Pertama Kali Idulfitri di Lapas: Ada “Tukang Es Penjara”

By

Ramadan tiba.. Ramadan tiba.. Ramadan tiba.. Tiba-tiba Lebaran…tiba-tiba Lebaran.. tiba-tiba Lebaran… tiba-tiba… Lebaran…

Taqoballahuminna wa minkum taqobbal yaa kariim.

Tak terasa ya.. Kita telah melewati 30 hari bulan Ramadan. Seperti biasa, bakal ada yang bilang, “Kayaknya baru kemarin deh puasa, eh udah Lebaran aja”.

Alhamdulillah, momen kumpul keluarga besar dari seluruh penjuru daerah berkumpul dalam satu tempat telah dimulai. Entah itu di rumah nenek, pakde, tante,dan lain-lain.

Tapi… Siapa yang sangka, bakal ngerasain idulfitri di dalam lapas. Ya, L A P A S…. Lembaga Pemasyarakatan. Tidak salah lagi.

Pertama kalinya dalam sejarah hidup, merasakan kumpul keluarga sambil makan ketupat, opor, canda tawa, ngobrol di sebuah tempat yang sebagian orang menyebutnya tak wajar.

Namun, kami sangat mensyukurinya. Karena tahun ini, keluarga inti saya diizinkan Allah untuk lengkap berkumpul di tanggal 1 Syawal 1440 H ini.
Seperti yang teman-teman ketahui, pada 2017 kami merasakan Idulfitri di penjara (keluarga yang laki-laki) dan kamp pengungsian (keluarga perempuan) di Timur Tengah sana, jadi terpisah. Sedangkan di tahun 2018, ayah dan paman-paman saya sedang menjalani proses hukum, dan belum diberi kesempatan untuk berkunjung atau kumpul dengan keluarga di tanggal 1 Syawal. Dan tahun ini, keluarga inti saya, dan beberapa saudara bisa berkumpul di salah satu lapas di Jabodetabek. Sekali lagi, Alhamdulillah…

Pada malam sebelumnya, Bunda dan juga saudara-saudara saya disibukan dengan memasak lontong, opor, rendang telur, dan gulai ayam. Saya juga berpartisipasi dalam memotong timun suri dan acar khas Arab yaitu timun dan tomat yg dipotong kecil-kecil dan dicampur gula, garam, dan lemon. Pada Idulfitri sebelumnya kami tidak sesibuk dan seramai ini. Tapi, karena tahun ini kami dapat jadwal untuk pertemuan di lapas, kami mempersiapkan itu semua untuk besok dihidangkan bersama-sama dengan ayah dan paman. Tak lupa juga, kami membawa toples besar untuk es buah. Duuuh udah berasa piknik deeh kata petugas lapasnya.

Selesai Salat Idulfitri, kami bersiap-siap untuk berangkat. Waktu yang dijadwalkan adalah pukul 9 pagi sampai 3 sore.
Waah.. Kami sudah telat nih, karena menunggu taksi online yang sulit didapat dan harganya naik hingga 3x lipat, subhanallah…

Sampai ke “TKP” sekitar pukul 10.30 WIB. Setelah melalui berbagai proses pemeriksaan, mulai dari badan hingga barang bawaan. Kami masuk.

Di aula lapas sudah ramai dengan beberapa keluarga yang juga mengunjungi kerabatnya.
Bisa dibilang, barang bawaan kami yang paling banyak. Kayak orang mudik. Udah paling banyak, orangnya ramai-ramai pula. Heboooh. Sampe bawa gayung yang bentuknya kayak untuk siraman tujuh kembang, hahahaha. Ya abisnya sendok untuk es buah adanya cuma itu.

Setelah makan, kami berdiskusi dan memperbincangkan banyak hal. Mulai dari hal serius, menengah, dan lucu. Kami banyak tertawa ketika itu. Karena banyak lelucon yang kami bahas. Ya, itu aula berasa punya kita hehehe. Maaf ya.. Bapak dan ibu..Apabila terganggu.

Kami ngomongin agama, politik, hot news, youtuber, hasil ujian, dan banyak lagi. Terkadang kami juga menyinggung beberapa cerita masa lalu ketika di Suriah. Suasana Idulfitri yang sangat berbeda jauh dengan Indonesia.

Bener deh.. Walaupun tempat berkumpul kami bukan tempat yang wajar, kami tak terganggu akan hal itu. Bisa berkumpul dalam durasi yang cukup lama, bahkan bisa sambil tidur-tiduran, tempat itu bagaikan rumah sendiri.

Waktu Zuhur tiba, saatnya salat dan istirahat. Untuk ayah dan paman, diminta untuk kembali ke ruangan mereka dahulu. Baru nanti, mereka balik lagi ke aula.

Di satu sisi, ada hal yang menyedihkan. Karena beberapa keluarga masih belum bisa kumpul dengan lengkap. Kami hanya berharap kepada Allah, agar semuanya bisa kembali berkumpul dengan lengkap.
Bantu doa teman-teman semuanya juga ya..

Waktu terus berjalan. Jam telah menunjukan pukul 3 sore. Artinya, pertemuan kami untuk hari ini selesai. Kami segera sibuk membereskan makanan-makanan yang masih bersisa. Mencuci beberapa kotak makanan yang kami bawa. Es buah pepaya dan timun suri pun masih bersisa. Ayah pun menuangkannya di beberapa wadah yang ia punya, yang nanti akan dia bagikan ke teman- temannya di lapas. Dengan busana koko putih dan kopiah hitam, ayah menuangkan es buah segayung demi segayung. Melihat hal itu, sepupuku nyeplos: “Wah ada tukang es naik haji nih!,” lantas kami semua tertawa lagi.. Ayah saya menimpali: “Tukang es penjara……….”

Setelah semuanya selesai, kami semua berpamitan dengan ayah dan paman. Semoga kami semua segera bisa berkumpul dalam waktu yang dekat.

Waktunya pulang dengan membawa tentengan yang sudah enteng. Hehehe..

Itu cerita Idulfitri 1440 Hijriah saya
bagaimana Idulfitri kalian tahun ini?

Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/fXkYnLWmvvhYA4qF8

Leave a Comment

Your email address will not be published.

four × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like