Say I love You

By

“Eh! Nanti pada mau nonton pelem apa nih? Suster Keramas aja, atau  Pocong vs Kuntilanak?,”

Sudah jadi pembicaraan umum, ketika film-film horor makin banyak memenuhi layar-layar bioskop.

Meski tokohnya berbeda, tapi alur ceritanya seputaran ini; angkat kisah manusia mati lalu jadi setan lalu menakuti yang hidup. Atau kisah rumah angker yang ada setannya, ujung-ujungnya sama; mereka menakuti yang hidup.

Ada ciri khas lain aneka film horor di Indonesia itu. Meski judulnya beda-beda, rupanya jenis hantunya ya sama aja, enggak jauh beda.

Film-film horor itu selain menakuti juga membuat bingung.

Ya, para orang tua yang mulai bingung ajak anaknya ke bioskop. Lha gimana gak bingung? Wong film-filmnya aja seperti itu, kebanyakan film setan. Masak iya, orang tua sengaja ajak anak ke bioskop buat ditakut-takuti pake film setan? Hahaha.

Tapi, alhamduilllah, masih ada film yang membuat kita ‘waras’. Karena ceritanya tak lagi seputaran setan-setan.

Masih ada pembuat film yang peduli dengan pendidikan, sosial, dan anak-anak di negeri ini. 

Tentunya, film model begini bisa dikonsumsi berbagai kalangan. Sebab, sarat akan pesan-pesan kebaikan. Kisah yang menginspirasi. 

Salah satunya ya yang akan tayang pada Februari 2019 nanti. Film yang sangat inspiratif dari anak-anak yatim piatu dan kuramg mampu.

Kalau gue prediksi, ini bakal menggetarkan bioskop di Indonesia. bukan bergetar karena kencanganya tata suaranya yaaa hahaha, tapi karena kisahnya. 

Bagaimana bisa?

Film itu tentang mereka yang jadi murid di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) berbasis asrama yang semuanya gratis, didirikan sejak tahun 2007.  Lokasinya di Kota Batu, Jawa Timur.

Sekolah ini dikenal dengan nama SMA Selamat Pagi Indonesia.

SMA Selamat Pagi Indonesia punya murid dari berbagai daerah di Indonesia, multikultural, multietnis dan segala kemajemukan lainnya. Mereka, anak-anak kurang mampu, secara ekonomi.

Pendiri SMA itu adalah Pak Julianto Eka Putra, seorang pengusaha di sebuah perusahaan bernama High Desert International (HDI) yang bergerak di bidang pengembangan bisnis social network marketing, yang memproduksi berbagai produk perlebahan. Perusahaan ini beserta berbagai enterprisernya, menyisihkan pendapatan mereka untuk membangun sekolah ini.

Sungguh perbuatan yang mulia.

Ini adalah contoh toleransi nyata bagi masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Isu intoleransi dan masalah pendidikan di Indonesia yang menggerakkan hati Pak Julianto Eka Putra untuk mendirikan sekolah ini.

Kisah mereka diangkat ke layar lebar, dengan judul Say I Love You

https://goo.gl/images/71HcuV

Eh, maaf ya. Udah spoiler duluan nih. Jangan lupa, Februari 2019 tonton film nyaaa….

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

%d bloggers like this: