Indonesia

Ustaz, Tumben Nggak Pakai Rompi?

By

Beberapa waktu lalu, Didi Kempot sempat jadi trending, dijuluki sebagai “Godfather of Brokenheart” oleh netizen. Sebabnya tentu saja karena lagu-lagunya mewakili manusia-manusia yang patah hati, putus cinta dan diliputi kegalauan asmara.  Memajang fotonya, menyanyikan lagunya, bahkan mungkin siul-siul menirukan nadanya adalah representasi dari: Aku (fans) Didi Kempot, Maka Aku Patah Hati.

Pada semiotika alias studi yang mempelajari tentang tanda, entah itu simbol, indeks maupun ikon, orang bisa jadi apa saja. Dilekatkan dengan apa saja.

Apa yang dikonsumsinya, jadi semacam perwujudan dirinya. Misalnya begini; ketika sekumpulan anak muda yang kerap mangkal di perempatan lampu merah, menutup badannya dengan jeans belel, kaus junkie, boots hingga rambut yang dibikin mohawk (biasanya untuk menegakkan rambut hanya dibutuhkan lem hasil patungan), maka sudah pasti orang-orang akan melabelinya dengan sebutan anak-anak punk. Gerombolan punk.

Tapi, apakah punk di sini sama dengan punk yang muncul di London, Inggris di 1970-an? Jawabannya berbeda: bisa iya bisa tidak.

Jawaban iya kalau hanya dilihat dari penampilannya saja; mirip! Serupa! Tapi jawabannya bisa juga tidak, ini jika dibedah lebih dalam: misalnya, apakah mereka kelas pekerja? Apakah mereka betul-betul antikemapanan sampai pada level menentang barang-barang branded yang dianggap memonopoli pasar? Dituding membuat kemiskinan.

Beberapa kawan yang mengidentifikasi dirinya sebagai Punk, pernah saya lihat juga memakai Converse, Adidas, Levi’s, sampai menggunakan ponsel keluaran terbaru.

Tampilannya rebel, tapi tidak mereknya. Lagu-lagu cinta, metal (melow total) juga kerap teralun dari mulut mereka, diiringi gitar kentrung penuh stiker. Malah ada yang tak pernah menyanyikan Sex Pistols sama sekali.

Ini bukan soal benar salah, bukan pula mau melabeli Punk tenanan atau tidak.

Dari obrolan-obrolan, setidaknya mereka mengkonsumsi semua benda itu, mengkonsumsi tampilan itu sebagai cara mereka mengaktualisasi diri. Mencirikan dirinya dengan karakteristik tertentu sebagai upaya ‘pembeda’ dengan orang kebanyakan.

Fenomena tanda ataupun simbol juga saya temui di beberapa kawan kampus dulu. Ada yang memanggil teman-teman terdekatnya diawali dengan kata: “kawan”. Saya menerka, mereka adalah orang-orang yang berusaha melabeli dirinya dengan “kiri”. Orang-orang sosialis lah.

Tentunya ada banyak tanda yang dilihat di sekitar kita. Karena memang manusia tak bisa lepas dari tanda.

Ketika kuliah dulu, saya sempat melakukan penelitian sosial di Dusun Nglarangan, Bandungan, Kabupaten Semarang. Di situ terkenal warganya pandai membuat anyaman bambu, khususnya keranjang.

Anak-anak kecil pun sudah pandai membuatnya. Ketika saya tanya, kok anak kecil sudah bisa membuat keranjang. Jawabanya singkat tapi memberi arti: “Cah Nglarangan po rak?,”

Begitupun pada dunia jihadi. Ini yang saya pernah tahu yaa. Aneka tanda, simbol, juga digunakan sesama mereka.

Seorang eks napiter kawakan yang pernah ikut perang di Afghanistan pada 80’an, kerap memakai rompi kemanapun pergi. Bahkan penampilannya jadi trend-setter, diikuti “pengikut-pengikutnya”.

“Saya memakai rompi juga jadi sarana mengingat zaman di Afghanistan, di Pakistan dulu, kan banyak tuh orang-orangnya pakai rompi. Memang bagi mereka kan itu sudah biasa, sehari-hari pakai rompi. Saya juga pakai karena memang enak, banyak sakunya, pakai motor juga enak dada nggak kena angin, karena saya kalau pakai jaket nggak suka, ribet,” kata dia pada sebuah wawancara dengan saya.

Bahkan, ketika tidak memakai rompi, kata dia, banyak yang menanyakan. “Ustaz, tumben tidak pakai rompi? Jadi rompi memang sudah jadi ciri sendiri buat saya,” lanjut ustaz yang penyayang binatang itu menirukan sambil terkekeh.

Ada juga sebutan khas bagi sesama mereka; ikhwan, memanggil yang laki-laki dengan antum, dan ukhti untuk sebaliknya. Pokoknya kearab-araban.

Bagi kelompok itu, sebutan adalah semacam tanda persaudaraan. Sama dengan sebutan teman-teman kampus saya dulu, memanggil “yang sekelompok” dengan “kawan”.

Ada pula, yang saking cintanya, sampai anak-anaknya diberi nama-nama senjata atau karakteristik militer. Jadi wajar saja kalau ada anak dinamai Makarov (pistol yang kerap dipakai pasukan merah Uni Soviet). Bapaknya ya aliasnya Abu Makarov. Atau nama-nama lain; Jundul-Jundullah (tentara Allah) sampai Armalita (Arma-Lite15, senapan serbu).

Perkenalan hingga akhirnya membentuk persaudaraan-persaudaraan bisa jadi diawali karena simbol, karena aneka tanda itu.

Sekali lagi, ini bukan soal benar salah ya, bukan soal baik  buruk. Sebab dalam dunia tanda, orang bisa jadi apa saja. Bukan begitu Kamerad?

 

 

FOTO: EKA SETIAWAN

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

2 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like