Perbandingan Pola Gerakan Kelompok Jama’ah Islamiyah dan ISIS di Indonesia

By

Membahas kelompok teror di Indonesia memang seperti tidak ada habisnya. Sebab ia selalu muncul dari masa ke masa dengan slogan yang sama, hanya berbeda para pemerannya. Menariknya, setiap kelompok yang ada memiliki pola gerakan yang tidak sama. Dan ini terjadi pada Jama’ah Islamiyah sebagai kelompok lama, dan ISIS sebagai kelompok baru.

Jika kita breakdown secara menyeluruh, secara kemampuan militer kelompok JI relatif lebih siap, namun pola gerakan ini memakan proses waktu yang cukup panjang.

Di samping persiapan skill individu, pemilihan waktu dan target juga menjadi perhitungan, dan tidak asal ‘meludah sembarangan’.

Termasuk kehidupan latar belakang para pelaku yang terlibat dalam kelompok lama juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk beradaptasi secara cepat pada lingkungan yang berbeda dengan budaya yang mereka bangun selama ini. Pilihan musuh yang ditunjuk lebih spesifik, yakni negara-negara Barat sebagai far enemy (musuh jauh) atau orang-orang non-Muslim yang dianggap musuh.

Oleh karena itu, jika kita melihat pada kasus-kasus terorisme yang melibatkan kelompok JI di Indonesia sejak awal 2000 – 2009, targetnya selalu identik. Yakni pihak atau institusi yang berbau Barat atau institusi asing serta masyarakat non-Muslim.

Pihak Barat dituding sebagai dalang peperangan yang melanda banyak negara-negara Muslim di Timur Tengah, sementara masyarakat non-Muslim tertentu selalu dikaitkan pada komunal yang terjadi di Ambon dan Poso tahun 1999.

Sementara, dalam proses rekrutmen pada kelompok lama (JI) umumnya melalui proses seleksi yang cukup panjang dan melelahkan. Dengan kata lain, norma agama menjadi aturan ketat yang berlaku bagi seluruh kader. Tak jarang, mereka yang berbeda secara penampilan dan pandangan akan mendapat stigma sebagai orang-orang yang futhur atau tidak komitmen pada perjuangan. Dan mereka yang futhur, oleh kelompok dianggap ‘cacat’ dan akan tereliminasi pada proses seleksi selanjutnya.

Sedangkan, mereka yang tsiqoh atau konsisten terhadap perjuangan, memiliki aturan ketat dalam menjalankan prinsip beragama dalam kehidupan sehari-hari.

Karenanya, mereka yang terjaring dalam sebuah gerakan jihad versi JI, umumnya banyak berasal dari pendidikan pesantren yang sehilir. Selain juga melalui berbagai pengajian keagamaan yang membutuhkan waktu cukup lama.

Selain juga pola kehidupan yang diterapkan di pesantren tentu tidaklah memungkinkan bagi individu terkait untuk larut dalam cluster sosial yang lebih tinggi di luar kelompok. Seperti dunia glamour bertabur kemewahan duniawi.

Bagi mereka, menjadi insan mulia dengan memperbanyak ibadah adalah hal yang paling utama. Terlebih, tak sedikit mereka berasal dari latar belakang keluarga kelas bawah. Meski tidak menisbihkan adanya peran orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang kuat.

Sementara pola gerakan kelompok ISIS tentu agak berbeda dengan pola gerakan lama pada kelompok lain seperti Jama’ah Islamiyah (JI).

Pada kelompok ISIS, meski secara kemampuan jauh tertinggal dari kelompok lama (JI). Namun paling tidak, mereka paham bagaimana cluster sosial kalangan atas membentuk komunitas dan berjejaring antar sesama.

Hal ini tidaklah lepas dari latar belakang orang-orang yang tergabung dalam jaringan ISIS yang umumnya berasal dari berbagai latar belakang sosial yang berbeda atau non-pesantren.

Kita tidak bisa memandang bahwa mereka yang terpapar ideologi Takfiri dan berambisi ingin berangkat ke Suriah untuk mencari penghidupan di bawah Khilafah karena bermasalah dalam persoalan finansial semata.

Benar bahwa kemampuan kelompok ISIS di Indonesia terbilang rendah jika dibandingkan dengan para pemain lama di JI. Namun, dengan melihat latar belakang sosial dan tingkatan kasta yang mereka miliki, tentunya akan menjadi ancaman serius bagi keamanan di negeri ini. Mereka tidak lagi membutuhkan proses adaptasi panjang dan memakan waktu untuk bisa melebur dan menjadi satu dengan kasta sosial kelas menengah atas, sebagaimana pada kelompok JI.

Sebagaimana contoh kasus pada Dita Oeprirto, pelaku pengeboman gereja di Surabaya yang juga seorang pengusaha kaya. Atau pada peristiwa yang lain seperti serangan yang terjadi di kawasan Thamrin, Jakarta pada Januari 2016 lalu dimana para pelaku dalam aksinya juga diketahui menggunakan aksesoris brand ternama. Mereka paham bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan yang ada.

Dengan melihat kenyataan ini tentu akan mudah bagi mereka untuk melakukan serangan secara sporadic dengan target acak, dimana bukan lagi menyasar pada kepentingan asing tetapi seluruh komponen sosial yang dianggap berseberangan dengan mereka.

Dan mereka bisa berada dimana saja, bahkan bisa jadi mereka justru muncul dari orang-orang terdekat di lingkungan sekitar kita. Wallahu ‘alam…

 

Link foto: https://surabaya.tribunnews.com/2016/01/15/kelompok-teroris-terkait-bom-di-kawasan-sarinah-sedang-diburu

Leave a Comment

Your email address will not be published.

19 + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like