Musikalisasi Puisi

By

Halo Sobat Ngobrol, gimana kabarnya ? Kita baru aja merayakan hari kemerdekaan RI ke-74 nih.

Btw, kalian udah pada ikut lomba-lomba yang ada di sekitar lingkungan kalian belum ? Kalau sudah, boleh dong ceritain hal-hal unik apa saja yang kalian rasakan dan alami saat mengikuti berbagai macam kegiatan tersebut 🙂

Bisa dengan kasih komentar atau lewat fitur chat yang mana ada di pojok kanan bawah.

* * *

Kali ini saya ingin membahas tentang wadah, tempat, ataupun ruang yang tersedia bagi kita semua untuk menyalurkan passion atau semangat kita. Baik itu yang sudah sangat terfasilitasi dengan baik maupun tidak. Tergantung bagaimana kita menggunakannya sebaik dan semaksimal mungkin.

Di era modern sekarang ini segala macam akses untuk mendapatkan informasi menjadi sangat mudah dan cepat. Mau tau tempat nongkrong yang asik, kumpulnya komunitas-komunitas keren, tempat belajar seni, musik, dan hal apapun yang bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas diri kita. Hingga lokasi indah nan kece bisa kita temukan di dalam sebuah gadget yang mudah dibawa kemana saja.

Kembali lagi ke individu masing-masing, intinya jika memang sudah niat dan semangat Insya Allah ada jalan. Jika tidak niat dan malas-malasan, ada aja alasan.

Di dalam Islam sendiri terdapat satu ayat Al-Qur’an yang mana Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tidak mau mengubahnya [ Ar-Ra’d : 11 ].

* * *

Sedikit sharing pengalaman pribadi saya akan masa-masa sekolah, pada saat menginjak bangku SMP saya sempat tertarik sekali dengan yang namanya musik ber-genre hip hop, serta genre lain yang di dalamnya terdapat unsur hip hop.

Yang mana menurut saya pribadi mendengarkan musik ber-genre tersebut bisa mengasah diri kita untuk memiliki kemampuan speaking yang lebih baik, baik itu dari segi intonasi, pelafalan, hingga kosakata yang akan bertambah.

Karena pada saat itu ruang atau tempat yang saya miliki terbatas, dan juga masih lebih mementingkan pendidikan, maka saya hanya bisa melampiaskan hobi saya tersebut dengan menyanyikannya di dalam kamar mandi, sekolah, kamar, maupun saat berkendara.

Hingga suatu hari, di mana ada salah satu pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskan saya dan teman-teman untuk bernyanyi. Melakukan sedikit aransemen musik serta menggabungkan sebuah lagu dengan puisi.

Setelah kelompoknya terbentuk kami pun berunding, yang akhirnya diputuskan lagu berjudul “R.I.P (Rhyme In Peace)” dari Bondan & Fade 2 Black yang akan kami bawakan. Digabungkan dengan salah satu puisi karya Taufik Ismail berjudul “Karangan Bunga”.

Mengapa kami memutuskan untuk menggabungkan kedua hal tersebut?

Alasannya adalah karena puisi dan lagu tersebut ‘terinspirasi’ oleh kisah seseorang yang telah meninggal. Puisi “Karangan Bunga” terinspirasi karena Arif Rahman Hakim. Sebuah nama yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Nama yang banyak digunakan untuk ruas jalan di beberapa kota di Indonesia.

Sedikit cerita mengenai kisah beliau, Arif adalah seorang mahasiswa tingkat empat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang terbunuh saat melakukan demonstrasi ke Istana Negara pada 24 Februari 1966.

Ia bersama para mahasiswa lain bertujuan untuk menggagalkan pelantikan anggota Kabinet Dwikora II yang di umumkan Presiden Sukarno tiga hari sebelumnya. Tapi mereka gagal, acara pelantikan itu tetap berlangsung.

Mengapa begitu?

Di dalam buku Soe Hok-Gie: A Biography of A Young Indonesian Intellectual, karya John Maxwell. Dikatakan bahwa, “Banyak dari menteri-menteri itu diangkut menggunakan helikopter, beberapa di antaranya bahkan datang berjalan kaki atau naik sepeda,” tulisnya.

Sedangkan lagu “R.I.P (Rhyme In Peace)” ditujukan untuk salah seorang kerabat dari grup Bondan & Fade 2 Black yang telah tiada.

Singkat cerita, musikalisasi puisi itu kami bawakan dihadapan guru dan teman-teman. Saya kebagian untuk melafalkan lirik rap yang ada di lagu “R.I.P (Rhyme In Peace)”. Ya akhirnya minat saya pada saat itu bisa sedikit tersalurkan dengan baik dan positif.

Jangan sampai karena tidak adanya ruang untuk berdiskusi, menyalurkan minat yang positif, serta bertukar pikiran yang tidak didukung oleh orang-orang terdekat maupun di sekitarnya membuat mereka mencari tempat di mana banyak terdapat komunitas yang mengeksklusifkan pribadi masing-masing dari masyarakat.

Apalagi untuk orang-orang yang sudah terkena paparan ideologi ekstrim yang memiliki keinginan untuk bertaubat tapi malah dijauhi oleh masyarakat dan tidak diberikan ruang maupun tempat untuk ia berdiskusi maupun sekadar berkontemplasi. Marilah kita rangkul mereka.

 

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu.

 

“Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.” (Karangan Bunga, Taufik Ismail)

 

FOTO RUANGOBROL.ID/FEBRI RAMDANI

Leave a Comment

Your email address will not be published.

twenty − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like