Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: Kita Ikut Bertanggung Jawab

By

The silent killer. World Health Organization (WHO) masih menempatkan bunuh diri sebagai penyebab kematian kedua di dunia untuk rentang usia 19 sampai 29 tahun. Bahkan organisasi yang bernaung di bawah PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) itu menyebutkan bahwa jumlah kematian yang disebabkan oleh bunuh diri jauh lebih besar daripada karena perang ataupun pembunuhan.

“Dalam 40 detik ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri,” ujar Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada siaran persnya di Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia yang diperingati pada 10 September 2019. Dari kalkulasi tersebut, WHO mencatat bahwa dalam satu tahun terdapat 800.000 kematian yang disebabkan oleh bunuh diri.

Melalui pantauan singkat pemberitaan di media di Indonesia, dalam satu pekan terakhir ini saja sudah terdapat 7 kasus bunuh diri. Dimulai dari seorang mahasiswa S2 di salah satu universitas di Bandung yang menggantung diri, hingga seorang brigadir polisi yang menembak kepalanya sendiri. Penyebab dari kejadian bunuh diri ini cenderung beragam. Namun setidaknya dapat dikelompokan dalam dua hal. Penyebab pertama adalah depresi dan kedua karena percintaan.

Dalam peta penyebaran kasus bunuh diri di dunia, WHO masih mencatat bahwa Indonesia memiliki tingkat bunuh diri rata-rata 5.2 dari 100.000 penduduk. Angka ini masih jauh dibawah tingkat bunuh diri di Rusia yang mencapai rata-rata 48,3 atau Kazakhstan yang di rata-rata 40,1.

Meskipun demikian, bunuh diri harus disikapi secara serius. Mereka yang memiliki potensi bunuh diri membutuhkan orang-orang disekitarnya untuk dapat mencegah tindakan ekstrem itu. Stigma atau justru menyalahkan orang yang memiliki tendensi bunuh diri sebagai seseorang yang tidak bisa menghargai hidup dan mudah menyerah harus dihentikan.

Secara alaminya manusia memang tidak dapat hidup sendirian. Disadari ataupun tidak, seseorang pasti membutuhkan peran orang yang lain. Bahkan disaat orang tersebut sedang tidak ingin berhubungan dengan manusia yang lain. Secara psikologis, seseorang yang berinteraksi dengan orang lain cenderung lebih sehat dan lebih bahagia.

Dalam kaitannya dengan bunuh diri, WHO menjelaskan bahwa setiap elemen dalam masyarakat memiliki peran yang penting. Hal ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu orang saja. Setidak terdapat lima fungsi masyarakat dalam mengurangi kejadian bunuh diri.

  1. Memberikan dukungan sosial (mengurangi stigma, meningkatkan awareness, dan pendampingan)
  2. Mengidentifikasi orang-orang yang memiliki potensi bunuh diri
  3. Melakukan tindakan pencegahan di tahap awal
  4. Membantu orang-orang yang memiliki potensi bunuh diri untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi
  5. Meningkatkan sense of belonging

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

5 − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like