Jempol Ajaib

By

Pepatah yang mengatakan bahwa “Mulutmu Harimaumu” (artinya perkataan dari mulut bisa jadi menyerang kita terutama ketika menyakiti hati orang lain) itu kini sudah tidak berlaku lagi. Saya mengusulkan, berdasarkan perkembangan teknologi masa kini, maka pepatah juga harus mengikuti perkembangan dunia. Jika pepatah itu terus dipakai, artinya mereka yang sifatnya tidak banyak bicara dan pendiam tidak mungkin bisa menyakiti hati orang lain. Namun saat ini tidak demikian. Media Sosial telah mengubah sifat manusia yang awalnya pendiam di dunia nyata bisa sangat cerewet di dunia maya.

Okelah kalau cerewet doank, tapi kalau nyebarin hoax? Itu yang bahaya. Hoax itu bisa berbagai macam guys. Menurut Tempo Institute, ada 3 jenis berita hoax. Pertama, berita 100% hoax. Kedua, berita 70% hoax dan 30% fakta. Ketiga, berita 30% fakta, 70% opini mengarah ke hoax. Hoax disini dalam arti berita bohong. Namun dalam kategori ketiga, itu paling nyaru gengs. Faktanya emang ada 30% doank yang dikutip, tapi sisanya adalah opini yang mengarahkan pembaca untuk berimajinasi masa depan dan akhirnya memunculkan hoax.

Hoax ini sudah membuat 3.235 orang tertangkap pada tahun 2017 atas pelanggaran terhadap undang-undang ITE. Wow! Mereka yang tertangkap bukan hanya yang “membuat” tapi juga yang menyebarkan.

Dalam Al Quran, Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].

Ayat ini turun saat adanya ujian bagi Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Aisyah RA hendak mencari kalungnya yang tertinggal sehingga keluar dari tandunya (tandu tersebut tertutup hijab). Pasukan yang siap kembali ke Madinah setelah perang pun dibagi tugas, beberapa orang diantaranya bertugas untuk mengangkat tandu Aisyah RA. Petugas tandu mengira bahwa Aisyah RA yang langsing dan berbadan proporsional itu sudah naik ke tandu, pasukan pun berjalan kembali ke Madinah. Sekembalinya Aisyah RA, ia terkejut mendapati tandunya yang sudah tak ada di tempat dimana ia meninggalkannya. Shafwan bin Muaththal yang bertugas memeriksa pasukan kemudian menemui Ummul Mukminin tersebut dan dengan hati-hati mengajaknya kembali ke Madinah.

Nah, sekembalinya ke Madinah, pihak yan tidak suka dengan Nabi Muhammad SAW pun bergosip (bahasa sekarangnya julid) bahkan ada kabar hoax kalau istri nabi tersebut berselingkuh dengan Shafwan. Hoax tersebut tersebar lebih dari satu bulan, padahal saat itu belum ada media sosial. Rasulullah pun terpukul karena fitnah yang semakin kuat. Aisyah RA menangis setiap malam. Namun, Allah menyelamatkan rumah tangga Aisyah RA dan Rasulullah dengan menurunkan ayat diatas. Moment tersebut dikenal sebagai “haditsul ifki” atau hoax.

Hoax ini sudah ada dari zaman dahulu, namun seringkali manusia terlena karena terjebak dengan asiknya gosip. Apalagi kemajuan teknologi saat ini harusnya membuat kita semakin selektif memilih berita dan mencari infomasi yang lebih terpecaya. Penggunaan media sosial gak cuma harus pakai telepon pintar, tapi juga pemikiran yang jauh lebih pintar. Karena jempol kita akan menentukan kemana kita akan melangkah selanjutnya. Ajaib kan?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like