Mencari Bakat, Justru Terjebak Ekstremisme

By

Bakat. Kata ini memang paling kerap dicari-cari. Bahkan dalam setiap level kehidupan manusia, kata ini menjadi yang paling favorit untuk dibicarakan. Terutama jika dihubungkan dengan kesuksesan. Saking seringnya dicari, televisi di dalam negeri maupun luar negeri gemar sekali menyulap program menyanyi dan beratraksi menjadi ajang pencarian bakat. Makanya, jika ada resep instan untuk menemukan bakat dan mengembangkannya, saya jamin resep itu akan laku keras.

Berbicara mengenai bakat, bukan hanya soal menemukan apa yang jadi kesukaan atau keunggulan kita. Tetapi soal perkembangan kita sebagai manusia, termasuk kematangan mental, identitas, dan juga memahami diri sendiri. Sehingga, proses tersebut, menurut saya, bukan sesuatu yang dapat dilakukan sendirian. Anak memerlukan kehadiran dan arahan dari orang tuanya.

Setiap manusia pasti mengalami tahapan perkembangan. Dari bayi menjadi anak-anak, lalu berkembang menjadi remaja, dan pada akhirnya dapat dikatakan dewasa. Pada setiap tahapannya, kemampuan otak dan juga kekuatan fisik berkembang. Termasuk di dalamnya apa yang memang menjadi talenta dari manusia tersebut. Cuma, talenta ini lebih sering gak ngomong kalau sudah muncul, dan justru ngumpet kalau kita mengembangkan kemampuan yang lain.

Kalau sudah begitu, si orang tua yang kemudian jadi panik. Si anak didaftarkan ke berbagai aktivitas pengembangan bakat. Ya musik lah, ya olahraga lah, ya matematika lah, ya macam-macam. Harapannya sih biar bisa nemu satu yang jadi bakat si anak dan bukan bikin si anak kecapekan setengah mati.

Bakat menurut saya, tidak hanya soal mencari aktivitas yang bisa compatible dengan si talenta yang sering main petak umpet. Tetapi justru soal dialog antara orang tua dan anak. Inilah yang saya maksud sebagai kehadiran orang tua. Anak-anak masih bebas berekspresi tanpa harus dipaksa. Namun, orang tua hadir untuk saling bercerita dengan anak soal aktivitasnya itu. Pengalaman orang tua yang kemudian menjadi intuisi untuk lebih memoles si anak.

Pencarian bakat si anak ini, mirip atau bahkan bersinggungan dengan proses pencarian jati diri. Eksplorasi yang dilakukan si anak di masa perkembangannya dimaksudkan untuk menemukan sesuatu yang dia suka dan juga soal siapa dirinya. Oleh karena itu, dialog orang tua dan anak menjadi sangat penting. Karena, tantangan dan ancaman pada si anak sudah sangat beragam. Termasuk soal narasi ekstremisme yang menyebar lewat media digital.

Loh, kok mencari bakat bisa nyambung ke ekstremisme?

Ya bisa saja, karena seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa pencarian bakat itu mirip prosesnya dengan pencarian jati diri. Saat anak mengeksplorasi dirinya atau lingkungan di sekitarnya. Mereka menjadi salah satu sasaran empuk dari narasi-narasi ekstremisme. Narasi tersebut kerap menawarkan set identitas yang kuat, perasaan diterima, tujuan hidup, hingga soal jalan keluar dari kondisi si anak yang terjepit atau termarginalisasi.

Menghadapi tantangan tersebut, orang tua harus ikut berkembang dengan zaman. Kehadiran mereka sangat penting untuk dapat melakukan pencegahan secara dini terhadap anak yang mulai menyukai narasi ekstremisme.

Penelitian berjudul Parental Influence on Radicalization and De-radicalization according to the Lived Experienced of Former Extremists and Their Families menjelaskan bahwa ketidakhadiran orang tua di proses pencarian yang sedang terjadi pada anak, justru menjadi jalan bagi anak semakin tenggelam pada ekstremisme. Penelitian yang dilakukan di Belanda itu, menyebutkan bahwa salah seorang mantan ekstremis merasa bahwa dia tidak pernah bisa berdialog dengan orang tuanya. Mantan ekstremis yang lain juga menguatkan bahwa dia tidak ingin berbicara pada orang tuanya karena sudah memiliki kesan bahwa ideologinya akan diserang oleh orang tuanya. Hal-hal inilah yang membuat mereka semakin dalam masuk ke jaringan ekstremis.

Dialog antara orang tua dan anak memang menjadi salah satu cara yang mujarab untuk mencegah anak masuk dalam ekstremisme. Terutama ketika mereka mencari jati diri dan bakatnya. Namun, membangun dialog ini memang tidak pernah mudah. Oleh karena itu, dialog harus mulai dibiasakan sejak si anak masih kecil. Sehingga ketika remaja, mereka bisa memiliki teman dialog yang dapat diandalkan. Yaitu, orang tuanya.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

thirteen − 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like