Mulai Bertugas (4)

By

Tak lama setelah saya mengantarkan paket senjata dan amunisi itu, kasus pelatihan Aceh mulai terbongkar dan dilakukan rangkaian penangkapan besar-besaran terhadap para pelaku yang terkait dengan pelatihan itu. Saya pun untuk sementara memutuskan hubungan dengan Sang Senior karena katanya ia pasti jadi DPO karena beberapa orang yang ia kirim ke Aceh ikut tertangkap. Tetapi saya dipersilahkan memanfaatkan jaringan orang-orang yang pernah ikut kegiatan pembinaan yang kami lakukan, siapa tahu saya membutuhkan mereka.

Sejak saat itu saya hanya berhubungan dengan Sang Tamu dan setia menunggu tugas yang akan ia berikan sambil terus tetap aktif mengikuti perkembangan dunia jihad di forum jihadi. Beberapa kali saya harus pergi ke luar kota untuk menemui orang yang telah dipilihnya untuk memverifikasi sekaligus melihat kesiapannya dan latar belakangnya. Ada beberapa orang yang kemudian sampai berangkat, dan ada pula yang kemudian dibatalkan karena saya menemukan beberapa kendala pada orang tersebut.

Pernah juga saya sempat menolak ketika ia meminta saya menemui seseorang yang sangat jauh dari tempat tinggal saya sementara dia tidak bisa membantu banyak soal biaya ke sana. Dia bilang orang ini penting dan sangat dibutuhkan dan sifatnya segera. Dia terus mendesak dan akhirnya saya luluh ketika dia berkata :

“ Akhi, kemana lagi ana harus meminta bantuan ? Hanya antum yang bisa mengerti dan membantu kami di sini. Apalagi tugas ini, hanya antum yang bisa melaksanakannya. Dan lagi, jangan sampai program kami terhenti hanya karena terhambat oleh hal ini”.

Mendengar perkataannya itu saya tiba-tiba merasa takut menjadi sebab terhentinya program yang telah kami rintis selama ini. Akhirnya saya pun melaksanakan tugas itu dengan sedikit nekat dan berbekal keyakinan bahwa nanti pasti akan dimudahkan jika Allah SWT mengizinkan rencana kami terlaksana. Dan kata-kata itu sering digunakan untuk menyemangati saya ketika saya sedikit enggan melaksanakan tugas darinya.

Pada  suatu ketika, ia memberikan tugas tambahan untuk belajar mencoba merekrut sendiri calon kader yang akan dikirim ke tempatnya. Ia memberikan panduan keamanan dalam merekrut, dari sejak perkenalan sampai memverifikasi sosok yang direkrut itu. Termasuk juga hal-hal yang boleh disampaikan dan yang tidak boleh disampaikan selama proses perekrutan.

Saya kemudian mencoba mempraktekkan petunjuknya itu dalam pergaulan di dunia online. Saya memperbanyak teman dan mengamati kawan-kawan di jejaring facebook yang saat itu sedang booming luar biasa. Beberapa di antaranya kemudian saya identifikasi sebagai orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Tidak ada tindaklanjut apa-apa selain hanya menjaga pertemanan dengan saling like dan komen di postingan masing-masing.

Pada saat itu saya hanya ingin belajar membaca pemikiran seseorang dari postingan dan komen-komennya di Facebook, belum ada keinginan untuk merekrut orang untuk program kami. Bahkan keinginan untuk memetakan orang-orang yang sepemikiran itu lebih kuat karena saya mulai berpikir bagaimana memanfaatkan mereka untuk sesuatu yang bermanfat bagi ummat tapi tanpa membawa mereka ke dalam jaringan kami. Yang ada di benak saya pada waktu itu adalah setidaknya mereka bisa bantu di penggalangan dana suatu saat nanti.

Kita kembali lagi ke kisah hubungan saya dengan Sang Tamu. Saya akan selesaikan dulu kisahnya sampai kami akhirnya harus pecah kongsi. Karena setelah itu saya memulai sebuah babak baru di dunia jihadis radikal, yaitu ikut mengembangkan konsep membumikan jihad di Indonesia bersama kawan-kawan baru, dengan metode baru, yaitu memanfaatkan jejaring media sosial dan teknologi informasi yang ada.

Kisah membumikan jihad di Indonesia dengan memanfaatkan jejaring media sosial dan teknologi informasi ini saya yakin sangat menarik bagi Anda, karena sampai saat ini penyebaran radikalisme melalui internet masih menjadi ancaman. Dan saya ingin memberitahu Anda bagaimana kami memulainya dulu, termasuk bagaimana cara kami mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi untuk kami libatkan dalam program kami dan cara kami memanfaatkan mereka.

Tapi sebelum itu ijinkan saya menyelesaikan kisah saya dengan Sang Tamu dulu. Sedikit lagi kok. Sabar ya…hehe…!

(Bersambung, In sya Allah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

14 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like