Makan Pisang Pakai Sambal?

By

Bagi orang-orang Indonesia yang hidup, lahir dan besar di daerah ‘barat’ mungkin makan pisang pakai sambal terdengar sedikit aneh. Tapi, ini menjadi sangat biasa bagi orang-orang Sulawesi.

Seperti yang saya temui ketika singgah di sebuah restoran di Manado dekat Bandara Sam Ratulangi, seorang pelayan menyajikan sepiring keripik pisang plus semangkuk kecil sambal ulek merah.

“Pisang Goroho,” katanya.
Melihat sajian itu, saya dan beberapa teman kaget. “Hah! Pisang apa?,” kami berujar hampir bersamaan.
Si pelayan kembali menyebut “Pisang Goroho,” katanya.
Sambil menyisakan tanya, saya dan teman mengiyakan aja akhirnya. Meski, dalam pikiran masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Paling mendasar adalah penasaran rasanya. Pisang kok pakai sambal? Seumur hidup, baru kali ini mendengar nama makanan itu.

Tapi, demi menjawab rasa penasaran itu plus menghormati ‘si tuan rumah’, kami mengiyakan saja sambil tersenyum. Lalu, dengan pelan karena masih penasaran, saya ambil satu keripik kemudian dicocol sambal.
Begitu sampai lidah, ternyata rasanya enak juga. Malah jadi ketagihan. Memang awalnya manis, tapi lambat laun rasa pedas sambalnya mulai terasa.
Seketika, penasaran kami juga hilang akan “Kok buah manis makannya pakai sambal” hehehe… mungkin memang gara-gara kami yang kurang piknik… hahahaha!
Makanan ini konon juga dipercaya bisa melawan kolesterol jahat. Jadi bermanfaat banget bagi kesehatan.

Usut punya usut, ternyata sambal yang menemani sepiring keripik pisang itu, merupakan sambal ikan roa atau rica roa. Tentunya, ini makanan Khas Manado, Ibu Kota Sulawesi Utara. Jadi yang kami makan ini, pisang sambal plus ikan. Lengkap dah!

Di restoran yang tempatnya banyak gubuk-gubuk, satu per satu makanan Khas Manado lainnya mulai memenuhi meja makan. Ada sop ikan woku, ikan mujair sambal pedas, perkedel ikan nike hingga sayur paku. Makanan terakhir itu, bukan paku yang dari besi itu lho yaa…tapi sebutan untuk sayur pakis.

Nah, dari makanan tradisional suatu daerah ini, menurut saya sih nggak jauh beda ketika bertemu teman-teman baru, yang punya kebiasaan berbeda dengan kita. Entah itu suku, agama, bahasa bahkan mungkin asal negaranya dan lain sebagainya.

Karena perbedaan muasal daerah itu, bisa jadi berbeda kebiasannya. Tapi ini penting untuk dihormati, dikenali untuk tahu lebih dalam. Jangan kenalan aja belum, tapi sudah menilai yang tidak-tidak. Kan nggak enak toh.

Ibaratnya begini, kalau mau kenalan, bisa kasih salam sebagai pembuka pembicaraan. Lalu berkomunikasi yang baik agar lebih saling kenal. Ini lebih baik daripada terus membuat jarak plus terus-terusan berprasangka.

Dengan saling mengenal, prasangka macam-macam yang awalnya timbul, bisa hilang seketika. Kan tidak ada salahnya saling mengenal perbedaan antarkita. Perbedaan itu kan kehendak Tuhan, memang sengaja dibuat begitu, agar makhluknya saling kenal satu sama lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

5 + ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like