Aku Bukan Babu

By

Mereka memanggilku “Babu”, sebenarnya aku tak ingin menjadi Babu. Mereka yang panggilku begitu, tidak tahu bahwa jasaku cukup besar untuk bangsaku. Ada sebagian sumber dana APBN berasal dari keringat dan kerelaan Pekerja Migran Indonesia di luar negeri. Ya, aku pekerja migran Indonesia, bukan babu.

Majikanku dan anaknya menanggilku Bibi. Setidaknya itu lebih terhormat dari anggapan mereka yang melihat aku menggadaikan hidupku demi uang. Padahal mereka tak tahu, mengapa aku memilih ini.

Suamiku berkebangsaan Malaysia, kini ia bekerja di Singapura. Untuk dekat dengannya, aku pilih pekerjaan ini. Singkatnya begitu. Tapi Bagaimana aku ke Singapura? Ceritanya panjang, kawan.

Aku dan suamiku memutuskan untuk mengangkat dua orang anak di Panti Asuhan di Jakarta pada 90an. Beberapa tahun kemudian, rusuh terjadi di Jakarta. Suamiku yang berparas chinese, terancam dan sering kali pulang penuh ketakutan. Sekolah anak angkat kami pun di Glodok, menjadi sasaran amuk masa saat itu. Pernah pada suatu siang, aku membawa mobil Mercedez ku melaju di jalanan Jakarta. Dari kejauhan, aku lihat kawasan Glodok telah rusuh. Seorang mengetuk kacamobilku dan aku membukanya tanpa curiga berharap dapat informasi. “Rusuh lagi ya pak?” Tanyaku. “Iya bu, putar balik sekarang bu! Mobil mewah dijarah, disangka punya cina.” Katanya menginstruksikanku.

Aku kaget dengan informasi tersebut sambil berpikir, aku tetap harus menjemput anakku. Aku saat itu masih coba memberanikan diri melajukan mobilku. Sampai di depan kantor BATAN (samping kantor KPI), aku belokkan mobil untuk masuk area itu. Ku tutupi mobilku dengan dedaunan yang ada, kadus atau apa saja yang bisa menyembunyikannya. Aku ambil semua barang berharga di mobilku dan berjalan pelan-pelan menjemput anakku. Misi penyelamatan anakku pun berhasil dan kami kembali ke rumah. Sampai rumah, suamiku memelukku dan bersyukur aku selamat bersama anak-anak kami. Baru tiga hari kemudian kami mengambil mobil kami.

Kerusuhan saat itu semakin kacau. Suamiku memutuskan untuk kembali ke Malaysia. Aku masih gamang antara meninggalkan anak-anak kami dan mengikuti suamiku atau tetap disini. Anak-anak angkat kami tak mau mengikuti ayah angkatnya karena diminta tetap tinggal di Indonesia oleh orang tua kandungnya. Suatu hari seseorang mencari suamiku dengan muka yang penuh marah. “Dia udah gak ada di Jakarta”, jawabku. Orang itu tidak percaya, sambil berkata “Kalau kamu sembunyiin si cina itu, kamu bakal saya bunuh!”. Orang itu kemudian pergi meninggalkan ketakutan di dalam diriku. Aku menangis ketakutan memeluk ibuku. Ibuku kemudian berkata, “kejar suamimu, anak-anak biar disini temani ibu.”. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana ibuku kelak jika diancam. Nampaknya ibu paham ketakutan dihatiku, “Mereka gak akan berani sama ibu, kamu pergi besok.”. Aku memeluk ibu dan anak-anakku seakan perpisahan kami.

Jam 4.00 aku sudah bersiap dan membawa baju seadanya setelah berpamitan dengan ibuku dan mencium anak-anak yang masih tertidur. Hari itu daerah Kalideres masih gelap. Tak ada angkutan umum dan banyak taksi tak mau beroperasi karena kerusuhan itu. Aku berjalan ke terminal berharap ada angkutan disana. Aku hanya menemui sebuah truk yang akan berjalan.

“Pak, mau kemana?” Tanyaku pada supir truk kayu.

“Mau jalan lagi neng, kenapa neng? Ngapain hari gini disini?” Tanya supir truk itu.

“Saya butuh tumpangan ke Bandara pak, tolongin pak.” Pintaku memohon.

Supir itu saling berpandangan kepada kedua kernetnya. Aku paham, mungkin mereka bingung menaruhku dimana.

“Yaudah neng, nanti bisa disini, kernet saya di belakang. Sampai bandara aja kan?” Tanyanya memastikan.

Tuhan begitu baik kepadaku hari itu. Aku pun kemudian menumpang truk tersebut sampai bandara dan mengucapkan terima kasih tak henti kepada supir itu. Sampai Bandara, aku langsung membeli tiket menuju Kuala Lumpur.

Dua puluh tahun berlalu. Kini 2018, negeriku sudah damai dan aku disini, di Singapura sebagai bagian dari penyumbang devisa bagi negeriku yang telah lama ku tinggalkan. Mungkin bukan hanya kisahku yang sekelam ini, puluhan pekerja migran juga punya kisah dan latar belakang yang jauh lebih kelam hingga memilih menjadi pekerja migran.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan berada disini. Tapi aku sadari bahwa Tuhan pasti punya rencana menempatkanku di Singapura. Aku melihat bagaimana pekerjaanku dihargai oleh banyak orang, meski tidak dihargai oleh mereka yang tinggal di negeri kami dimana kami telah memberikan kontribusi bagi negeri kami. Kegiatan kami pun tak jarang berupa kegiatan sosial untuk kami kirimkan ke mereka yang membutuhkan di Indonesia. Aku bangga karena masih bisa memberi meski aku masih dianggap sebelah mata sebagai “babu”.

*Diangkat dari kisah nyata seorang Pekerja Migran Indonesia di Singapura

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like