Fenomena Para “Perindu Keajaiban” (2-End)

By

Kelompok seperti ISIS pun sangat sadar akan potensi dari masyarakat yang seperti itu untuk menjadi pengikut mereka. Dan mereka melihat sebuah peluang yang jarang diperhatikan oleh para ‘kreator budaya’ (pemegang kekuatan dan kekuasaaan) yang berorientasi pada kemakmuran dunia dan status sosial.

Peluang itu ada pada orang-orang yang tertindas karena persoalan ekonomi, dan orang-orang yang memiliki semangat puritan yang tinggi yang anti terhadap produk budaya yang berasal dari luar Islam.

Kedua golongan ini adalah musuh bagi budaya yang hedonis materialistis yang sedang gencar-gencarnya disebarkan oleh para ‘kreator budaya’ itu. Dan kedua golongan inilah yang paling ingin ‘memberontak’ terhadap kondisi yang terjadi.

Masalahnya, mereka tidak tahu model ‘pemberontakan’ seperti apa yang paling bisa mempengaruhi dunia.

Di sinilah ISIS mulai memainkan perannya.

Hampir semua pihak mengakui kehebatan propaganda mereka dan kecerdikan mereka memanfaatkan internet dan media sosial dalam menyebarkan propaganda mereka.

Sampai-sampai beberapa negara harus mengintervensi penyedia layanan jejaring sosial agar mau bekerjasama dalam membendung konten-konten berbau propaganda ISIS.

Propaganda mereka itu dibuat agar mudah diterima oleh orang-orang yang berpikiran sempit.

Bukan hanya mudah diterima oleh orang-orang berfaham radikal, tetapi juga oleh orang-orang awam yang sangat merindukan sebuah potret kehidupan baru yang lebih menjanjikan. Mereka belajar dari propaganda-propaganda kelompok jihad sebelumnya seperti Al Qaeda dan Taliban.

Kepada orang-orang awam yang merasa ditindas dan hidupnya susah, ISIS menawarkan sebuah potret ‘kenyamanan’ hidup di wilayah yang mereka kontrol dan cara melakukan perlawanan di wilayah yang sedang ditindas.

Di sisi lain mereka menawarkan praktek penegakan syariat Islam kepada para aktivis, terutama yang muda, yang jenuh dengan gerakan kelompoknya yang tak kunjung berhasil.

Hal itu mereka kemas dalam propaganda berisi narasi dan visualisasi yang sangat epik dan mereka sebarkan dengan memanfaatkan kemudahan teknologi informasi. Ditambah dengan para tentara dan pengikut mereka yang aktif menyebarkan propaganda itu.

Orang-orang awam yang sedang galau menghadapi hidup yang semakin sulit dan semakin rusak serta merasa semua itu diakibatkan berkuasanya orang-orang zhalim di negeri mereka, ditambah lagi mereka tidak tahu cara untuk memperbaiki keadaan itu, akan cenderung lebih mudah terpicu untuk mengikuti propaganda ISIS tersebut.

Mereka inilah para ‘perindu keajaiban’ yang kemudian melihat apa yang ditawarkan oleh ISIS sebagai ‘keajaiban’ anugerah Tuhan yang menjadi jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi, baik masalah spiritual maupun masalah materi (ekonomi).

Dan setelah ada para ‘perindu keajaiban’ yang terpengaruh oleh propaganda itu, mereka menjaga agar para pengikut baru itu tetap berpikiran sempit. Cara yang biasa mereka lakukan adalah dengan membanjiri pikiran para pengikut mereka dengan doktrin-doktrin yang sistematis dan bertubi-tubi sehingga terbentuk imajinasi yang sangat kuat bahwa semua yang dilakukan oleh ISIS adalah gambaran ideal yang harus ditiru.

Begitu kuatnya kesan dari propaganda masif yang dilakukan ISIS dan para pendukungnya, hal ini bahkan sampai berpengaruh pada bisnis di kalangan pengikut ISIS, di mana kemudian banyak dijumpai produk-produk fashion yang berkiblat pada gaya fashion tentara ISIS. Mulai dari kaos, gamis, celana, jaket, dan bahkan ada produk pisau sangkur yang mengadopsi bentuk pisau sangkur yang biasa digunakan oleh tentara ISIS.

Yang menjadikan berbahaya adalah para pengikut itu kemudian mencoba meniru atau mempraktekkan arahan dari pemimpin ISIS tanpa memperhitungkan kemampuan dan kondisi umat Islam di sekitar mereka.

Bagi mereka yang penting beramaliyah, yang penting bisa meraih mati syahid, yang penting bisa merepotkan thoghut, yang penting bisa ngeksis dan diakui sebagai anshar daulah, dst, tanpa memikirkan dampaknya terhadap kaum muslimin di sekitarnya secara umum. Padahal konon mereka itu memperjuangkan Islam dan kaum muslimin.

Bahkan resiko bahwa mereka bisa ditangkap sebelum amaliyah yang mana mereka berharap dapat mati syahid itu pun tidak mereka perhitungkan. Mereka ini mungkin beranggapan bahwa lebih baik mati dalam memperjuangkan ‘ideologi’ mereka daripada hidup terhina dalam kekuasaan thoghut.

Tapi ketika kemudian tertangkap sebelum amaliyah sebagai akibat karena memaksakan diri untuk melakukan amaliyah, lalu mereka dipenjara, bukankah yang demikian ini lebih hina lagi ? Hidup masih di bawah kekuasaan thoghut dan dipenjara lagi.

Bukankah masih lebih baik di luar, meski hidup di bawah kekuasaan thoghut tapi tidak dipenjara sehingga bisa terus berjuang bersama kaum muslimin ?

Atau mereka kemudian punya slogan baru : lebih baik hidup di penjara daripada hidup bebas di bawah kekuasaan thoghut ?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

20 + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like