Pengalaman Berada di antara Ibu-Ibu yang Dukung Kelompok Radikal

By

Pertengahan Juli lalu, saya berkesempatan berbagi cerita dengan para simpatisan sebuah kelompok radikal yang bercokol di Suriah. Diskusinya dilakukan di sebuah tempat di Jakarta.

Langit siang itu cukup bersahabat, tak terlalu terik. Walaupun kondisi saya yang kurang fit, batuk tak kunjung sembuh. Bagi saya, berbagi cerita di sana adalah pengalaman dan pelajaran berharga. Sebab mungkin tak semua orang bisa memperolehnya.
Saya mengawali cerita tentang perjalanan ketika dulu sempat ke Suriah, masuk ke wilayah kelompok radikal itu. Di sekeliling saya, yakni para audiens adalah para perempuan, termasuk ibu-ibu yang membawa anaknya. Mereka notebene adalah para pendukung kelompok radikal tersebut.

Setelah presentasi selesai, sesi tanya jawab dimulai. Ada seorang Ibu yang memberikan tanggapannya dengan membenarkan beberapa paparan saya.
Di antaranya; ibu itu menanggapi soal kebersihan. Dia mengiyakan menjaga kebersihan di sana (di wilayah kelompok radikal di Suriah itu) sangat sulit. Dia percaya.
Tetapi, ibu itu juga kaget karena ternyata ada anak gadis SMA yang sudah memikirkan hal-hal seputar khilafah. Dia membandingkan dengan ketika dia masih SMA, hanya memikirkan pelajaran sekolah saja. Ibu itu juga sepakat tentang khilafah ketika Imam Mahdi turun.

Tak berapa lama, seorang ibu lainnya, berkacamata, mengemukakan pendapatnya. Kata si ibu, setelah mendengarkan paparan saya, beliau semakin yakin dengan negara khilafah ini. Dalam hati, saya sangat kaget.
Teman di sebelah ibu berkacamata ini, juga cukup vokal. Mereka berdua sangat menentang paparan-paparan saya.

Saya menceritakan apa yang saya dan keluarga saya saksikan di negara tersebut. Jadi bercerita apa adanya. Mereka malah memandang, saya telah memfitnah khilafah.

Perbincangan antara saya dan kedua ibu itu semakin panas. Mereka mengatakan, tujuan saya ke negara itu hanya untuk enak-enak saja.
“Makanya kan, niatnya saja sudah salah, makanya Allah membalikkan kalian!,” kata si ibu.

Saya menjawab dengan tegas, bahwa saya tidak terima dengan pernyataan beliau. Apabila saya hanya ingin enaknya saja, buat apa saya dan keluarga melakukan tausiyah-tausiyah ke kantor -kantor atasan kelompok itu.
Kami berniat melakukan tausiyah, agar mereka dapat mengadakan perbaikan. Kami ada usaha untuk berdakwah dan mengingatkan kelompok radikal ini. Sampai akhirnya, kelompok radikal itu menyuruh kami berhenti membuat tausiyah dan keluarga saya juga diintimidasi (ketika beberapa polisi syari’ah datang ke kediaman kami).

Kami juga sempat membicarakan mengenai perlakuan-perlakuan mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun mereka kekeuh, merasa dirinya paling benar.
Kata-kata munafik pun akhirnya keluar dari mulut si ibu kepada saya. Rekan saya, yang mendampingi hanya bisa mengatakan:
“Apabila tuduhan tersebut salah, maka hal itu akan kembali ke yang mengucapkan,” ungkap rekan saya itu.

Pada diskusi itu, saya juga menyinggung perihal aturan-aturan yang dibuat oleh kelompok tersebut. Aturan yang ternyata bertentangan dengan Alquran dan Sunnah.
Misalnya: cambuk adalah hukuman bagi para perokok. Padahal, sudah sangat jelas dalil cambukan itu untuk siapa…. Lalu, atas dasar apa, perokok harus dicambuk, didenda bahkan sampai dipenjara?
Tapi, si ibu itu tetap saja terus berdalih. Mengatakan hal seperti itu adalah sebuah hukuman untuk membuat jera. (Ya ndak bisa doong. Konsisten doong. Jangan menagada-ngada. Itukan aturan yang dibuat-buat… dalam hati saya).

Dari berbagi cerita, diskusi akhirnya jadi debat panjang. Menurut mereka, orang-orang yang melanggar aturan islam, hanyalah oknum-oknum atau kelompok munafik yang ingin memfitnah khilafah itu. Saya pun tidak lupa untuk menjabarkan permasalahan teknik dakwah yang dilakukan kelompok tersebut.
Based on my experience, banyak dari mereka yang melakukan dakwah dengan cara yang bukan Allah perintahkan. Saya berkali-kali menyebutkan teknik dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, yang lemah lembut.
Padahal kan, Firaun itu udah sampai mengaku dirinya Tuhan, loh.

Momen ini, benar benar mengingatkan saya akan diri saya yang dulu. Dahulu, saya menyaksikan kelompok ini hanya dari media mereka. Saya dulu juga kekeuh dan tidak mau percaya dengan orang-orang yang menjelekkan kelompok ini.

Saya tidak mau mendengarkan pendapat pendapat orang di sekitar saya. Tidak beda jauh, dengan ibu-ibu ini. Mereka sama sekali belum pernah berangkat ke sana, belum menyaksikan sendiri. Saya pun dulu tidak mau melakukan tabayun. Saya menganggap kelompok itu pasti benar.

Dari sini, saya juga belajar. Apa yang harus dilakukan ke depannya. Sangat disarankan, dalam diskusi kita melakukannya rutin. Menggunakan pendekatan-pendekatan atau person to person. Tentunya juga harus sabar serta selalu ingat, bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan. Sesungguhnya petunjuk itu milik Allah.

Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/o19A3V9ujiQhH5Gw8

Leave a Comment

Your email address will not be published.

ten + 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like