Pengalaman Berdiskusi dengan Perempuan yang Tertarik Paham Radikal

By

Ada pertanyaan yang cukup mendasar apabila sedang membahas seputar ekstrimisme dan radikalisme. Salah satunya, bagaimana sih agar orang-orang yang udah masuk ke jaringan kelompok seperti itu bisa ditarik dan gak jadi radikal??

Pertanyaan di atas mungkin terkesan mendasar dan biasa. Tapi bukan hal yang mudah untuk bisa menjawabnya dengan tepat. Mungkin setiap orang punya jawaban dan cara yang berbeda dalam menangani hal tersebut. Ada saja yang caranya berhasil dan ada saja yang malah ikut masuk. #gubrak!

Nah, terkait hal itu, saya mau sedikit berbagi pengalaman ketika saya berdiskusi dengan salah satu peneliti dalam kajian terorisme. Semoga hal ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua.

Hasil diskusi itu, kami simpulkan ada 2 cara yang dapat membantu menjawab pertanyaan di atas tadi. Caranya adalah;
Pertama, cerita dari pengalaman langsung. Ya, kita bisa saja pertemukan mereka dengan orang-orang yang dulunya pernah masuk ke kelompok radikal. Ini biasa disebut credible voices alias suara yang dapat dipercaya.
Sebab apa, mereka itu pernah mengalaminya langsung. Contohnya ya saya ini dan keluarga, juga Pak Arief Budi (salah satu eks narapidana terorisme).

Saya pernah melakukan ini ketika ada seorang perempuan yang baru masuk kuliah menghubungi saya via DM Instagram. Dia cerita kalau tertarik kelompok ekstrimis yang dulu pernah saya masuki.
Menurut dia, kelompok itu berada di atas tauhid yang benar. Nah, saya itu kemudian mencoba menggunakan credible voices untuk membantu dia agar berpikir lagi.
Saya ceritakan semua hal padanya, pengalaman saya ketika sempat tergelincir masuk di kelompok seperti itu di Suriah.
Tapi sayangnya, dia tetap bersikeras dengan pemahamannya itu. Sebab, menurut seniornya, orang yang kabur alias melarikan diri dari wilayah kelompok itu di Suriah, agamanya tidak benar. (Kebetulan, dia mengetahui tentang kelompok ini dari kakak seniornya yang sudah mengikuti perkembangan kelompok ini sejak 2012).

Perempuan yang menghubungi saya via Instagram itu juga telah menganggap pemerintah sebagai togut. Saya sendiri sempat jelaskan perihal togut itu. Tapi lagi-lagi, dia tetap bersikeras dengan pemahamannya.

Di sisi lain, saya berpikir membahas hal seperti ini tidak bisa sekali dua kali. Harus intens. Apalagi, kami hanya membahas via chatting saja.

Saya juga ingat dengan pesan Bapak peneliti yang sempat berdiskusi dengan saya. Bahwa, kalau kita sudah jelaskan dari A sampai Z, tapi dia tetap bersikeras, tetep kekeuh, sebaiknya kita hindari perdebatan panjang. Sebab, kita kan tidak bisa memaksa orang untuk sepemikiran dengan kita. Sesungguhnya hidayah itu milik Allah.

Sementara, cara kedua adalah kritik dari dalam. Ini belum pernah saya lakukan sih.

Pada diskusi kami, dia terlihat telah memegang ideologi yang cukup kuat. Tapi, kami kan hanya berdiskusi via chatt, tinggal di kota berbeda, sehingga diskusi kami kurang maksimal.
Dia adalah perempuan yang sedang dalam proses mencari kebenaran. Dia sempat meminta kepada saya; buku-buku yang menguak kesesatan ISIS, namun dia tak mau kalau buku itu dari pemikiran pendukung togut.

Sebab itulah, hemat saya, kritik dari dalam ini bisa dilakukan dengan mempertemukannya atau berdialog langsung dengan para pakar di isu ini.

https://images.app.goo.gl/Jhvh5fErHzAXY8bv5

Saya sendiri sepakat dengan cara itu. Sebab, melalui komunikasi yang intens, kita bisa saling tau satu sama lain.

Mungkin teman-teman pernah mengalaminya sendiri bagaimana rasanya berdiskusi itu. Karena kita bisa membicarakan dan membahas banyak hal. Musyawarah, saling mendengarkan satu sama lain.

Ohya.. Jangan lupa juga niih! Harus kritis looh Improve your critical thinking guys!

Jadi, itulah beberapa hal yang bisa saya bagikan ke teman-teman semua di tulisan saya kali ini. Kayaknya masih ada lagi, deh! Tapi saya inget inget dulu yaaa… Hehehe.

Mungkin teman-teman punya cara sendiri dalam menyelesaikan masalah tersebut. Tapi ingat… Anti violence ya..
Kalau gitu nanti sama saja dong 🙅.

Nah, kalau menurut teman-teman bagaimana cara efektif ketika menemui hal seperti itu?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

two × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like