Secercah Harapan dari Tanah Runtuh (Bag. 3)

By

Setelah beredar kabar tentang akan adanya penggerebekan oleh aparat keamanan di Pondok Pesantren (Ponpes) Amanah pimpinan Adnan Arsal di Tanah Runtuh, Poso, dimana saat itu muncul indikasi bahwa ponpes tersebut menjadi tempat persembunyian bagi beberapa DPO.

Meski semuanya telah dipersiapkan dengan matang, namun jelas ada kepanikan dan kekhawatiran di kalangan para jihadis ini.

Pasalnya, banyak dari mereka yang merasa belum siap. Terlebih persenjataan yang mereka miliki, rupanya sebagiannya tidak bisa berfungsi dengan baik.

Iring-iringan petugas gabungan TNI/Polri sudah nampak berkumpul sejak waktu Subuh. Setiap sudut jalan keluar masuk menuju Tanah Runtuh, sudah diblokir. Tak ada celah sedikit pun untuk bisa meloloskan diri dari kepungan petugas.

Hingga tepat pukul 6 pagi, Senin (22/1/2007), nyalak senjata api terdengar nyaring dari dalam ponpes. Tanda bahwa pertandingan laga sudah dimulai dan tidak mungkin lagi bisa dihindari.

Petugas segera membalas dengan rentetan tembakan yang mengarah langsung menuju ponpes.

Kondisi bangunan Ponpes Amanah yang berada tepat di kaki bukit dengan hutannya yang lebat, sedikit memberikan keuntungan bagi para jihadis untuk mencari tempat perlindungan.

Sementara Ocha, yang ketika itu membawa bom pipa dalam ukuran kecil menggunakan ransel dan sudah dalam posisi. Di dalam ranselnya, berisi sekitar 40 buah dan siap pakai.

Sialnya, bom yang ia bawa hanya bisa digunakan secara manual dengan cara dibakar melalui sumbu, lalu dilemparkan ke arah kerumunan petugas. Kondisi demikian tentu membuat Ocha mau tidak mau harus berdiri di garda depan. Fungsinya jelas, sebagai benteng pertahanan.

Meski daya ledaknya tidaklah besar, namun bom yang dibawanya cukup berhasil menghambat laju pergerakan petugas yang berusaha untuk mendekat.

Tak ada satu pun aparat yang berani mendekat ke ponpes. Dengan perhitungan yang asal-asalan, bukan saja akan merusak strategi tempur, tapi juga membayakan nyawa mereka sendiri. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu.

Dengan ditutupnya seluruh akses keluar-masuk menuju Tanah Runtuh, maka tak ada sedikitpun celah bagi para jihadis untuk memperoleh bantuan dari luar baik personal maupun logistik. Dan tentu petugas sudah mempertimbangkan hal tersebut.

Dan benar saja, menjelang siang hari, tempo perlawanan para jihadis dari dalam ponpes sudah mulai kian menurun. Hal ini disebabkan karena semakin berkurangnya amunisi yang mereka miliki, juga kondisi lelah dan lapar yang mereka hadapi.

Maklum, tak ada sedikit pun bantuan logistik yang masuk ke pesantren sejak status siaga dihembuskan oleh pihak keamanan. Kecuali hanya sedikit cadangan bahan pangan milik ponpes yang disimpan di dapur. Dan itu pun diambil dari jatah milik para santri yang sebelumnya telah diliburkan oleh pihak ponpes menyusul rencana kedatangan pihak keamanan.

Akibatnya, sejak pagi tak ada satu pun dari mereka yang mengkonsumsi makanan sama sekali. Kecuali hanya sedikit air putih. Sementara, di luar pesantren, pihak aparat terus menembakkan peluru tajam ke arah mereka seolah tanpa jedah.

Alhasil, korban pun mulai berjatuhan terkena peluru tajam dari petugas keamanan.

Kondisi mereka kian terdesak, sementara beberapa sudah kehabisan peluru. Bom yang Ocha bawa sendiri tersisa hanya beberapa buah saja. Kondisi seperti ini tentu sangat mustahil bagi mereka untuk bisa bertahan dari gempuran aparat, bahkan sekedar untuk menyelamatkan diri.

 

 

Link foto: https://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?51741-What-s-Lies-on-Lake-Poso

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: