.

Nasyid dipercaya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Syair thola’al badru ‘alaina (yang artinya telah muncul rembulan di tengah kami) yang kini kerap dinyanyikan oleh tim qosidah dan majelis taklim, adalah syair yang dinyanyikan kaum muslimin saat menyambut kedatangan Rasulullah SAW ketika pertama kali hijrah ke Madinah.

Nasyid kemudian berkembang seiring dengan situasi dan kondisi saat itu. Misalnya nasyid di Timur Tengah yang banyak mengumandangkan pesan jihad maupun perlawanan terhadap imperialisme Israel lebih banyak dipengaruhi oleh situasi politik yang ada saat itu.

Nasyid mulai masuk ke Indonesia sekitar era 80-an. Perkembangannya pada awalnya dipelopori oleh aktivis-aktivis kajian Islam yang mulai tumbuh di kampus-kampus pada masa itu. Pada awalnya yang dinyanyikan adalah syair-syair asli berbahasa Arab. Namun akhirnya berkembang dengan adanya nasyid berbahasa Indonesia dan dengan tema yang semakin luas (tidak hanya tema syahid dan jihad).

Lalu, memasuki era 90-an, nasyid mulai dikenal masyarakat luas dengan syair yang berisi nasihat, kisah-kisah para nabi, dan pujian kepada Allah SWT. Biasanya nasyid dinyanyikan atau diperdengarkan dalam acara walimahan pernikahan, maupun perayaan hari besar umat Islam.

(Bersambung)

sumber ilustrasi: Pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

7 + nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like