Hai Para Motivator, Turun Panggung Sekarang!

By

Saat ini motivator di Indonesia perlu mengundurkan diri dari panggungnya. Mereka tak cukup berhasil memotivasi pemuda Indonesia yang kepalang frustasi.

Misalnya, slogan menjadi diri sendiri nampaknya tak pernah cukup ampuh. Motivator selalu bilang, “Be Your Self” yang artinya “Jadilah diri kamu sendiri” atau “Dadi awakmu dhewe!”. Motivator ingin setiap orang bangga dengan dirinya masing-masing. Dimana setiap orang akan mencari kelebihan diri sendiri untuk kemudian menjadi lebih baik dengan mengembangkan kelebihannya. Kelebihan sang motivator itu misalnya adalah mulutnya. Dia menganggap dirinya bisa menjadi motivator dengan kata-kata manisnya. Meskipun pada akhirnya kata-kata tidak semudah kenyataanmu, bambaaaang!

Faktanya, operasi plastik banyak dilakukan karena orang masih belum pede dengan dirinya. Gak mampu operasi, make up tebal dari harga murah KW 15 sampai harga mahal. Belum lagi dandanan tas KW, Parfum KW, semua serba KW buat dipasang di Instagram. Be Your Self di media sosial itu adalah imajinasi, hanya diperuntukan untuk mereka yang gak punya gengsi. Sedangkan gengsi saat ini nomor WAHID! Catet! Gpp KW, yang penting gaya, mutlak.

Media sosial membuat orang sakit jiwa. Setidaknya ada 16 gangguan jiwa yang bisa mengancam pengguna media sosial.

Pertama adalah Narcissistic Personality Disorder dimana membuat orang egois, tidak berempati dan agungkan diri sendiri. Kedua, Body Dysmorphic Disorder (BDD) dimana seseorang terlalu merasa ingin terlihat sempurna nampun tidak percaya diri karena membandingkan dengan orang lain. Ya lagi, dibandingin ama Gigi Hadid -_-. Ketiga, kecanduan. Keempat, Social Media Anxiety Disorder dimana lebih parah dari kecanduan yang penggunanya merasa tidak bisa untuk tidak mengecek media sosialnya. Kalau kata Glenn, “I can’t live without you ~”. Kelima adalah Borderline Personality Disorder yang mana mereka akan merasa tersisih apabila tidak dilibatkan atau diajak dalam suatu “postingan”. Keenam, Munchausen Syndrome adalah seseorang yang memunculkan cerita karangan yang tragis agar mendapat simpati. Kaya siapa ya ini? Ketujuh, Compulsive Shopping yaitu mereka yang kegrandungan belanja online. Siapa nih yang begini? Kedelapan, Obsessive Compulsive Disorder yang kebalikan dari BDD yang dimana OBD justru merasa terlihat sempurna. Ia akan melakukan upaya berjam-jam untuk terlihat sempurna di media sosial, katanya Mirror Selfie dengan full body merupakan salah satu cirinya. Ehm, banyak ini mah. Kesembilan, Internet Asperger Syndrome adalah perbedaan sikap antara dunia nyata dan dunia maya. Ketika di Internet dia sangat kasar dan sarkas, justru di dunia nyata dia pendiam. Kesepuluh, Low Forum Frustration Tolerance yaitu seseorang yang frustasi apabila tidak mendapat pengakuan seperti apresiasi atau yang like postingannya sedikit. Nafas dulu. Huh hah. Oke, lanjut? Kesebelas, Hipokondriak merupakan situasi seseorang yang merasa ia menderita penyakit tertentu karena informasi yang ia dapatkan di internet. Keduabelas makin parah, yaitu Schizoaffective atau Schizotypal Disorder. Penderitanya akan merasa linglung, hilang ingatan dan bahkan memicu bunuh diri. Ketigabelas, Voyeurism dimana seseorang akan menguntit targetnya melalui media sosial dan penasaran berlebihan. Nah lho siapa yang suka stalking pake akun kloning? Keempat belas, Depresi yang membuat penggunanya malas melakukan apapun. Selanjutnya adalah Attention Deficit Hyperactivity Disorder yang mana penderitanya kehilangan fokus dan terngiang-ngiang media sosial. Terlena~ . Terakhiiirr, Fear of Missing Out dimana seseorang terlalu takut tertinggal trending. Harus aptudet!

Jadi kalian penderita yang mana? Kalau salah satunya, mari enyahkan para motivator itu, ganti dengan psikolog yang harus diperbanyak!

Et abis baca ini jangan sampai Hipokondriak ya

Leave a Comment

Your email address will not be published.

sixteen + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like