Terima Kasih Pak Henk, Promotor ‘yang Membebaskan’

By

Tulisan ini ditulis oleh Najib Azca (Dosen Senior di Fisipol UGM)

 

Sekitar seminggu lalu Prof. Henk Schulte Nordholt memasuki masa pensiun. Henk adalah (mantan) Guru Besar Ilmu Sejarah Sosial di Universiteit van Amsterdam, Vrije Universiteit dan Leiden Universiteit Belanda.

Dalam sebuah simposium khusus yang diselenggarakan KITLV Leiden, Henk mendapatkan penghargaan khusus dari Pemerintah Kerajaan Belanda untuk peran besarnya mengembangkan studi ilmu sosial dan humaniora serta pengembangan kerja sama Indonesia-Belanda.

Aku tidak hadir dalam acara itu. Hanya menemukan keping cerita dari sejumlah kolega, di antaranya: Prof. Ariel Heryanto dan Ward Berenschot di laman Facebooknya. Sepekan sebelumnya, Aku juga sudah mendengar info tentang acara itu dari Gerry van Klinken saat berkunjung ke Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM).

Aku  menulis artikel ini untuk merekam sejumlah keping kenangan pribadi dengan Prof. Henk. Sebagai seorang mantan mahasiswa doktoral yang beruntung mendapat bimbingan dan arahan intelektual beliau.  Tulisan ini seperti mencoba membalas hutang budi yang memang tak mungkin bisa dibayarkan.

Jika dianalogikan dengan dunia tasawuf, Henk adalah ‘mursyid’ bagi seorang ‘salik’ alias pejalan akademik yang aku tempuh selama menjadi mahasiswa doktoral di Universiteit van Amsterdam (UvA) pada tahun 2006-2011.

Pada saat itu aku bernaung di bawah ‘pesantren’ bernama Amsterdam Institute for Social Science Research (AISSR). Selain Henk, bertindak ko-promotor (atau ‘co-mursyid’) adalah Gerry van Klinken dan Oscar Verkaik, seorang antropolog ahli gerakan sosial di Pakistan.

Studi doktoralku dimulai September 2006. Pada waktu itu selain menjadi Direktur Riset KITLV, Henk juga memiliki posisi sebagai Guru Besar Kehormatan di UvA

Masa menulis disertasi di bawah bimbingan Henk merupakan kesempatan “pengembaraan akademis” yang penuh gairah dan menyenangkan.

Gaya Henk melakukan supervisi tergolong “unik”: ia memberi luang lapang untuk melakukan eksplorasi akademis secara leluasa. Amat kontras dengan profesor yang mengarahkan dan mengontrol secara ketat perjalanan akademis mahasiswa bimbingannya.

Berbeda dengan sejumlah mahasiswa/i doktoral yang harus “setor” laporan perkembangan kerja setiap bulan atau bahkan tiap 2 minggu, kami hanya bertemu setiap 2 bulan atau lebih.

Suatu ketika aku belum memberi laporan kerja selama 3 bulan dan dia tetap rileks saja tak menegurku.

Biasanya seminggu atau dua minggu setelah aku menyerahkan progres naskah, kami bertemu di KITLV atau di kafe di kampus Universitas Leiden.

Acap kali kami bertemu sambil makan siang atau ngopi sore hari, bertiga bersama Gerry van Klinken. Atau kami bertemu di Amsterdam jika kebetulan dia ada jadwal mengajar atau rapat atau acara lain di kota penuh kanal yang permai itu.

Cara membimbing ‘membebaskan’ seperti itu, tentu, bukan tanpa risiko. Apalagi bagi mahluk ‘penunda pekerjaan’ seperti saya, hehe. Akibatnya baru terasa di penghujung perjalanan.

Aku teringat ketika bertemu dengan Henk saat kembali ke Amsterdam seusai melakukan riset lapangan kedua, sekitar minggu ketiga Januari 2010.

Beasiswaku akan habis pada bulan September. Dalam pertemuan di kafe  UvA itu aku menyampaikan rangkuman temuan fieldwork sembari menyodorkan rencana ketat penyelesaian disertasi.

Kurencanakan seluruh draft disertasi akan selesai ditulis dan disetorkan kepadanya pada awal Agustus, lalu minta waktu bertemu pada pertengahan Agustus sebelum aku mabur kembali ke tanah air pada akhir bulan.

Sebuah rencana yang kelewat optimistis dan percaya diri sebenarnya. Karena saat itu baru bab 1 alias ‘pendahuluan’ yang sudah kelar ditulis. Itu pun, tentu, masih memerlukan sejumlah perombakan menyesuaikan naskah terakhir nantinya.

Ada dua bab lain masih sangat mentah, baru uraian temuan lapangan yang miskin analisis—jadi, katakanlah, baru 50%. Empat bab lainnya masih kosong blong, huhuhu…

Mungkin karena nggak yakin dengan rencana ‘ambisius’ku itu Henk sempat bilang: jangan khawatir, jika nanti naskah belum bisa selesai saat harus pulang, bisa diatur untuk datang menyelesaikan disertasi di KITLV…

Sungguh ungkapan bijak yang mampu menenangkan hati kandidat doktor yang tengah galau akut tingkat dewa…

“Keajaiban”

Tujuh bulan berikutnya adalah masa penuh akrobatik mewujudkan “keajaiban” merampungkan disertasi. Di luar dugaan seluruh warga semesta alam, termasuk dan terutama dari diriku sendiri, ‘keajaiban’ itu terjadi.

Pada minggu pertama Ramadan yang jatuh pada bulan Agustus, aku berhasil merampungkan seluruh draft disertasi yang berisi 7 bab itu!

(Ada cerita panjang berakrobat mewujudkan ‘keajaiban’ menyelesaikan 7 bab draft disertasi dalam tempo 7 bulan itu—tapi perlu waktu dan kesempatan tersendiri lain kali…)

Aku ingat betul itu hari libur akhir pekan, entah Sabtu atau Minggu, pada 3 atau 4 Agustus 2010. Nyaris tanpa tidur kuselesaikan menulis, mengoreksi, menyelaraskan seluruh isi naskah disertasiku hingga mencetaknya pada hari itu. Pada tengah hari draft disertasi setebal sekitar 300 halaman itu kuantarkan ke kediaman Henk di Haarlem.

Kami berjumpa di dekat stasiun lalu berjalan bersama menuju sebuah kafe/resto di sana. Karena merasa lemah kurang tidur kuputuskan untuk tidak berpuasa hari ini. Kami makan siang dilanjutkan menyantap minuman segar.

Henk tampak sangat terkejut bahwa naskah itu bisa kelar pada akhirnya. Aku masih ingat salah satu kalimat yang dia sampaikan kira-kira begini: “Kamu seorang pekerja keras yang bekerja sangat cepat yang pernah saya kenal,”

Yang lebih melegakan dan membuat kepalaku agak membesar waktu itu, dia juga bilang: “Aku yakin, draft ini tidak akan memerlukan perubahan besar meski perlu disempurnakan….” Entah beliau mendapat bisikan dari malaikat siapa dia sampai kok bisa-bisanya bilang begitu…

Lalu kami berjanji untuk bertemu dan mendiskusikan draft itu 2 minggu kemudian di KITLV. Dalam diskusi bertiga dengan Gerry disampaikan sejumlah ide dan usulan perbaikan yang harus kulakukan setelah pulang ke Indonesia minggu berikutnya.

Pada 31 Agustus 2010 (?) aku terbang pulang ke Indonesia membawa seluruh barang, kenangan dan sejumlah catatan untuk menyempurnakan draft disertasi yang mulai kukerjakan sejak 2006 itu.

Setelah melalui sejumlah putaran revisi, termasuk mendapat saran dan masukan berharga dari Oscar Verkaik dan mendapat polesan suntingan yang cermat dan keren dari Mbak Sue Piper, istri mas Sawong Djabo, akhirnya disertasiku bisa diujikan secara terbuka pada hari Jumat 13 Mei 2011.

Ditemani dua kolega sesama kandidat doktor di UvA, Alpha Amirrahman dan Athi Sivan, aku menjalani ‘ritual ujian disertasi’ yang melibatkan sejumlah penguji termasuk Robert Hefner, Martin van Bruinessen, Gerben Noteboom dan Willem van Schendel sebagai pimpinan sidang.

Pada penghujung sidang ujian terbuka Henk menyampaikan pidato sebagai promotor yang indah dan menyentuh. Sorenya sebuah resepsi kecil digelar di gedung VOC alias Oost Indische Haus dihadiri sejumlah sahabat dan kolega, termasuk Dubes RI di Den Haag Pak Umar Hadi.

Perjalanan panjang menulis disertasi itu tak akan usai tanpa cipratan berkah dari Prof ‘Kyai’ Henk Schulte Nordholt. Terima kasih Pak Henk, matur nuwun, dank je well

 

FOTO: DOK. PRIBADI NAJIB AZCA

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like