Pelaku Kejahatan Juga Manusia: Sebuah Peluang Untuk Berubah

“ Di luar saya tidak punya keluarga yang mau menerima saya, saya ini anak terbuang ustadz. Di luar sana cari makan susah dan tidak aman. Harus berebut dengan preman-preman yang lebih dewasa. Lebih aman kalau di penjara gini. Saya bisa sekolah (belajar) dan dapat makan gratis”

By

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang kehidupannya selalu berkaitan dengan kehidupan orang lain di sekitarnya. Seorang pejuang tidak bisa berjuang sendirian. Sebuah negara tidak bisa berdiri sendirian. Demikian pula sebuah organisasi masyarakat (ormas), sebuah kelompok pergerakan, atau sebuah partai politik, tidak bisa berdiri sendirian.

Bahkan para pelaku kriminal dan terorisme itu juga tidak bisa menjadi penjahat atau ‘teroris’ sendirian. Mereka perlu orang-orang yang menopang kehidupannya. Ada keluarga, ada masyarakat, dan ada negara yang melingkupi kehidupannya.

Ketika seseorang berbuat teror atau kejahatan, maka pada dasarnya ia sedang mengkhianati orang-orang yang melingkupi kehidupannya. Dia sedang menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Menyusahkan korbannya, menyusahkan keluarganya, dan tentu saja menyusahkan diri sendiri.

Dulu saya sering bertanya kepada kawan-kawan saya para narapidana  di lembaga pemasyarakatan (lapas): “Apa sih tujuan kalian melakukan tindakan kriminal seperti jualan narkoba, mencopet, menjambret, mencuri atau kriminal lainnya?”

Mereka semua selalu menjawab “Untuk menopang ekonomi dan membahagiakan keluarga”.

Saya tanya lagi “Mengapa memilih jalan kriminal yang berisiko ditangkap aparat penegak hukum?”

Dan mayoritas mereka akan menjawab: sulit dapat kerja yang halal, cari jalan pintas, diajak teman, lemah iman, dan seterusnya. Intinya mencari pembenaran atas tindakan kriminal mereka.

Lalu biasanya saya akan menutup dengan pertanyaan : “Sekarang kalau sudah di penjara begini, kalian merasa semakin membahagiakan keluarga atau semakin menyusahkan mereka?”

Dan biasanya raut wajah mereka mendadak sedih ketika saya tanya begitu. Hanya orang yang sudah hilang akal yang akan menjawab “Saya tidak peduli dengan keluarga”. Sejahat-jahatnya mereka, mereka masih sayang pada keluarganya.

Dari titik itulah biasanya saya mulai mengajak mereka untuk bersama-sama tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Saya pun pernah merasakan seperti yang mereka rasakan. Ketika keluar nanti jangan sampai melakukan hal-hal yang justru berpotensi untuk semakin menyusahkan orang-orang di sekitar kita.

Tapi ada juga kisah seorang pelaku kriminal di bawah umur yang motif kejahatannya mengejutkan saya. Selama dua tahun saya hidup di lapas, dia sudah tiga kali masuk lapas. Residivis tiga kali. Dia sudah pamitan bebas ke saya dua kali tapi tak lama kemudian masuk lagi. Kasusnya memang receh banget, yaitu congkel spion mobil. Tapi minimal sudah kena 6 bulan kurungan.

Saya penasaran mengapa ia sepertinya tidak jera. Apakah karena hukumannya terlalu ringan? Atau bagaimana?

Jawaban yang saya dapat sangat mengejutkan. Membuat hati saya miris mendengarnya. Anda mau tahu jawabannya?

“Di luar, saya tidak punya keluarga yang mau menerima saya, saya ini anak terbuang Ustaz. Di luar sana, cari makan susah dan tidak aman. Harus berebut dengan preman-preman yang lebih dewasa. Lebih aman kalau di penjara gini. Saya bisa sekolah (belajar) dan dapat makan gratis”.

[Untuk Anda ketahui, anak ini memang tidak pernah mengenal sekolah. Dia belajar membaca dan mengaji ya ketika di penjara. Latar belakang keluarganya sangat menyedihkan, saya tidak sanggup menceritakannya dan tidak perlu menceritakannya]

Sedih rasanya. Di zaman kita sudah merdeka lebih dari tujuh abad masih ada anak seperti dia dan saya yakin masih banyak di luar sana yang mengalami nasib seperti dirinya.

Anda tentu tak habis pikir bagaimana bisa ada seorang anak yang lebih memilih hidup di penjara daripada hidup di luar sana? Makanan di penjara atau suasana di penjara itu termasuk tidak enak, kok ada yang merasa lebih baik hidup di penjara?

Itu artinya kehidupannya di luar penjara sangat menyedihkan.

Dan ini adalah PR kita semua. Memberikan kesempatan kedua yang lebih baik kepada para mantan pelaku kejahatan yang ingin bertaubat menjadi sebuah keniscayaan.

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane unjuk kebolehan bermain musik ketika digelar peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia di lapas setempat, Sabtu (17/8/2019).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

15 − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like