Serial Angin Bercerita : Kisah Sekumpulan Landak (2)

By

Sekumpulan landak yang sedang menghadapi musim dingin yang ekstrim membuat mereka memutuskan untuk tinggal secara berkelompok di dalam sebuah gua, agar tetap hangat. Mereka mendekatkan diri satu sama lain. Namun ketika mereka berdekatan, duri-duri mereka itu sedikit banyak juga melukai teman-teman terdekat mereka.

Mereka harus siap  menerima duri-duri temannya, atau jika tidak mereka akan mati! Sebuah pilihan yang bijaksana. Daripada mati kedinginan mereka rela menahan sedikit sakit karena duri teman-temannya. Begitulah Allah SWT mengilhamkan cara bertahan hidup kepada para landak itu.

Secara bijaksana, mereka belajar untuk hidup dengan luka-luka kecil akibat jarak yang sangat dekat dengan sahabat-sahabatnya supaya dapat merasakan kehangatan. Cara inilah yang membuat mereka akhirnya selamat dan bisa bertahan hidup.

Suatu sore di jalanan kota yang sedang padat dan cenderung macet lalu lintasnya, terjadi sebuah insiden kecil. Sebuah motor menyerempet sedikit bagian depan sebuah mobil yang tergolong mobil mahal. Sesuatu yang sebenarnya wajar terjadi sesekali sebagai konsekwensi padatnya lalu lintas atau di tengah kemacetan.

Pemilik mobil yang tersenggol itu tidak terima dan berusaha menghentikan si pengemudi motor. Lalu terjadilah adu mulut antara pemilik mobil dan pengemudi motor. Si pemilik mobil marah-marah dan minta ganti rugi kepada pengemudi motor. Pengemudi motor juga tidak kalah sengit membela diri karena ia menganggap mobil itu tetap bergerak ketika ia sudah pada posisi hendak mendahului.

Mereka berdua sama-sama ngotot. Pengemudi motor bersikukuh tidak mau mengganti rugi karena itu kesalahan mobil yang diperkuat dengan kata-kata’ “ kalau nggak mau mobilnya tergores ya nggak usah naik mobil, naik angkutan umum aja. Dasar orang kaya sombong. Namanya di jalanan ya begini resikonya”.

Kedua orang itu asyik dengan pertengkarannya yang tanpa disadari menyebabkan kemacetan yang lebih parah karena dilakukan di jalan. Mereka tidak sadar hanya karena ego mereka masing-masing, orang lain menjadi korban. Meskipun pada akhirnya sama-sama pergi meninggalkan tempat itu, tetapi menyisakan kedongkolan dan sedikit kemarahan orang-orang di sekitarnya.

Inilah salah satu bentuk tidak mau menanggung sedikit kesakitan demi kepentingan bersama. Menahan ego dan berlapang dada agar tidak menimbulkan kemacetan yang lebih parah. Seharusnya kedua orang itu meniru apa yang dilakukan oleh sekumpulan landak di tengah musim dingin yang ekstrim.

Seringkali manusia ketika menuruti egonya, lupa akan dampaknya pada orang lain di sekitarnya. Padahal manusia itu hidup selalu berdampingan dan saling tergantung dengan manusia lainnya.

Manusia berbeda dengan diriku yang merupakan unsur alam yang memiliki sifat yang berubah-ubah sesuai dengan area yang kulewati. Aku akan berubah menjadi angin topan, angin badai, angin yang dingin, angin kering, dan lain-lain sesuai dengan kondisi alam yang kulewati tanpa adanya pilihan yang bisa kubuat. Kadang aku dirindukan, tapi kadang juga aku dibenci. Dan itu adalah sunnatullah yang berlaku atas diriku.

Berbeda dengan manusia yang punya akal dan daya rekayasa. Mereka bisa memilih untuk menjadi solusi atau menambah masalah bagi lingkungan di sekitarnya. Alangkah elok jika seorang manusia bisa menjadi solusi bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya, bukan malah menjadi tambahan masalah di lingkungannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

18 + 9 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like