Didi Kempot, Lagu Ketaman Asmoro, dan Kisah Seorang DPO

By

Semalam secara tidak sengaja saya menyaksikan sebuah acara di salah satu TV Swasta yang bertajuk “Didi Kempot The Godfather of Broken Heart in Konangan Concert”. Ini dari judulnya saja unik. Campuran bahasa Inggris dan Jawa.

Acara itu merupakan konser tunggal Didi Kempot. Yang membuat saya tekejut adalah para penontonnya. Luar biasa banyaknya. Tidak kalah dengan konser band papan atas Indonesia. Semua kompak ikut menyanyikan lagu-lagu hits yang dibawakan oleh ‘Lord Didi’, demikian para fans anak muda kekinian menyebutnya.

Sejujurnya saya heran, kok tiba-tiba banyak anak-anak muda menyukai musik campursari, khususnya yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, di mana pada saat yang sama K-Pop sedang gencar-gencarnya menyerbu Indonesia? Apakah anak-anak muda itu sudah mulai bosan dengan K-Pop?

Lagu-lagunya Didi Kempot hampir semuanya syair lagunya adalah kisah pilu perjuangan anak manusia dalam percintaan. Apakah justru karena itu ia menjadi sangat digemari? Mungkin inilah sebab ia kemudian mendapat gelar “The Godfather of Broken Heart” atau “Bapaknya orang yang patah hati”.

Saya bukan penggemar Didi Kempot. Tapi saya adalah orang yang suka mengamati dan memperhatikan sebuah fenomena. Tak jarang saya kemudian mencari-cari literatur untuk memuaskan rasa ingin tahu saya pada sebuah fenomena.

Dulu sekali saya pertama kali mengenal nama Didi Kempot adalah ketika sekolah di SMK. Di tahun 2000 itu booming banget lagu campursari. Kawan-kawan saya di sekolah banyak yang menyanyikan lagu-lagu campursari di samping lagu-lagunya Padi, Sheila On 7, atau Dewa 19 yang juga lagi hits di masa itu.

Ketika ke pasar, lagu-lagu campursari juga nyaring berkumandang dari lapak-lapak penjual VCD. Dari sampul-sampul VCD itulah saya tahu beberapa lagu yang dinyanyikan oleh kawan-kawan di sekolah adalah lagunya Didi Kempot.

Ada satu lagu Didi Kempot yang paling berkesan bagi saya, yaitu lagu “Ketaman Asmoro”. Lagu itu sangat kuat karakter musik dan vokalnya. Saya pertama jatuh hati pada lagu itu adalah ketika tidak sengaja mendengarkannya di sebuah bis antarkota dalam sebuah perjalanan.

Saat itu saya sedang galau karena teman penyuplai senjata yang pernah saya ambil tertangkap. Saya yakin saya pasti mulai jadi buronan kepolisian. Saya bingung antara terus lari berpindah-pindah tempat atau menghadapi risiko ditangkap di tempat tinggal saya bersama keluarga.

Satu bulan lamanya saya tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Jika sedang tidak dapat kawan yang mau menampung, biasanya saya akan memanfaatkan rumah sakit, musola terminal, atau masjid yang mau menerima musafir menginap sebagai tempat menginap. Sedangkan di siang hari saya habiskan dengan berjalan-jalan menyusuri perkotaan.

Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan yang jauh dari tempat tinggal anak dan istri saya, tetapi setiap dua pekan sekali saya bisa pulang menemui mereka. Setidaknya itu sudah mengurangi risiko saya ditangkap di depan anak istri saya. Suatu hal yang paling tidak saya inginkan.

Saya juga mulai merintis usaha di kota tempat saya bekerja itu, dengan harapan nanti bisa dikelola oleh orang lain dan tetap bisa memberikan penghasilan bagi keluarga saya ketika kemungkinan terburuk terjadi, yaitu tertangkap. Namun sayangnya belum sempat cukup menghasilkan, saya keburu ditangkap.

Kembali ke lagu Ketaman Asmoro-nya Didi Kempot. Syair lagu itu berisi tentang kisah orang yang sedang jatuh cinta. Tapi saya lebih memaknainya sebagai sajak orang yang sedang rindu. Ya, saya saat itu sedang rindu keluarga saya. Lagu itu entah mengapa sangat melekat di benak saya saat itu.

Dan semalam saya kembali teringat masa-masa ketika saya menjadi DPO itu ketika ‘Lord Didi’ menyanyikan lagu Ketaman Asmoro. Tiba-tiba saya jadi merasa sebagai salah satu ‘Sad Boy’ atau ‘Sobat Ambyar’ meski hanya sebentar.

Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

twenty − twenty =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like