Hikikomori

Hikikomori Remaja Indonesia

By

Ada fenomena yang cukup dikenal di kalangan remaja jepang, yaitu Hikikomori. Menurut Wikipedia, Hikikomori (引きこもり, ひきこもり, atau 引き籠もり adalah menarik diri, mengurung diri. Ini merupakan istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini.

Ternyata secara sosiologis, hikikomori merupakan penyakit sosial. Mereka bisa melakukannya selama berbulan bulan, bahkan lebih dari enam bulan. Apa gak sesak tuh, di rumah mulu? Ngerinya, gak sedikit pelaku Hikikomori memutuskan hubungan dengan keluarga intinya, ckckck. Terus temenannya ama siapa donk? Annabelle?

Apakah Hikikomori hanya berlaku di Kepang? Eh typo, Jepang maksudnya. Penyakit sosial ini sudah merambah sampai seluruh seantero bumi termasuk Indonesia. Biasanya kita nyebut mereka ini ansos atau anti social social club. Sebenarnya, bagus gak sih jadi Hikikomori itu? Kan lumayan, ngurang-ngurangi kepadatan penduduk. Hahaha.

Faktanya, mereka tidak memiliki teman di dunia nyata, tapi banyak teman di dunia maya. Jadi ansos di dunia nyata, tapi aktif banget dunia maya. Mereka tidak punya teman untuk curhat, bercerita, memberikan solusi, dan dunia nyata kerasss. Penuh tekanan. Hal inilah yang membuat banyak orang khawatir. Sedangkan,dunia maya sangatlah luas. Dia bisa berkenalan dengan siapapun, yang memiliki hobi atau masalah yang sama dengan dirinya, dari ujung Amerika, Eropa sampai ujung Afrika.

Dunia maya tidak seaman yang kita pikirkan. Betapa banyak kelompok kelompok ekstrimisme yang beraksi di dunia maya. Mereka tahu kalau anak anak muda itu sedang mengalami kegalauan, pencarian jati diri, dan selalu bermain media sosial. Bagaimana jika yang mereka temui dan mereka jadikan teman adalah kelompok ekstrim itu? Gimana, kalau berbulan menjadi seorang Hikikomori bisa melahirkan seorang lonewolf dalam kelompok Ekstrim?

Mereka kemudian berdiskusi, bergabung dalam grup kelompok kelompok ekstrimisme. Karena untuk bisa belajar begituan mah, gak perlu tatap muka lagi. Kok tau? Wong udah banyak kasusnya. Bahkan, untuk bisa membeli segala macam perabotan atau peralatan untuk para teroris beraksi, gak perlu keluar rumah. Mereka bisa membeli peralatannya melalui marketplace, atau platform jual beli.

Memang gak semua Hikikomori masuk ke lubang radikalisme atau ekstrimisme. Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah melakukan pencegahan. Kita harus menjaga interaksi yang baik dengan keluarga terutama support keluarga. Karena ternyata mendengarkan sebuah keluhan dan membantu memecahkan suatu permasalahan seperti berdiskusi sangat mencegah Hikikomori. Selain itu, memperdalam ilmu pengetahuan dan agama juga penting. Semakin luas pengetahuan, maka semakin sulit kita tidak terjebak informasi menyesatkan.

Saya pikir, orang orang yang suka menutup diri atau menarik diri dari masyarakat tidak sepenuhnya menutup diri. Apalagi kalau dia masih aktif bermain di media sosial. Banyak faktor yang menyebabkan mereka harus menarik diri. Biasanya dikarenakan punya trauma berat ketika bersosialisasi dengan banyak orang, mengalami kegagalan, korban perundungan, berbeda dari mayoritas, pendapatnya selalu dipatahkan, dan masih banyak lagi.

Ruangobrol juga mau cegah kamu dari Hikikomori. Liat kanan bawah, ada chat, dan cerita aja disitu sama kita! Yuk!

Leave a Comment

Your email address will not be published.

seven − 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like