Tinta: Sorak Sorai Pemilu hingga Air Mata di Negeri 1001 Malam

By

Hari ini, Rabu 17 April 2019, Indonesia menyelenggarakan Pemilu alias pemilihan umum. Hajatan pesta demokrasi ke-12 sejak Pemilu pertama digelar pada tahun 1955 ini pastinya akan ramai, baik di dunia nyata maupun maya.

Loh kok di dunia maya juga? Nggak percaya, liat aja nanti akan banyak bertebaran foto-foto homo sapiens memamerkan kelingking yang sudah dicelup tinta biru.

Ngomong-ngomong soal tinta, jangan salah ya tinta bukan cinta, ternyata menyimpan sejarah tersendiri.

Di satu sisi, pada pesta demokrasi, tinta jadi semacam pembawa harapan. Tinta jadi artefak sejarah yang kuat (sekuat dia menempel di kuku kita), rakyat sudah (kembali) memilih pemimpin sesuai seleranya.

Tinta jadi semacam pengharapan besar rakyat miskin akan perubahan pada nasib, agar dipimpin mereka yang amanah, yang kelak (mungkin) bisa sedikit membetulkan nasib mereka.

Setidaknya yang miskin nggak jadi makin miskin karena rezim berpihak pada yang berduit, yang kaya ya nggak jadi makin kaya raya karena punya ruang monopoli lewat regulasi.

Bahkan saking pentingnya tinta, sampai diatur dalam regulasi loh. Yakni, pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengadaan dan Spesifikasi Teknis Tinta Keperluan Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Tingkat I dan DPRD Tingkat II Kabupaten/Kota 2009.

Tertulis pada Bab II Pasal 5 ayat (3), bahwa; “Tinta harus memiliki daya tahan atau lekat selama tiga hari, dan memiliki daya tahan terhadap proses pencucian dengan keras baik menggunakan sabun, detergen, alkohol maupun solvent lainnya”

Tuh baca tuh, cinta eh tinta harus kuat, nggak boleh gampang hilang. Kalau gampang hilang nanti melanggar undang-undang. Cinta ehhhh tinta, sebagai penanda, jangan juga cari segala cara dihilangkan agar bisa memilih lagi ya (memilih apa nihhh hehehe).

Penggunaan tinta untuk celupkan di kelingking pada Pemilu, bukti pemilih sudah menggunakan hak pilihnya, kalau di Indonesia dimulai pada Pemilu 1999. Itu adalah Pemilu memilih anggota Legislatif, jadi Pemilu pertama sejak Orde Baru lengser pada 1998.

Nah kalau tadi tinta itu jadi semacam penanda pesta demokrasi, hajatan besar bangsa ini, yang tentunya harus dirayakan dengan gegap gempita, tapi tinta juga punya sejarah menyedihkan.

Kontras dengan pesta yang identik dengan gembira, tinta juga punya sejarah tentang air mata.

Tinta sempat menghitamkan Sungai Tigris, Baghdad, Irak, negeri 1001 malam itu.

Dari beberapa sumber dan literatur sejarah, disebutkan pada Februari 1258, Baghdad yang saat itu jadi ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah diinvasi oleh Pasukan Mongol dan sekutunya di bawah pimpinan Hulagu Khan.

Kecerdikan Bangsa Mongol mengutak-atik taktik, terutama soal strategi perang, ternyata bisa menaklukan Baghdad dalam tempo sekejap. Akhir Januari 1258 mengepung pinggiran kota, pada 10 Februari kemudian Baghdad menyerah.

Pada 13 Februari 1258, dimulailah pembantaian di Baghdad. Bangunan dibakar, dihancurkan, orang-orang dibunuh, harta dijarah, bahkan perpustakaan terbesarnya yakni Bait al-Hikmah dibakar habis.

Tak kalah tragis, berbagai dokumen sejarah, termasuk soal pengetahuan mulai dari pengobatan, astronomi, sastra dan sebagainya, dihanyutkan di Sungai Tigris.

Sebab itulah, Sungai Tigris disebutkan, sampai-sampai airnya berwarna hitam. Hitam karena tinta-tinta dari saking banyaknya manuskrip yang dihanyutkan di sana.

Tinta yang luntur jadi semacam penanda runtuhnya peradaban kala itu. Ilmu yang dihancurkan.

Biarlah sejarah menjadi sejarah, cukup dijadikan pelajaran berharga untuk mendapatkan masa depan yang lebih bermartabat. Tinta ternyata bisa mempertaruhkan sebuah masa.

 

 

Sumber Gambar: https://indonesiainside.id/wp-content/uploads/2019/03/pemilu2019-e1553066712942.jpeg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: