Benarkah garam itu asin?

By

Saya waktu kecil dulu bertanya kepada ibu saya, “Ibu, apakah rasa garam itu?”. Ibu menjawab, “Asin, nak”. Tapi kemudian saya lihat ibu saya menambahkan garam pada sambal. Saya mencoba sambal itu, pedas! Esok harinya saya lihat ibu saya memasukan sedikit garam ke adonan donut, ketika saya coba, itu manis. Kemudian hari, teman-teman sekolah saya juga bercerita tentang rasa garam yang asin. Saya menolak tentang asinnya garam dengan contoh sambal dan donat. Mereka hanya menjawab, “Kata Mama, garam itu asin. Tanya saja ke ibu guru.”. Jawaban itu tidak memuaskan saya. Selanjutnya saya yang penuh penasaran bertanya kepada Ibu guru, jawaban ibu guru juga sama, garam itu asin. Saya masih belum percaya, saya tanya kenapa sambal dan donut tidak asin. Bu Guru bilang, karena pada adonan donat, garam hanya sedikit. Begitupula dengan sambal, garam tidak sebanyak cabai. Saya masih ngeyel, “Tapi kalau makan gorengan, pakai cabai rawit, meskipun sedikit bisa pedas!”. Ibu guru terdiam, entah karena bingung menghadapi saya yang keras kepala atau bingung harus jawab apa. Sampai akhirnya, saya diminta ibu saya membeli garam ke warung belakang rumah. Saya iseng coba sedikit, oh iya, ternyata asin!

Jika boleh beranalogi, bagi mereka yang tidak pernah patah hati, tidak akan tau bagaimana sakitnya patah hati. Orang yang tidak merasakan patah hati dengan mudahnya bicara bahwa patah hati akan mudah dilalui, akan banyak pengganti diluar sana. Doi gak tau kalau move on itu susah tau! Tanya aja Mas Hakim. Mereka akan keras kepala meski dengar dari orang yang pernah merasakannya lebih banyak dan lebih lama. Sedangkan bagi orang yang sama-sama merasakan, akan lebih nyambung dan bisa saling menerima.

Hujatan dan komentar netizen terhadap satu sama lain seringkali terjadi karena mereka belum pernah ada di posisi tersebut. Misalnya, judgement terus menerus kepada mantan teroris akan terus dialamatkan kepada mereka oleh mereka yang keras kepala tentang bagaimana sulitnya mantan teroris kembali ke masyarakat. Lain hal dengan mereka yang punya keluarga dengan kasus yang sama, akan lebih saling mengerti dan lebih paham satu sama lain.

Dalam hal ini, ide deradikalisasi pun demikian. Upaya deradikalisasi akan sulit dilakukan kepada mereka yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya pernah dicap jadi teroris. Efektivitas ini akan lebih “masuk” jika dilakukan oleh mereka yang juga pernah mengalaminya. Sehingga, perkumpulan mantan-mantan residivis pada jaringan yang sama akan sangat lebih mungkin karena mereka satu nasib. Menghadapi permasalahan mantan “teroris”, masyarakat tidak bisa menjadi “saya” dalam hal ini untuk menjadi orang yang keras kepala akan garam. Namun membuka pandangan akan lebih menyejukkan bahwa mungkin ada garam yang pernah kita saja yang rasakan dan ada garam lain yang hanya orang lain yang rasakan.

Ket :

Ide tulisan ini dari kutipan tulisan Cak Nun :

“Aku tidak bersedia membuang waktu memperdebatkan rasa asin dengan seseorang yang tidak mengalami asin di lidahnya.”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

nine − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like