Sekte Baru di Indonesia

By

Zagat perzilatan di dunia maya yang fatamorgana zemakin hari zemakin panazzz. Kepanasan ini terjadi sejak Pilkada DKI yang meributkan pemimpin muslim dan non muslim. Kemudian, terus berlanjut hingga perdebatan hastag #tetappresiden #gantipresiden #tetappemilu , iyalaaaaaah tetap pemilu.

Belum selesai sampai disitu, pendaftaran calon presiden pun semakin membuat dunia maya panas. Akun-akun buzzer pembela calon A dan B mulai bermunculan dari yang 5 followers dengan 126354 Following hingga 0 followers 0 following. Belum lagi fan page provokasi di facebook yang membuat kita makin sulit membedakan mana yang hoax mana yang fakta. Hikmahnya adalah, kita semakin percaya bahwa kebenaran hanyalah milik Allah.

Republik ini kemudian terbagi dalam tiga sekte besar media sosial yang diukur dari tingkat receh. Twitter memiliki nilai humoris tertinggi saat ini. Semua joke-joke hingga twitwor di Twitter selalu berhasil membuat pembacanya tertawa. Candaan diobral semurah-murahnya sehingga pembicaraan politik ditengah candaan hanya akan menjadi bully-an yang juga penuh tawa. “Ye, bisa aja asbak firaun” atau “Nih ngapa dah upil hulk nongol disini”. Tawa mendominasi komentar dan thread post viral di Twitter. Serius dan maha benar sulit untuk bisa jadi trending Topik. Gak percaya? Cek aja akun Fadli Zon atau Budiman Sujatmiko. Rasanya dunia terlalu sayang jika hanya dilewatkan dengan obrolan politik nyindir kubu sebelah.

Dibawah Twitter, ada instagram dengan recehan tawanya sebanding dengan keseriusan politik. Keseriusan politik ini banyak juga didominasi oleh anak alay dan ibu-ibu, belum lagi kaum-kaum tertentu maha benar. Ibu-ibu dan anak alay ini uniknya, juga hadir bukan hanya di post politik saja, tapi juga post yang mengundang hujatan. Sedangkan recehan tawa instagram biasanya didapatkan di post-post lucu. Jika twitter akan merecehkan segala post, sedangkan instagram receh karena post itu sendiri.

Facebook menjadi sekte terseram saat ini. Emak-emak instagram yang juga punya facebook, aktif secara penuh di dua platform ini. Jika di Instagram mereka menghujat (selain juga post foto selfie yang banjirin timeline), sedangkan di facebook mereka memegang kendali kebenaran! Dahsyat pokoknya. Mereka mengatakan benar hanya kepada dukungan mereka. Ketika tokoh A misalnya sempat menyinggung tokoh idola mereka nan ganteng dan rupawan hartawan seiman, mereka langsung ramai-ramai mengatakan bahwa tokoh A adalah mengingkari kebenaran. Keren kan? Kendali kebenaran di Indonesia hanya ada pada pemilik akun facebook!

Jadi gengs, pilihan ada ditanganmu. Mau masuk sekte manakah kamu? Apapun sektemu, minumnya teh b*t*l s*sr*.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like