Dinamika Pasca Bom Bali (4)

By

Beberapa bulan setelah kepulangan Sang Tamu, saya berpindah pekerjaan menjadi penjaga toko milik salah satu simpatisan JI yang ada di daerah situ juga. Di toko itu tersedia komputer dengan koneksi internet yang cukup lumayanlah di zaman itu. Di situlah saya mulai mengenal tempat nongkrong  para ‘jihadis wannabe’ di mIRC.

Cerita ini bermula  ketika sang pengusaha ini memberitahu saya bahwa dia sering chatting dengan Imam Samudra –yang dia sebut dengan panggilan Akang- melalui Yahoo! Messenger dan mIRC. Saya langsung mengajukan permohonan agar saya bisa ikut nimbrung di channel mIRC yang ada Akang di dalamnya. Beberapa hari kemudian saya mendapat persetujuan dari Akang  untuk bergabung dan hanya diminta menjaga rahasia jatidiri nickname yang dipakai Akang. Dari Akang pula saya tahu bahwa dia sudah menggunakan mIRC sejak masih di Kerobokan sebelum kasus masuknya laptop yang menghebohkan itu.

Awalnya saya masuk ke channel mIRC umum yang ada Akang, lalu masuk ke channel khusus yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin berdiskusi seputar masalah jihad. Dan ternyata peminat diskusi seputar masalah jihad di channel itu cukup banyak. Saya menganggap itu sudah cukup banyak mengingat fasilitas online pada masa itu masih relatif sulit.

Dan meskipun saya bekerja dengan gaji yang pas-pasan tetapi saya sangat senang dan bangga karena bisa berinteraksi dengan Akang dan orang-orang dari berbagai tempat yang memliki pemikiran yang sama. Sebuah kesempatan yang langka menurut saya.

Salah satu hal baru yang saya dapat dari Imam Samudra a.k.a Akang adalah bahwa dia membolehkan bahkan menganjurkan untuk melakukan carding –bagi yang mampu- untuk mendapatkan dana bagi kepentingan jihad. Alasannya adalah hal itu –carding- termasuk operasi mengambil persenjataan dan perbekalan musuh yaitu harta mereka. Karena itu targetnya harus kartu kredit milik orang kafir.

Dari obrolan-obrolan di channel maupun di jalur private message, saya lalu memiliki banyak teman yang sepaham dalam persoalan jihad. Kami sering bertukar pikiran tentang bagaimana menghidupkan jihad di Indonesia dan kendala-kendala yang dihadapi masing-masing. Beberapa di antaranya pernah saya temui di dunia nyata. Saya aktif mengikuti mIRC sampai pertengahan tahun 2008 karena saya harus pindah kerja ke tempat lain. Saya tidak lagi punya akses internet gratis, tapi saya masih berhubungan dengan beberapa teman yang masih aktif di mIRC.

Ketika masih aktif di mIRC itu, pernah kami membahas tentang pentingnya membuat media yang mengabarkan berita-berita jihad yang terpercaya dan orisinil kepada ummat serta dapat membuat ummat Islam bangga akan keberadaan mujahidin di tengah kaum muslimin yang sedang terpuruk saat ini. Karena saat itu pemberitaan tentang jihad dan kondisi kaum muslimin hanya bersumber dari media-media sekuler yang cenderung subyektif mengikuti arah kebijakan redaksinya masing-masing.

(Bersambung, In sya Allah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like