Para Pengguna Medsos yang Ansos

By

“Diberitahukan kepada Anda yang membawa putri bernama Naura Shofia berumur 6 tahun, ditunggu kedatangannya di sumber informasi”. Seorang anak luntang lantung di pusat informasi sebuah Mall karena tak tahu kemana ibunya. Selang lima menit kemudian, sang Ibu datang memeluk anak berambut panjang dibalut dress warna kuning itu. “Aduh ibu, dijagain ya bu anaknya”, ujar Manager Mall. Si Ibu tersipu malu, “Hehe iya pak, tadi lagi jalan sambil buka facebook”. Kalau saya jadi sutradara FTV, saya bakal bikin judul sinetron, “Ibuku lebih sayang facebook daripada aku”. Paling ibunya ngomel karena gak terima diomongin begitu.

Berkaitan dengan itu, baru-baru ini We are Social dan Hootsuite sebuah lembaga dari Inggris merilis laporan  “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018. Populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa dan ternyata pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen. Bisa jadi hanya orang yang tak punya handphone yang tak punya media sosial. Anak SD kelas 1 aja punya instagram. Bahkan bayi baru lahir aja punya! Dahsyat sekali zaman ini

Gengs, ini menunjukkan bahwa perkembangan media sosial zaman ini telah melampaui segala batas usia. Nenek-nenek umur 78 tahun pun akan rela belajar instagram apabila teman-teman reuni SDnya memiliki instagram juga. Nenek saya aja yang umur 67, tiba-tiba minta handphone Android karena teman-teman pengajiannya selalu foto-foto dan punya grup whatsapp. Nampaknya, penggunaan media sosial dipengaruhi oleh pergaulan itu sendiri, bukan karena butuh-butuh amat. Siapa sih yang butuh pamer? Ini hanya masalah pengakuan eksistensi orang sekitar.

Niatnya baik, sosialisasi diri terutama buat mereka yang nan jauh di mato. Meskipun akhirnya pamer juga. Sosialisasi dan eksistensi tadi yang saya bilang, faktanya tidak membuat kita benar-benar bersosialisasi dan eksis di dunia nyata.

Sebagai contoh, sering banget kan di angkutan umum semua orang diem-dieman. Karena apa? Sibuk ama gadgetnya masing-masing. Padahal kalau diintip, itu buka instagram, scroll, tutup, buka facebook, scroll, tutup, buka whatsapp, tutup, buka instagram, liat explore, scroll, tutup, buka facebook, scroll, like punya orang, tutup, terus aja begitu dari dia duduk di angkot ampe turun bilang “kiri, bang”. Ya ngobrol gitu lhooo ngobrol.

Okelah di angkot mah gak pada kenal yekan, pas reunian dah. Siklus yang terjadi adalah datang, makan, ngobrol, terus abis makan buka medsos lagi, terus foto-foto, buka medsos lagi. Ngapain reunian kalau cuma numpang makan?

Penggunaan media sosial pada akhirnya membuat banyak orang terjebak di dunia tidak nyata. Mereka mengabaikan orang sekitar bahkan dan lebih peduli keberadaan followers yang mungkin sebenarnya gak akan bantu juga waktu kamu kepeleset kulit pisang pas live instagram. Bisa dikatakan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh (banget).

Kita jadi lebih tahu Lucinta Luna kejedot pintu ampe mukanya bonyok daripada teman sakit dirawat di rumah sakit. Kita jadi lebih tahu pawai obor di Mesir daripada pawai di depan rumah. Jadi pembaca, tolong lihat disamping Anda sekarang, lihatlah mereka yang tampak nyata disekitarmu dan peduli keberadaanmu. Eh maksudnya ini bukan pas lagi jalan di tengah kuburan juga. Hehehe

Ansos : Anti Sosial

Medsos : Media Sosial

Leave a Comment

Your email address will not be published.

19 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like