Hei Milenial!

By

HBeberapa tahun yang lalu dan juga tahun ini, mungkin beberapa tahun ke depan, banyak banget tema besar yang terus hangat dibicarakan. Ya, kalau bisa dibilang salah satunya saat ini adalah ANAK MUDA/ Millenial yaitu yang lahir sekira tahun 1980-1995.

Kita gak perlu bahas lagi, soal millenial. Kalian bisa surfing di Google sepuasnya ampe tenggelem, surfing lagi, sampe dapet.

Kenapa sih mereka digosipin melulu?

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan pada artikel berjudul “Bocah Timur Tengah”, bahwa para millenial lah yang nantinya menguasai perekonomian, pendidikan, serta pemegang Indonesia emas tahun 2045.

Ya.. Bagus dong, terus kenapa digosipin melulu sih? Sampe buat-buat pelatihan, seminar, forum diskusi, atau acara-acara serupa.

Naah, di balik kebaikan ada keburukan, ya kan..  ntar kalau disebutin jangan pada pada baper dan demo, ya…

Mohon ijin yaa netijen. Jadi, dikarenakan aksi-aksi intoleran, paham-paham yang menjerumus pada kekerasan udah mulai merambah ke sekolah-sekolah dan anak muda. Inilah yang dibahas dalam Seminar Nasional di Banjarmasin pada tanggal 16 Februari 2019. Mengusung tema: Cinta Milenial demi Pancasila Yang Ideal.

Di era generasi kita-kita niih, jaman udah bedaaa banget dengan jaman emak babe kita dulu. Lah terus kenapa mereka kagak digosipin..? Sabar doong! Setiap jaman atau generasi punya baik dan buruknya dan juga tantangan yang berbeda. Nah, kalau jaman emak babe lu muda, ya elu mana tau mereka pernah ikut seminar-seminar gitu… 😑😑.

Bapak Mirza Satria Buana S.H M.H Ph.D selaku Dosen Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, banyak memaparkan seputar millenial dan akal yang merdeka.

Beliau memaparkan seputar tantangan-tantangan di jaman millenial ini. Seperti bonus demografi di tahun 2030, post truth era (pasca kebenaran), Twitter’s effect (short literacy), Hoax, intoleransi, dan populism.

Nah,ini lucu.*ketawa dulu doong HAHA.

Banyak masyarakat indonesia membenci Donald Trump karena ia melakukan populism, eh secara gak sadar banyak masyarakat kita yang juga seperti itu, lho. Populism itu maksudnye takut akan ancaman minoritas, sehingga menekan para minoritas. (kayak apa? mikir sendiri deh,ya.. hehe)

Nah, ngomongin soal Pancasila, Pak Mirza juga menyebutkan bahwa tiap generasi mengenal dan berjumpa dengan Pancasila dengan caranya masing-masing… “Biarkan aku..mencintaimu dengan caraku…” Eyaaak.

Ohya, Pancasila itu juga bisa ditafsirkan oleh penguasa untuk tujuan politiknya, loh!

Pancasila emang udah dibentuk dari jaman dulu, tapi bukan berarti jadi dipaksakan. Keterbukaan Pancasila ini yang menjadikan Pancasila mampu menerima perubahan jaman. Apalagi anak jaman now. Secara bahasa aja kan udah males yang baku-baku gitu kan.. Senengnya mah bahasa-bahasa puitis senja, asiiq.

Ohya selain itu, anak millenial seringnya tuh ngumpul, buat konfrensi meja bundar di kafe-kafe, restoran, sekolah sampai coworking space. Itulah Pancasila pun harus menjadi suatu hal yang bisa didialektika/didiskusikan. Kalau dipaksakan, ya mana nempel ke para millenial.

Negeri sih, merdeka. Gimana dengan akalnya?  Akal juga harus, dong!.

Pak Mirza menyampaikan begini, dengan akal yang merdeka, maka isu-isu (apapun itu) itu dapat didekati secara objektif, kita jadi terbiasa mendeskripsikan fakta-fakta bukan asumsi, dapat dan terbiasa berfikir metodis, terbiasa untuk Do research before judging, dan juga selalu memverifikasi kebenaran. Itulah beberapa hal yang saya ingat dari beliau.

Jadi, menurutmu. Seberapa pedulikah millenial saat ini dengan Pancasila? Dan sudahkah akal kita merdeka?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

20 + nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like