Ketika Pengamen Bicara ‘Radikal’ (2-end)

By

Kata ‘radikal’ masih terus mengganggu pikiran saya di sepanjang perjalanan saya waktu itu. Seorang bapak di sebelah saya menyelingi pikiran saya dengan ceritanya tentang musim hujan yang datang terlambat di kampungnya dengan segala dampaknya. Kami pun asyik bercerita tentang kampung kami masing-masing dan tujuan perjalanan kami.

Ketika bapak itu mulai mengantuk dan kemudian mengatur posisi kursi reclining seat-nya lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal yang merupakan fasilitas wajib bis malam jarak jauh zaman now, saya kembali membuka smartphone saya. Kali ini saya membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-5. Saya mencari tahu arti kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’.

Menurut KBBI kata ‘radikal’ memiliki tiga arti, yaitu :

  1. secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip);
  2. [politik] amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan);
  3. maju dalam berpikir atau bertindak

Dari ketiga arti itu, ternyata semuanya memiliki makna yang positif. Lha ? Jadi selama ini yang memaknai istilah radikal dengan sesuatu yang negatif (konotatif) salah dong ?

Baik, sekarang bagaimana dengan kata ‘radikalisme’ ?

Menurut KBBI kata ‘radikalisme’ juga memiliki tiga arti, yaitu :

  1. paham atau aliran yang radikal dalam politik
  2. paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis
  3. sikap ekstrem dalam aliran politik

Nah, ternyata kata ‘radikalisme’ ini yang mempunyai makna yang cenderung negatif, terutama pada arti yang kedua (b).

Dari makna yang yang dimaksud dalam kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ menurut KBBI di atas, berarti selama ini orang-orang –termasuk saya- yang menyebut kata ‘paham radikal’ untuk mendefinisikan pemahaman sekelompok orang yang menyimpang dan ekstrim adalah kurang tepat. Lebih tepatnya adalah ‘paham radikalisme’ untuk menyebut pemikiran dan pemahaman, serta kelompok ‘penganut radikalisme’ untuk para pelaku tindakan yang berdasarkan paham radikalisme.

Lalu apa definisi ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ menurut saya sebagai orang yang pernah memiliki ‘paham radikalisme’ dan menjadi  ‘penganut radikalisme’ ?

Radikal menurut saya adalah  melakukan sesuatu yang tidak pada tempat dan waktunya.

Jadi, orang yang sakit dan tidak bisa shalat dengan berdiri tetapi memaksakan diri shalat dengan berdiri adalah radikal. Melakukan jihad di tempat yang tidak memerlukan jihad adalah radikal. Melakukan shalat Dhuhur jam 10 pagi adalah radikal. Melakukan jihad sebelum ummat membutuhkannya adalah radikal.

Sedangkan ‘radikalisme’ menurut saya adalah paham atau aliran yang memaksakan sesuatu pada tempat dan waktu yang salah.

Jadi, mengamalkan fatwa ulama terdahulu tentang perang pada kondisi bukan perang adalah radikalisme. Membaca realita di sekitar dengan memakai kacamata pemikiran tokoh atau ulama yang berada di kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi sekitar adalah radikalisme.

Inilah definisi ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ versi saya, di mana saya pernah terjerumus di dalamnya, yaitu ketika saya melakukan eksperimen jihad pada tempat dan waktu yang salah serta tanpa memperhatikan situasi dan kondisi yang ada.

Nah, itulah beberapa definisi kata ‘radikal’ dan ‘radikalisme’ dari berbagai versi. Anda lebih setuju dengan definisi yang mana ? Definisi pengamen, definisi peneliti yang tidak dijelaskan perimeternya, definisi KBBI, atau definisi seorang mantan penganut paham radikalisme ?

Apapun itu, kita semua sepakat bahwa setiap tindakan melampaui batas yang merugikan orang lain itu tidak bisa dibenarkan. Wallahu a’lam bish shawwab.

============================================================================

Source Image : https://d2gg9evh47fn9z.cloudfront.net/800px_COLOURBOX1941455.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d bloggers like this: