Bom Bali yang Menggemparkan (1)

By

Setelah menyelesaikan sekolah SMK di tahun 2002, masih di kota yang sama, saya melanjutkan pendidikan dengan mengambil kuliah Diploma 1 Teknik Reparasi Komputer di sebuah lembaga pendidikan. Kebetulan direkturnya adalah mantan pemilik warnet langganan saya di tahun 1999-2000, di mana saya belajar mengenal komputer pertama kalinya.

Dulu saya sering main ke warnetnya, meski seringnya bukan untuk main internet karena pada waktu itu internet masih menjadi barang mahal dengan koneksi yang hanya sepersepuluhnya kecepatan internet sekarang, tetapi hanya sekedar nongkrong menemani operatornya sambil ngobrol. Di situlah saya mengenal mIRC karena sering mendampingi operatornya main mIRC.

Ketika kuliah itu saya masih kost di tempat yang sama, masih menjadi remaja masjid yang sama,dan masih mengikuti kegiatan berbagai kelompok pergerakan yang bisa saya ikuti. Di masjid saya semakin aktif sampai dipercaya menjadi panitia –sebelumnya hanya sekedar membantu– peringatan hari besar Islam dan kegiatan-kegiatan lain dalam rangka memakmurkan masjid.

Saya masih ingat bagaimana pertama kali saya mengetahui ada peristiwa Bom Bali 12 Oktober 2002 adalah ketika saya menemui salah satu donatur masjid untuk mengambil dana untuk acara pengajian akbar menyambut bulan suci Ramadhan. Ketika saya datang di hari Ahad tanggal 13 Oktober 2002 setelah Isya’ sesuai janji sebelumnya, bapak donatur itu sedang menonton berita di TV yang menayangkan berita tentang bom yang meledak di Bali.

Sebelumnya saya sama sekali tidak mengetahui adanya peristiwa itu karena kesibukan saya pada waktu itu sehingga tidak sempat nonton TV atau baca koran. Saya tersentak kaget. Kok bisa ada serangan bom sedahsyat itu di Bali yang selama ini tenang dan damai? Kalau bom meledak di Ambon atau Poso itu sudah biasa. Tapi ini di Bali.

“ Kira-kira siapa ya pak pelaku di balik serangan bom ini ?”, saya mencoba bertanya kepada bapak donatur itu sambil minum teh.

“ Menurutku pelakunya adalah oknum GAM ( Gerakan Aceh Merdeka) yang ingin balas dendam dan mengacaukan Indonesia. Siapa lagi dik di Indonesia yang bisa bikin bom selain tentara kalau bukan pemberontak seperti GAM?”, ujarnya menjawab pertanyaan saya.

Saya bisa memaklumi jawaban beliau itu tapi saya tidak sependapat. Rasanya kok aneh jika GAM melakukan penyerangan di luar Aceh yang memang pada waktu itu masih diberlakukan sebagai daerah DOM (Daerah Operasi Militer). Tapi jika bukan GAM, siapa yang bisa bikin bom sedahsyat itu ? Saya tahu di Ambon-Poso mujahidin biasa membuat bom, tetapi rasanya tidak mungkin mereka pelakunya dan bisa membuat yang sedahsyat itu.

Di akhir tahun 2000 memang sempat ada serangkaian serangan bom malam Natal di beberapa gereja di berbagai kota yang hampir serentak. Kalau kasus bom Natal ini masih masuk akal jika misalnya pelakunya terkait jihad Ambon karena jelas sasarannya gereja yang merupakan simbol dari pihak musuh yang diperangi di Ambon. Tetapi yang di Bali ini ? Masak iya terkait jihad Ambon yang sudah cukup mereda pada saat itu ?

Sepulang dari rumah bapak donatur itu saya masih diliputi tanda tanya besar terkait siapa pelaku di balik bom sedahsyat itu dan apa kira-kira motifnya. Mulai saat itu saya kemudian terus mengikuti perkembangan kasus bom Bali itu melalui media cetak dan elektronik. Kebetulan di dekat tempat kost ada agen koran dan wartel tempat saya biasa menonton TV.

(Bersambung, In sya Allah)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

four + 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like