Dinamika Pasca Bom Bali (7-habis)

By

Pada saat “Sang Mentor” menjelaskan tentang forum itu sebenarnya saya belum begitu paham seperti apa bentuknya. Yang saya tangkap hanyalah tentang pentingnya menghadirkan media jihad di Indonesia dan pentingnya menyebarkan semangat jihad kepada kaum muslimin. Sampai akhirnya di awal tahun 2009 salah satu teman yang saya kenal di mIRC memberitahu saya bahwa saat itu sudah ada forum jihad bernama Forum Jihad At Tawbah (FJAT) dan memberikan alamatnya serta menyuruh saya agar segera mendaftar menjadi member.

Pada awalnya isi forum adalah rilisan-rilisan dari forum jihad internasional seperti : Al Hisbah, Al Fida, As Samikh, Ansar Mojahideen, dll. Istilahnya FJAT hanya me-repost apa yang sudah diposting di forum jihad Internasional ke dalam FJAT agar bisa dibaca oleh para membernya yang tidak punya akses ke forum internasional seperti saya ini. Beberapa waktu kemudian ketika ada  postingan dari luar negeri itu yang bagus dan dipandang perlu untuk disebarluaskan, barulah ada yang menterjemahkannya dan merilis ulang, dan yang seperti ini sedikit sekali. Jadi tidak semua postingan dan rilisan yang berasal dari forum jihad internasional diterjemahkan mengingat terbatasnya SDM yang dimiliki dan saking banyaknya postingan dan rilisan yang terbit setiap bulannya.

Forum semakin berkembang pesat terutama setelah ada yang mulai memposting artikel tentang jihad di Indonesia dan dibukanya sub forum yang membahas tentang ilmu-ilmu kemiliteran (termasuk field engineering). Diskusi semakin semarak dan jumlah member semakin banyak. Bahkan mulai ada yang membuat blog untuk memposting ulang apa yang sudah dirilis oleh FJAT agar orang yang selain member FJAT juga bisa menikmatinya.

Tak butuh waktu lama untuk menjadikan FJAT sebagai rujukan utama para aktivis jihadi di masa itu untuk mengetahui perkembangan jihad dari seluruh penjuru dunia dan tempat berdiskusi sekaligus tempat belajar berbagai ilmu termasuk ilmu kemiliteran. FJAT telah menjelma menjadi semacam kamp online tertutup, di mana ada orang yang ingin mengajarkan ilmu dan ada orang ingin belajar  ilmu tersebut. Semua bertemu di dalam forum. Setidaknya FJAT telah menjadi tempat mengajar dan belajar berbagai ilmu dan teori, adapun prakteknya akan kembali kepada konsisi masing-masing individu.

Pada saat itu  barulah saya memahami arah dari apa yang dimaksud oleh “Sang Mentor” dengan “sudah saatnya mengajarkan ilmu-ilmu yang tadinya ‘tertutup’ menjadi sesuatu yang terbuka”. Karena melalui forum itu para kombatan alumni Kamp Mindanao dan alumni jihad Ambon-Poso bisa leluasa berbagi ilmu dan pengalamannya kepada generasi berikutnya seperti saya ini tanpa diketahui jatidiri aslinya. Mereka cukup memperkenalkan diri sebagai orang yang pernah terlibat dalam pelatihan atau sebuah proyek jihad, dan hal ini cukup dibuktikan dengan cerita pengalaman mereka ketika mengikuti pelatihan atau proyek jihad tersebut. Lalu orang-orang seperti saya yang pasti sangat senang dan bersemangat bisa dapat ilmu-ilmu ‘terlarang’ semacam itu akan menyebarkannya lebih luas lagi dengan caranya masing-masing, atau setidaknya akan menyimpan ilmu itu untuk dirinya sendiri.

Entah merupakan settingan dari para tokoh senior semacam “Sang Mentor” atau karena kesadaran sendiri, yang jelas para ‘pengajar’ materi-materi terlarang itu terkesan sangat bersemangat dalam berbagi ilmudan pengalaman mereka. Yang jelas sepertinya searah dengan yang diharapkan oleh “Sang Mentor” yaitu : sudah saatnya mengajarkan ilmu-ilmu yang tadinya ‘tertutup’ menjadi sesuatu yang terbuka, karena sistem pengajaran melalui mekanisme tandhim-yang saat itu porak poranda sejak adanya Bom Bali- dinilai kurang relevan lagi di era jihad global yang sudah memasuki Indonesia. Sepertinya para ‘pengajar’ itu sadar bahwa di era jihad global ini sistem pengajaran melalui mekanisme tandhim sudah tidak relevan lagi, sehingga mereka sangat senang dengan keberadaan FJAT ini.

Lebih lanjut, kesan yang saya peroleh dan saya rasakan ketika berada di dalam forum ini berbeda dengan yang selama ini saya rasakan di mailing list maupun mIRC. Dalam hal ilmu di sini saya merasa tak ubahnya seperti berada di sebuah kelas yang mengajarkan berbagai ilmu karena memang kami bisa bertanya dan akan dijawab beberapa waktu kemudian. Sedangkan dalam berita jihad, di sini saya merasa seperti membaca sebuah majalah online dengan koresponden dari berbagai penjuru dunia, apalagi isinya tidak hanya berupa teks dan gambar, tetapi banyak juga yang berupa rekaman audio dan video. Ada kebanggaan tersendiri menjadi member forum karena bisa mendapat informasi dan berita seputar jihad dan mujahidin yang paling up-to-date dan terpercaya dari seluruh dunia.

[Bagaimana tidak bangga, saya bisa mendengarkan rekaman suara atau video terbaru dari Syaikh Usamah atau Syaikh Ayman dan tokoh-tokoh jihad internasional lainnya lebih dulu dari media-media umum]

Leave a Comment

Your email address will not be published.

11 − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like