Bebas Penjara, Eks Perakit Bom Beri Kenang-kenangan Dua Boneka

By


Dua buah boneka digenggam Fajar Sodiq, yang merupakan Staf Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas) Lapas Kelas I Semarang alias Lapas Kedungpane, sembari mengantar keluar seorang narapidana yang bebas pagi itu, Sabtu (23/2/2019).

Di antara ramainya kunjungan besuk, Fajar mengantar sampai pintu keluar lapas. Saat itu, sekira pukul 10.00 WIB.

Yang di antarnya keluar adalah Nawa Barkah Saputra (30), seorang narapidana kasus terorisme. Barkah hari itu bebas setelah menjalani hukuman 6,5 tahun penjara. Saat berada di lingkaran kelompok teror, Barkah dikenal sebagai perakit bom.

Dua boneka itu, satunya berbentuk seekor pinguin, satunya kucing yang sedang nggondol ikan. Di badan dua boneka itu, dijahit dengan benang tulisan Kedungpane 23-02-2019. Itu adalah waktu Barkah bebas. Di boneka pinguin, tertulis pula B1/82/2016, yang merupakan nomor registernya di Lapas Kedungpane.

Dua boneka itu adalah bikinan Barkah, yang diberikan kepada Fajar sesaat sebelum bebas penjara. Diberikan sebagai semacam kenang-kenangan dan ucapan terimakasih karena telah membimbingnya dengan baik. 

“Barkah dapat PB (Pembebasan Bersyarat) dan remisi. Vonis 10 tahun jalani 6,5 tahun,” kata Fajar sesaat setelah mengantar Barkah keluar.

Barkah sendiri mulai ditahan di Lapas Kedungpane tahun 2016. Sebelumnya dipindahkan dari Lapas Cibinong.

Selama ditahan di Lapas Kedungpane, Barkah berkelakuan baik dan kooperatif.

Barkah juga kerap menulis. Baik itu puisi maupun cerita pendek. Ada dua cerita pendek buatannya yang diikutkan lomba menulis antarnarapidana dalam rangka memeriahkan Hari Dharma Karyadhika, Oktober 2018 lalu.

Dua cerpen Barkah yang dilombakan itu masing-masing berjudul; Begitulah Kejadiannya dan Not at Educational Employment or Training.

Sehari sebelum bebasnya Barkah, pihak Lapas Kedungpane telah melakukan berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Semarang dalam rangka serah terima dengan Kejaksaan Negeri Semarang untuk dilimpahkan ke Bapas Solo dan Kejari Solo.

Pihak Lapas Kedungpane juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri perihal bebasnya Barkah ini.

Di Lapas Kedungpane sendiri, setelah Barkah bebas, hingga Sabtu (23/2/2019) ini masih ada 5 napi terorisme yang mendekam di sana. Masing-masing; Abdul Ghoni, Sawat, Sarjito, Rudianto dan Arif Hidayatullah.

FOTO RUANGOBROL.ID/EKA SETIAWAN
Barkah Nawa Saputra (membawa ransel), yang merupakan napi terorisme bebas penjara dari Lapas Kelas I Semarang, Sabtu (23/2/2019)

Berboncengan Sepeda Motor

Saat bebas itu, pantauan di lapas, istri Barkah yakni Sitri Rahayu, perempuan kelahiran Sukoharjo 3 April 1986, datang sekira pukul 09.30 WIB.

Perempuan berpakaian dan bercadar serba hitam itu kemudian masuk untuk menjemput suaminya. Tak lama, sekira 30 menit kemudian, dia keluar lapas bersama suami tercinta.

Sitri menggendong sebuah ransel, bersepatu. Sementara Barkah memakai sweater warna hijau ungu, dan bercelana ukuran tanggung alias cingkrang yang terlihat dibuat dari sarung motif kotak-kotak warna biru putih. Barkah bersandal japit.

Mereka terlihat jalan bergegas menuju parkiran sepeda motor. Sempat saya tanyakan, apa langsung pulang ke Solo? Barkah hanya mengangguk.

Sesaat kemudian, sang istri telah bersiap di atas sepeda motor Honda Supra Fit warna biru putih, menyetir. Sementara Barkah di belakangnya membonceng. Seorang polisi berpakaian preman, yang sempat mengobrol dengan saya, tampak memperhatikan mereka.

Informasi yang didapat, sang istri bersepeda motor sendirian dari Solo ke Semarang untuk menjemput suami tercintanya itu. Mereka kemudian langsung pulang lagi ke Solo dengan sepeda motor yang sama.

Barkah sebelumnya ditangkap pada September 2012 di rumahnya, Jalan Halilintar, RT2/RW11, Kentingan Kulon, Jebres, Solo. Saat itu, di antara barang buktinya adalah bom aktif, bahan peledak boim cair nitrogliserin. Barkah disebut sebagai anggota Al Qaeda Al Indonesi.

Informasi yang dihimpun, Barkah sempat berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil jurusan Teknik Elektro. Bungsu dari sembilan bersaudara itu juga kerap kerja sampingan di rumah sebagai tukang reparasi barang elektronik. Dia juga kerap ikut kontes robot, yang juga jadi nama aliasnya: Robot.

Pasca ditangkap, Barkah disidang di Jakarta dan sempat dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan 14 tahun penjara. Namun, vonis hakim berkata lain, Barkah dihukum 10 tahun penjara.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

one + five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like