Reputasi, Senjata Ampuh Melawan Stigma (2)

By

Kawan saya itu heran dengan temannya yang menawarinya untuk bergabung lagi itu. Kok tidak kunjung jera, malah semakin menjadi. Bahkan saat ini posisi hirarki temannya itu di jaringan narkoba semakin tinggi dan berhasil merekrut beberapa mantan pemain seperti dirinya di mana salah satu caranya adalah menghubungi melalui media sosial.

Ia hanya tak menyangka godaan  untuk kembali ke jalan lama itu masih saja ada meskipun sudah tidak bergaul dengan teman-teman lamanya. Media sosial memang terkadang bisa menjadi celah atau perantara berkembangnya jaringan kejahatan.

Kawan saya itu sebelumnya yang selalu ia posting di status Facebook-nya adalah seputar pekerjaannya sebagai salah satu marketing sebuah perusahaan, yaitu seputar menawarkan produk-produk dari perusahaan tempatnya bekerja.

Ia kemudian berfikir, mungkin kawannya yang mengajak untuk kembali bergabung itu menganggapnya masih belum mapan dalam ekonomi sehingga coba dirayu untuk bergabung kembali. Akhirnya ia mulai memposting kutipan-kutipan tausiyah dari para ustadz yang terkenal di wall Facebooknya. Dengan begitu ia berharap teman-temannya dari dunia hitam tidak lagi tertarik untuk merekrutnya.

Wah, boleh juga itu idenya. Bisa ditiru bagi orang-orang yang mengalami seperti yang ia alami.

Di penghujung pembicaraan, ia juga menceritakan masalah yang sedang ia hadapi saat ini, yaitu ia ingin segera menikah.

“Lha terus di mana masalahnya. Kan tinggal cari wanita yang menarik dan mau menikah dengan sampean“, tanya saya sedikit asal.

“Ya justru itu masalahnya mas. Apakah ada wanita yang mau menikah dengan orang seperti saya yang mantan kriminal dan penghasilannya masih pas-pasan ?”, jawabnya.

Hmm…benar juga. Kawan saya itu rupanya masih mengalami krisis kepercayaan diri. Sangat wajar mengingat beberapa kejadian tidak mengenakkan yang ia alami sebelumnya terkait statusnya sebagai mantan pemain narkoba.

Saya kemudian menyarankan agar dirinya bergabung di kelompok kajian keislaman yang diadakan oleh komunitas orang-orang yang baru ‘berhijrah’ seperti dirinya di Surabaya yang mulai marak belakangan ini. Dan nanti ketika sudah beberapa lama aktif mengikuti kajian, dirinya bisa menyampaikan keinginannya untuk menikah kepada ustadz yang menjadi penanggungjawab kajian itu. In sya Allah mereka akan membantu dengan senang hati.

Teringat tipsnya untuk mengubah image dirinya di akun media sosialnya agar tidak didekati oleh teman-teman dari dunia hitam, saya kemudian menyampaikan padanya bahwa tidak ada salahnya membangun reputasi diri dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya dengan mem-posting kegitan pengajian yang ia ikuti, atau kegiatan positif bersama komunitas tertentu, dll. Yang penting apa yang diposting itu bukan rekayasa dan mengandung pesan ajakan untuk kebaikan.

Adapun masalah takut riya’ maka itu kembali pada niatnya. Dan menurut saya niatnya itu baik. Ia ingin membangun reputasi dirinya untuk menghapus stigma negatif yang melekat pada dirinya selama ini. Apalagi dirinya ingin segera menikah dalam waktu dekat ini.

Bicara masalah reputasi, ada beberapa contoh upaya yang dilakukan teman-teman mantan napiter yang didukung oleh orang-orang di sekitarnya dalam membangun reputasi. Banyak pihak yang kemudian menyadari bahwa cara paling ampuh untuk melawan stigma adalah reputasi. Sehingga mereka mulai terpanggil untuk turut membantu para napiter dalam membangun reputasi.

Bagaimanakah kisahnya dan siapakah pihak-pihak yang telah ikut membantu para mantan napiter membangun reputasi ? Nantikan kisah selengkapnya pada tulisan berikutnya.

(Bersambung)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

1 × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like