Si Kecil Pembawa Pesan Perdamaian (2)

By

Banyak kolega saya yang bertanya, seiring dengan maraknya penggunaan internet: mampukah bisnis suara alias radio bertahan?

Saya meyakinkan kolega saya dengan analogi jika produsen otomotif dan telepon selular masih hidup maka radio tetap ada. Dalam setiap kendaraan sudah terpasang radio dan dalam gawai yang kita genggam pun sudah tersedia akses radio. Yang sekarang perlu dicermati adalah kecepatan internet dan perpindahan akses mendengar radio dari aplikasi stasiun radio ke podcast.

Tren bisnis radio akan terus berputar seiring dengan semakin mudah orang mengakses musik bukan bajakan. Bahkan, penyedia aplikasi memperbolehkan orang untuk “memiliki” stasiun radio sendiri. Pasar semakin mengkerucut (niche), mendengar siaran radio atau mendengar musik semakin bernilai “sesuai dengan kebutuhan” (on demand).

Tidak ada lagi istilah pendengar setia. Sekarang, istilahnya “mendengar yang ingin didengar”. Menjadi pendengar hanya karena tertarik isu yang ingin didengar saja dan bisa diulang-ulang.

Isu perdamaian sering menjadi isu yang serius saat disiarkan di radio. Isu perdamaian hanya menjadi penting saat muncul konflik. Padahal, mengusahakan perdamaian tanpa henti perlu dipikirkan dan dikerjakan setiap saat. Konflik adalah bahaya laten, potensinya tetap ada setiap saat.

Saat benih-benih kekerasan seperti terorisme bertumbuh lewat pesan kebencian atau pelintiran kebencian di media sosial, nampaknya publik melawan hanya lewat cara yang sama, di media sosial juga. Mengapa tidak bersuara lewat kanal suara yang bisa disebar juga di media sosial?

Di Solo, ada cerita yang menarik, ada pihak-pihak yang mengupayakan perdamaian lewat program radio. Laskar Hizbullah yang ikut dalam konflik di Ambon berjumpa dengan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) yang berdenominasi Mennonite. Laskar Hizbullah kerap dihubungkan dengan kelompok Islam beraliran keras. Mennonite berakar dari gerakan Anabaptis, gerakan Kristen di Eropa pada abad 16 yang dianggap radikal dari aliran Lutheran.

Kedua kelompok ini di Solo memiliki kesamaan, aktif di gerakan sosial untuk menolong orang lain. Selain itu, kedua kelompok juga memiliki wadah yang sama untuk menjalankan misi masing-masing yaitu radio. Laskar Hizbullah memiliki Radio Hiz dan GKMI memiliki Radio Immanuel.

Kesamaan inilah yang menjadi sumber potensial bagi perdamaian, dialog menjadi opsi utama sebagai bentuk pencegahan mengatasi persoalan yang bisa berujung kekerasan. Pendeta Paulus Hartono dari GKMI bertemu Yanni Rusmanto dari Laskar Hizbullah saat beberapa bencana besar di tanah air. Karena keduanya memiliki stasiun radio, maka kerap kali ada pengalaman saling membantu dalam urusan bisnis radio.

Di Poso, kita bisa menemui Rafiq Syamsuddin sang pendiri Radio Matahari. Rafiq adalah mantan kombatan saat konflik Poso. Siaran yang ada di Radio Matahari bertujuan untuk menyuarakan pesan perdamaian. Salah satu yang menarik adalah komposisi penyiar yang beragama Islam dan Kristen, dua kelompok yang pernah bertikai.

Lain lagi di Mindanao, Filipina Selatan, “Suara Mindanao”/SM adalah pelopor perdamaian di tengah kebuntuan negosiasi MILF (Moro Islamic Liberation Front) dengan pemerintah Filipina. Kepala program radio SM, Abdurraheem B. Sinarimbo, menjelaskan bahwa stasiun radionya membuka ruang dialog bagi semua faksi yang bertikai dengan pemerintah demi perdamaian.

Dari Jakarta pun tidak mau kalah untuk menjadi poros perdamaian. Radio KBR telah menyelesaikan delapan seri podcast yang berkaitan dengan “Hidup Usai Teror”. Cerita-cerita tentang radikalisasi yang dialami anak-anak akibat orangtuanya mengambil keputusan menjadi teroris dan bagaimana mereka melanjutkan hidup tanpa trauma masa lalu bisa menjadi pelajaran berharga bagi publik untuk terlibat dalam upaya mencegah radikalisasi terhadap anak-anak.

Begitu pula program podcasting Kreasi Prasasti Perdamaian (KPP) untuk empat anak muda yang pernah jadi para “pemuja” ISIS, dengan membantu melepaskan masa lalu mereka yang adalah “dosa sosial” membalik menjadi “menebus waktu yang ada”, dengan karya dan mimpi mereka di masa depan.

Saya senang dengan kalimat “It takes a village to raise a child”, yang mengandung makna setiap individu di komunitas atau lingkungan mempunyai tanggung jawab dalam proses keberhasilan, karena desain manusia sebagai mahluk sosial yang mengalami interaksi, ada pertemuan bahkan dengan yang berbeda.

Apa yang dilakukan Paulus, Yanni, Rafiq, Abdurraheem, KBR, dan KPP adalah upaya untuk meredam konflik dengan kekerasan seperti terorisme melalui kotak kecil bernama radio dan sekarang berkembang dalam format kekinian bernama podcast.

Dari cerita individu maupun institusi yang terlibat dalam upaya peace making di atas, kita akan melihat proses mau mendengar, mau menerima, dan mau mengerti satu sama lain. Jadi, bersuaralah demi Indonesia dan dunia yang minim konflik.

 

 

Foto: salesforce dot com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

14 + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like