Pesan-Pesan di Toleransi Film Festival

By

Ketika sedang membersihkan memori smartphone, tangan saya tetiba terhenti pada beberapa foto. Foto saat saya mengikuti kegiatan Toleransi Film Festival tahun lalu di Institut Français Indonesia, di Jakarta.

Foto itu mengingatkan saya pada sebuah diskusi terbuka pada kegiatan itu. Diskusi yang dihadiri peserta umum dan Sejumlah narasumber yang cakap di bidangnya masing-masing hadir di sana, sebut saja; Bapak Alto Luger, Bapak Satria dan Bapak Nasir Abbas.

Meski saat itu saya datang terlambat, tapi Alhamdulillah sejumlah pelajaran dari kegiatan itu tetap didapatkan. Worth it lah pokoknya, last but not least…asik!

Kira-kira begini yang dibahas beliau-beliau di acara itu;

Bapak Alto selaku praktisi keamanan dan perdamaian, sempat bercerita, ketika perang beliau sempat menaruh Alkitab di kantungnya dengan harapan agar bisa terhindar dari lesatan peluru. Namun, akhirnya beliau menyadari, untuk bisa anti peluru harus menggunakan kevlar.

Menurutnya, terkadang kita suka merefer kepada agama untuk mencari pembenaran apa yang ingin kita percayai. Di sinilah terjawab, kenapa agama bisa dipakai untuk memanipulasi orang.

Beliau juga menyebut, agama merupakan bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab ini sesuai sila ke-1 Pancasila.

Beliau pernah menulis di akun Facebooknya, bahwa orang yang menginginkan perang adalah orang-orang yang belum pernah berperang, hanya tahu main game tembak-tembakan saja. Yang mana, apabila mati bisa diriset.

Pesan beliau untuk para milenial, agar kritis bersuara. Tunjukkan ketidaksetujuan terhadap intoleransi dengan masing-masing kapabilitasnya. Jangan pernah takut bersuara. Sebab, jika kita diam berarti kita ikut berkontribusi terhadap terjadinya intoleransi itu, untuk tetap mendapatkan legitimasi.

Sementara Pak Satria, selaku dosen bidang Pancasila dan Kewarganegaraan, membahas minimnya toleransi tentang rumah ibadah bagi penganut agama non-Islam. Sebab, masih banyak kasus rumah ibadah ditutup atau sekolah-sekolah mereka dilarang beroperasi. Jangan lupa, Indonesia ini dibangun oleh berbagai macam suku bangsa. Ada persatuan di antara kemajemukan.

Pak Satria sempat bercerita toleransi yang terjadi di Amerika. Ketika umat Muslim hendak salat Jumat, cukup sulit, sebab masjid masih minim jumlahnya. Akhirnya umat Nasrani membuka aulanya untuk dipakai kaum Muslimin menunaikan salat Jumat.

Ini sama dengan sinagog Yahudi yang dibuka pada malam hari untuk dipakai umat Muslim menjalankan salat Tarawih ketika Ramadan tiba.

Beliau mengajak berpikir, bagaimana jika posisi kita seperti mereka, pada posisi yang minoritas.

Selanjutnya, Bapak Nasir Abbas. Beliau menyampaikan, pada sejumlah kasus kriminal masih ada orang-orang atau kelompok yang menggunakan ayat-ayat Alquran dalam rangka melegitimasi tindakannya. Ini adalah sebuah kekeliruan.

Beliau menekankan akhlak Nabi Muhammad, akhlaknya Alquran. Kitab suci itu tidak hanya dibaca, tapi dipahami betul isinya. Sebab, yang tidak mempelajari betul-betul, hanya mengutip sana-sini, maka muncullah kasus-kasus intoleran maupun kriminalitas.

Sebelum diskusi ditutup, Monic Rijkers, selaku inisiator kegiatan, mengatakan tujuan digelarnya Toleransi Film Festival, salah satunya untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya toleransi. Apalagi hidup di Indonesia tentunya hidup di antara kemajemukan. Rumah Indonesia harus dibuat nyaman.

Kita berbeda… Tapi kita tetap satu…

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: