Kisah Pengungsi yang Kabur dari ISIS: Jelang Musim Dingin ke-3 Menunggu Pulang (3)

By

Suriah, Pertengahan September 2019.

Sekarang lagi peralihan dari musim panas ke musim dingin. Suhunya agak enakan. Siang nggak terlalu panas, nyalain cooler sampai magrib. Malamnya adem, bisa tidur nyenyak di balik selimut tipis. Suhunya kayak puncak Bogor gitulah!

Gue sendiri udah melewati dua musim panas dan akan masuk musim dingin ketiga di sini. Di kamp pengungsi yang menampung eks simpatisan ISIS ini.

Yup! Gue udah hampir 2 tahun di sini. Semoga gue bisa segera angkat kaki sebelum “anniversary day” ke-2 gue bener-bener datang.

Alhamdulillah, gue ditempatkan di kamp terbaik di antara 3 kamp yang tersedia, ROJ namanya. Cuma kamp ini yang fasilitas dasar kebutuhan manusia terpenuhi.

Listrik dan air memadai, jumlah manusia nggak terlalu ngejubel, dan kerusuhan nggak sering terjadi kayak apa yang banyak diberitakan media online tentang Al-Hawl. Sebuah kamp yang dipenuhi oleh suporter ISIS lulusan Baghouz, benteng pertahanan terakhir ISIS yang kalah sejak Maret 2019 lalu.

Di tulisan kali ini, gue mau merinci tentang keseharian yang kami jalani secara hidup segan mati tak mau ini. Perbandingan antara musim panas dengan musim dingin, kekurangan dan kelebihannya.

Check it out!

Musim panas di sini gue sendiri nggak tahu apa positifnya di sini, paling-paling jalanan yang dari tanah itu nggak becek dan cucian bisa jadi cepet kering.

Tapi di musim panas; banyak binatang keluar dari sarangnya macam tikus, kodok, jangkrik, ular gurun, kalajengking sampai laba-laba gurun.

Musim panas juga jadi boros, sebab tiap hari beli es batu yang secepat kilat mencair saking panasnya. Entah berapa suhu tepatnya, tapi yang pasti lebih dari 41 derajat celcius.

Di sini saat musim panas juga jarang bisa tidur nyenyak. Malam dinyamukin, pagi dilalerin. Udah berusaha tutup jendela serapat mungkin tetep aja mereka bisa masuk.

Musim panas itu siangnya panjang, malamnya pendek. Ini bikin ngejalanin hari makin nggak efektif, sebab sering lemas dan lesu tapi istirahat nggak pernah cukup. Makanan juga cepat basi. Buah dan sayuran gampang busuk.

Kalau musim dingin tiba, setidaknya masih lebih banyak positifnya. Menurut gue sih.

Misalnya; sayuran lebih banyak tersedia, harganya lebih murah. Misalnya; wortel dan kol. Kalau di musim panas jarang muncul, sekalinya ada mahal! Kalau musim dingin sayuran selalu ada dan harganya murah.

Kalau musim dingin, binatang-binatang yang sering keluar saat musim panas jadi nggak ada. Palingan kucing dan anjing. Tidur juga lebih nyaman, istirahat cukup. Ngeringkuk di balik selimut sambil meluk anak.

Tapi musim dingin juga merepotkan. Dikit-dikit rebus air untuk keperluan MCK, sebab airnya dingin banget sampai nusuk tulang. Air sering macet karena selangnya beku.

Pakaian juga harus berlapis, bisa 3 sampai 4 lapis. Pas nyuci susah keringnya. Saking nggak ada matahari, pakaian yang berhari-hari lembab harus dicuci lagi biar nggak bau.

Banyak tenda bocor, yang nggak bocor berarti beruntung banget. Musim dingin juga angin kencang. Tenda-tenda banyak yang robek karena kain bergesekan dengan besi penyangganya.

Saat musim dingin, di sini banyak tenda yang kebakar. Sebab, soba (pemanas ruangan berbahan bakar minyak) yang meledak atau apinya nyamber benda mudah terbakar. Ini selalu makan korban. Kurang dari 1 menit udah ludes semua. Ngeri, asli!

Pakai soba juga sebenarnya dilema. Asapnya nggak nampak tapi kerasa, ganggu pernafasan. Kalau nggak pakai soba, mana kuat nahan dinginnya? Banyak anak-anak juga menderita asma, penyakitnya pada kambuh.

Kalau kalian bertanya, musim mana yang gue pilih? Jawabannya: nggak ada! Gue maunya pulang! Pulang! Pulang!

Salam, Aleeya Mujahid!

 

FOTO DOK. ALEEYA MUJAHID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

four + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like