Dhania

WNI Simpatisan ISIS yang Terdampar di Suriah Mau dipulangkan Nggak Nih?

By

Sebagian warga negara Indonesia berada di antara ribuan pengungsi Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) menginginkan bisa pulang ke Indonesia. Berita itu adalah salah satu topik yang sedang hangat ditulis berbagai media di Indonesia, selain tentu saja soal #01 dan #02, maklum udah mau Pemilu.

Ribuan pengungsi itu mungkin saja statusnya beragam. Ada yang petempur, ada pendukung, ada tim hore ataupun anak-anak yang mungkin saja terseret-seret orang tuanya hingga sampai ke negeri nun jauh di sana, Suriah.

Simpatisan aktif ISIS itu kocar-kacir setelah kantong terakhir yang diduduki ISIS yakni wilayah Baghuz di Suriah, direbut kelompok SDF (Syirian Democratic Forces alias Pasukan Demokratis Suriah), yang merupakan Kurdistan.

Di antara mereka, ada perempuan dan anak-anak. Ada di antara mereka perempuan asal Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang terang-terangan menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia.

Melihat fenomena beberapa hari terakhir ini, sepertinya sejarah terulang kembali. Dua tahun lalu, tahun 2017 ada fenomena serupa.

Diawali media asing memberitakan tentang adanya belasan WNI yang berada di Kamp Ain Issa dan Kobane, utara Raqqa, Suriah. Lewat media pula, keinginan mereka saat itu pulang ke Indonesia, mencuat.

Dua tahun lalu itu pula, tepatnya pada Agustus, belasan WNI yang sempat “menjajal” tinggal di wilayah ISIS di Suriah, akhirnya dievakuasi dan dipulangkan. Tentunya setelah melalui perdebatan alot, bahkan di antara fungsi-fungsi, kementerian – lembaga sendiri, sempat berdebat alot soal apakah mereka akan dipulangkan atau tidak.

Perdebatan saat itu juga terjadi di antara warganet lewat komentar-komentar mereka di sejumlah media online. Persis sama seperti komentar-komentar yang terjadi beberapa hari ini di sejumlah media online.

Saya kutip ya, beberapa komentarnya;

“Tolak mereka kembali ke Indonesia”

“Setelah merasa hidup susah kemudian ingin kembali ke Indonesia? Dan mereka berharap diterima dengan baik? Ibarat pacar gw selingkuh dan berkhianat, gak akan sudi gw terima lagi. Karena gw tahu hatinya sudah gak sepenuhnya lagi cinta ke gw”

“Saya menolak mereka kembali ke NKRI, mereka berbahaya, hidup NKRI, hidup Pancasila”

Itulah sebagian kecil saja komentar yang ada tentang fenomena WNI yang pingin balik ke Indonesia dari wilayah ISIS di Suriah.

Dari salah satu berita yang saya buka, dan lihat komentarnya, ada 56 komentar, mungkin 99 persennya yang menolak. Memang ada 1 warganet komentar, kalau mereka harus dipulangkan karena mereka hanya korban doktrin, tapi lantas komentar itu langsung “disambit” warganet lain yang tak sependapat.

Memang, pendapat tak bisa diseragamkan. Warganet bebas berpendapat, mau mendukung dipulangkan, mau tidak, terserahlah. Hla kuota-kuota mereka, henpon-henpon mereka, tulisan ya tulisan mereka, pikiran ya pikiran mereka. Sak karepe.

Tapi kalau menyajikan fakta, boleh juga dong. Ini juga bagian dari kebebasan berpendapat kan?

Dari belasan WNI yang dievakuasi dan kemudian dipulangkan ke Indonesia dari sana pada 2017 lalu, nyatanya sampai sekarang adem ayem saja. Ketakutan warganet kalau mereka dipulangkan lalu bikin bom, membuat rusuh, tetap dan makin jadi radikal, tak terbukti.

Setidaknya, pengalaman saya pribadi juga bersinggungan langsung dengan salah satu dari mereka yang dipulangkan. Dia itu kebetulan ya sekarang sering diskusi dengan saya soal tulisan, saya membantu dia yang rutin membuat artikel untuk dipublish di media.

Isi artikelnya bukan soal propaganda ISIS kok, bukan soal hebatnya ISIS, bukan soal ajakan untuk gabung ISIS. Malah sebaliknya. Dia sering cerita pengalamannya lewat tulisan, tentang bagaimana fakta sebenarnya di wilayah ISIS sana, yang penuh dengan kebohongan.

Janji-janji manis yang membuat beberapa orang terbuai, dihantam dengan pengalaman dia bahwa janji-janji manis itu bohong. Dia juga dengan berani, sekarang sudah kerap tampil di depan publik lewat berbagai diskusi atau workshop. Menceritakan pengalamannya dan mengungkap kebohongan-kebohongan ISIS. Dia cerita lewat film dokumenter juga.

Hemat saya, ini kan bagus. Kalau bahasa ilmiahnya; sebagai kontrapropaganda, kontraradikalisme atau kontra-kontra lainnya lah, yang intinya berbagi pengalaman agar orang lain jangan sampai terseret ke sana, seperti dia.

Artinya, lebih bijak tidak menggeneralisir suatu fenomena ya. Ojo gebyah uyah. Dihantam semuanya tanpa pandang bulu. Pukul rata, kalau semuanya yang terdampar di wilayah ISIS sana adalah jahat, teroris, tak patut diterima. Seperti komentar salah satu warganet yang sudah saya kutip di atas. Ibaratnya pacaran, putus, ngajak balikan. Itu tak melulu jahat kok, malah dari balikan lagi ternyata bisa membuat hubungan jadi lebih harmonis. Eeeaaaaa…walaupun memang kudu tetap waspada, tapi memberi kesempatan kedua ternyata nggak susah kok…eeaaaaa (lagi).

 

 

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN

Leave a Comment

Your email address will not be published.

twenty − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like